Hati-hati Berunding dengan Bangladesh

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Direktur Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin, Elis Masitoh, mengatakan kita perlu sangat hati-hati melakukan negosiasi dengan Bangladesh. Pasalnya, salah dikit saja, industri tekstil dan garmen kita bisa berantakan.

Hal itu dikatakan Elis kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin menanggapi perundingan Indonesia-Bangladesh Preferential Trade Agreement (PTA), khususnya terkait industri tekstil karena kedua negara merupakan kompetitor bagi satu sama lain di pasar ekspor.

Elis menambahkan pihaknya telah melakukan peninjauan terhadap naskah perjanjian Indonesia-Bangladesh PTA. Elis menyoroti 133 HS code yang akan membanjiri pasar Indonesia dimana semuanya merupakan pakaian jadi yang banyak dikerjakan oleh IKM di dalam negeri.

“Pasar di dalam negeri banyak sekali IKM. Kami sudah menyisir HS mana yang menjadi pertahanan Indonesia,” kata Elis.

Indonesia-Bangladesh PTA belum disahkan, tetapi diperkirakan mengerucut pada tahun ini setelah melalui negosiasi sejak 2018. Di sisi lain, industri tekstil mencatatkan pencapaian substitusi impor tertinggi pada tahun lalu di antara sektor-sektor di bawah IKFT, yakni di angka 18,5 persen.

Namun, angka tersebut masih di bawah target 2021 sebesar 22 persen. Tahun ini, substitusi impor ditargetkan 35 persen. Elis mengatakan sektor pakaian jadi menjadi salah satu yang mencapai nilai substitusi impor tertinggi di atas 35 persen, diikuti produk tekstil lainnya dan alas kaki. Adapun, sektor IKFT berkontribusi 60 persen terhadap total target capaian substitusi impor seluruh industri.

Bangladesh katanya adalah negara pengimpor kedua terbesar dunia setelah Cina. Apalagi produk garmen mereka sangat berdaya saing disebabkan di negara tersebut segalanya murah termasuk tenaga kerja dan energi.

Untuk menghadapi membanjirnya nanti produk garmen mereka di pasar Indonesia, kata Elis, produk kita butuh perlindungan dan harus diprotek beruipa tataniaga atau SNI.

‘’Kasihan nanti industri garmen dan tekstil kita yang sedang menggeliat, kalau digempur garmen Bangladesh,’’ jelasnya. (sabar)

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait