Hati-hati Beli BBM Subsidi, Bisa Ditangkap Polisi…

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

ANEH bin membingungkan hidup di negeri yang ekonominya tumbuh 6 persen lebih, PDB-nya sudah mencapai Rp 7247 triliun dan pendapatan per kapitannya per tahun Rp 30 juta tapi beli BBM dibikin susah.

Kalau zaman malaise layaklah. Masak harus ada dipasang stiker supaya tidak beli BBM bersubsidi. Dijagain lagi dan kalau ketahuan yang dibeli bukan BBM non subsidi, si pembeli akan “ditilang”. Nah kalau terjadi denda damai, kados pundi, kepriben, kata orang Tegal. Pek jigo bereslah urusan beli BBM di SPBU.

Cita-cita para pemimpin negeri ini luhur, ambisius mau bikin MP3EI, mau bangun Kawasan Ekonomi Khusus, ingin dihargai bangsa lain, sampai tega beri grasi ratu ganja. Eeh.. eeh, mau beli BBM saja mesti dipasangin stiker. Opo tumon, malu ah. Tapi ya sudah, nanti dibilangin ngeledek lagi. Mudah-mudaha tidak dituduh subversi atau tukang kompor. Maafin ya kalau ada sale-sale kita.

Sebagai rakyat, soal hemat menghemat sudah biasa dan paham betul alias gak usah diajarin. Kalau lagi nggak punya doku ya siap nggak merokok dan kalau nggak bisa beli gula, kopi dan teh, ya minum air putih saja cukup. Lagian kata dokter, banyak minum air putih menyehatkan.

Rakyat lebih setuju kalau harga BBM naik, asal sekolah 12 tahun benar-benar gratis. Golongan tidak mampu juga kalau berobat ke rumah sakit digratiskan saja tapi pelayanannya prima dan tidak dicemberutin.

Di Universitas Pamulang, belanja kuliah per mahasiswa per tahun hanya Rp 1,8 juta atau per semester hanya Rp 900 ribu. Tapi menurut standar Dikti Kemendikbud, belanja per mahasiswa per tahun, 10 kali lipatnya yaitu Rp 18 juta. Wah bedanya antara bumi dan langit ya. Jangan ada yang “dikorupsi”, penuh curiga pertanyaannya.

Sekali lagi tidak ada niat mau menuduh. Yang pasti kita mau, korupsi diberantas saja tanpa pandang bulu. Siapa-pun itu yang korupsi, apakah pejabat, anak pejabat, istri pejabat, suami pejabat dari erte sampai presiden, harus dibasmi. Jangan hanya berucap dan dengan mata melotot “Katakan Tidak”, tapi kenyataannya “emboh ora weruh”, ujar saudara-sudara kita di desa-desa di Jawa Tengah sana.

Rasanya kalau disuruh milih harga BBM naik atau pelaku kejahatan korupsi ditindak tanpa pandang bulu dan kalau terbukti diganjar hukuman berat, pasti rakyat akan setuju BBM dinaikkan.

Negeri ini susah, karena korupsi bukan soal subsidi. Negeri ini tak mampu bayar subsidi karena boros. Ini pikiran dan curhatnya wong cilik. Mudah-mudahan wong gede lan duwur pangkate dan jabatane podo ngerteni, lan podo siuman dan sadar bahwa pasti ada yang salah ngurus negeri ini. Maaf bapake. Semoga kehidupan kita semua menjadi lebih baik dan lebih mulia.Yang sudah ya sudah dan salah segera diperbaiki. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar