Harusnya Rumput Laut Dikenakan Bea Keluar

270115-ekbis

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, Ditjen Industri Agro, Abdul Rochim mengatakan, Indonesia sebagai penghasil rumput laut terbesar di seluruh dunia, seharusnya tampil sebagai pengelola rumput laut ternama.

Hal itu diutarakan Rochim kepada pers saat bertamu di ruang kerjanya, Selasa. Katanya,produksi rumput laut di seluruh dunia, hanya tercatat 370.000 ton setiap tahun sementara Indonesia menghasilkan 240.000 ton per tahun.

Dari angka itu, Indonesia hanya mengolahnya sekitar 176.000 ton dan sisanya diekspor. ‘’Ke China dan Philipina,’’ katanya.

Rumput laut menurutnya bisa dijadikan menjadi komoditi laut unggulan. Hanya saja, penangangannya secara administratif belum sempurna belum sesempurna kakao yang telah dikenai bea keluar (BK).

Rumput laut, lanjutnya seharusnya diberlakukan seperti kakao yang dikenai BK sehingga pengusaha lebih mementingkan kebutuhan lokal ketimbang mengekspor. ‘’Sejak diberlakukan BK kakao, industri pengolah kakao di dalam negeri tidak lagi kewalahan mencari bahan baku,’’ katanya.

Ditambahkan, jika pemerintah memberlakukan BK terhadap ekspor rumput laut, di Indonesia akan tumbuh banyak industri pengolah rumput laut. ‘’Ya, itu benar. Jika rumput laut dikenai BK, sudah banyak investor yang antri mau menanam modalnya di Indonesia untuk mengolah rumput laut,’’ jelas Rochim.

Rochim tidak setuju jika keran ekspor rumput laut ditutup. ‘’Tetap saja dibuka tapi dikenakan bea keluar,’’ lanjutnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar