Harga Gas Mahal, Dirjen Migas Tutup Mata Saja…

Trader-Gas2

MEDAN, (tubasmedia.com) – Tingginya harga gas industri saat ini disebabkan dua pihak pengelola gas bumi menaikkan harga. Selain itu, adanya pembiaran oleh pemerintah saat dua pihak pengelola itu menaikan harga gas.

“Seperti diketahui, gas dari Pertamina EP di Pangkalan Susu sudah lebih 20 tahun. Recovery cost-nya dulu paling lebih kurang US$ 1per mmbtu. Kenapa bisa naik naik terus harganya,” kata Wakil Ketua Apindo Sumut Johan Brien, kemarin.

Dia juga mengatakan, harga tinggi saat ini disebabkan PT PGN terus naikan harga ke industri dan Pertamina (Pertamina EP dan Pertagas) tidak mau terima kenaikan sepihak oleh PGN. Sehingga harga gas terus naik tidak terkendali tanpa kontrol pemerintah sama sekali.

“Kalau recovery cost balik ke angka yang lama, maka pasti harga gas sumut tidak tertinggi di dunia. Waktu gas Arun masuk maka harga gas asal Pertamina EP juga dinaikkan PGN sepihak dari US$ 8, 7 per mmbtu naik jadi US$ 14 per mmbtu. Alasan PGN bahwa gas Pangkalan Susu dan Benggala akhir 2015 habis decline dan ternyata sampai sekarang tetap ada gasnya. Tapi Dirjen Migas tutup mata saja,” ujarnya.

Dia menjelaskan, harusnya pemerintah menghitung kembali kewajaran kenaikan harga gas industri sumut sejak Agustus 2015. Dan merestitusi kelebihan bayar industri. Belum lagi surcharge yang dibayar 150% dari harga normal atas kelebihan pemakaian gas dari kontrak.

Di tempat terpisah, Sales Area Head PT PGN Medan Saeful Hadi mengatakan bahwa pihaknya mengikuti regulasi yang diterapkan oleh pemerintah. Apalagi, mengenai proses penurunan harga gas itu harus dilakukan melalui usulan permohonan ke Kemenperin.

Mengenai teknis penurunan harga gas nantinya juga, jelas Saeful akan mengikuti sistem harga dengan cara repaid atau klaim. “Jadi, nanti jika permohonan yang mereka (pelaku industri-red) disetujui pemerintah. Maka kita akan menerapkan sistem berapa selisih yang sudah dibayarkan industri akan dijadikan deposit untuk tagihan di bulan berikutnya atau dipulangkan secara cash dari selisih harga yang diturunkan tersebut,” jelasnya. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar