Harga Minyak Dunia Turun, Seharusnya di Indonesia Juga Turun

harga-bbm-1222

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai penurunan harga minyak dunia seharusnya juga turut menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di masyarakat. Hal itu harus dilakukan oleh PT Pertamina (persero) sebagai penyalur BBM pelat merah.

Anggota BPK, Achsanul Kosasih mengatakan, dengan harga minyak dunia yang rendah, seharusnya ini bisa menjadi pertimbangan Pertamina untuk menekan lagi harga BBM, agar juga bisa mendorong ekonomi masyarakat.

“Dengan harga minyak yang turun ini, memang disatu sisi, Pertamina sangat diuntungkan ya. Apalagi untungnya juga besar. Seharusnya masih bisa turun lagi untuk BBM-nya. Agar masyarakat bisa turut menikmati,” kata Achsanul dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Jumat (30/9/2016).

Berdasarkan laporan keuangan Pertamina di semester I 2016, keuntungan Pertamina dari penjualan BBM subsidi mencapai Rp 8,3 triliun. Hal itu dinilai sangat besar untuk kondisi harga minyak dunia yang masih fluktuatif bahkan cenderung rendah.

“Tidak sepantasnya Pertamina menangguk untung besar dari jualan BBM bersubsidi sehingga rakyat yang harus membayar mahal,” lanjut Achsanul.

Sebelumnya dalam laporan keuangan di semester I 2016, Pertamina meraih untung hingga US$ 755 juta setara dengan Rp 9,81 triliun (asumsi rupiah Rp 13.000 per dollar AS).

Keuntungan didapat dari pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) dan penugasan (kerosene, LPG 3 kg, solar dan premium non-Jamali).

Rinciannya, keuntungan dari penjualan BBM PSO dan penugasan mencapai US$ 637 juta atau sekitar Rp 8,3 triliun. Lalu dari LPG 3 kg sebesar US$ 117 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun.

Laba usaha BBM PSO ini ternyata 449,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama di 2015.

Tingginya kenaikan laba ini disebabkan oleh rendahnya biaya produk sejalan dengan penurunan harga MOPS (Mid Oils Platts Singapore) dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang merupakan komponen pembentuk biaya produk.

Realisasi ICP di semester I 2016 hanya US$ 36,16/ barel, jauh di bawah RKAP Pertamina sebesar US$ 50/barel.

Maka dengan modal harga minyak yang rendah dan menjual BBM dan LPG subsidi di harga tinggi, Pertamina mampu mengantongi EBITDA sebesar US$ 4,1 miliar dengan EBITDA margin 23,9 persen atau 128 persen dari RKAP yang dirancang perusahaan. Sementara laba bersihnya mencapai US$ 1,83 miliar atau 113 persen lebih tinggi dari RKAP perseroan. (red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar