Hati-hati Modus Penipuan Telepon Tengah Malam

Oleh: Anthon P Sinaga

ilustrasi

AKHIR-akhir ini modus kejahatan dengan cara penipuan semakin sering terjadi. Terutama bagi orangtua yang anaknya sering pulang kerja malam hari, akan mudah tertipu karena dibuat panik oleh komplotan penjahat.

Pengalaman seorang orangtua kepada media Tunas Bangsa mengutarakan, bagaimana paniknya dibangunkan lewat tengah malam sekitar pukul 01.30 wib ketika menerima telepon bahwa anaknya ditangkap polisi karena di kantongnya terdapat 0,5 gram narkoba. Sambil memperdengarkan isak tangis anak yang disebut sebagai korban tangkapan, orang yang mengaku petugas menawarkan apa orangtua mau menyediakan sejumlah uang agar anaknya diantar ke rumah, atau langsung dibawa ke Polda untuk dijebloskan ke penjara.

Dengan gertak suara keras sambil menyuruh diam si korban, yang mengaku petugas meminta tawarannya segera dijawab mau atau tidak, karena waktu negosiasi sangat singkat. Ia minta telepon terus diangkat jangan diputus. Isak tangis sang anak seperti di bawah ancaman senjata api, sengaja diperdengarkan dengan mengiba-iba agar orangtuanya berusaha memenuhi tawaran tersebut. “Hei kau diam, ini otangtuamu tengah dihubungi. Kalau tidak mau diam, kau kutembak,” gertaknya dengan kasar, sehingga membuat orangtua semakin panik.

Semula, yang mengaku petugas ini menyebut uang “damai” Rp 35 juta, kemudian diturunkan menjadi Rp 25 juta. Bila orangtua siap, agar uangnya segera ditransfer ke rekening atasannya dengan menyebutkan nomor dan atas nama. Untuk rekening Bank BRI dengan nomor 338201002676509 atas nama I dan untuk rekening Bank Mandiri nomor 1310012072569 atas nama AP. Ia minta nomor telepon HP untuk mengganti hubungan telepon rumah. “Waktunya singkat, segera transfer ke ATM dan jangan beritahu siapa-siapa. Kami akan ikuti prosesnya lewat HP,” ia menggertak sambil memperdengarkan sang anak yang terus menangis mengiba-iba.

Berhubung sang orangtua tidak memiliki saldo bank sebanyak itu, maka malam itu ia minta tolong ke putrinya agar mentransfer uang ke salah satu rekening tersebut. Sang putri curiga, lalu menelepon anak yang disebut sebagai korban tangkapan. Ternyata anak dimaksud kaget, karena ia tengah tertidur di rumahnya dan tidak terjadi apa-apa. Akhirnya hubungan telepon dengan yang mengaku petugas diputus, dan penipuan pun kandas, dengan dering telepon rumah dan HP yang sengaja dibiarkan terus menerus hingga menjelang pagi, agar penipu kapok.

Selain penipuan dengan modus narkoba, ada juga yang melaporkan penipuan dengan modus mendapat hadiah mobil dari PT Telkom sebagai pelanggan telepon rumah yang setia. “Anda salah satu dari 10 hasil undian mendapatkan hadiah mobil sebagai pelanggan telepon rumah yang setia. Hubungi pimpinan kami, nama anu di lantai anu pada nomor telepon ini !”

Setelah nama yang disebut dihubungi, dengan suara berlagak pimpinan, membenarkan pemberitahuan bawahannya itu dan menyuruh agar mentransfer sejumlah uang untuk pengganti pajak dan biaya administrasi surat-surat.

Namun, modus penipuan tercium, karena pimpinan tersebut menolak calon penerima hadiah menghadap langsung ke ruang kerjanya, dan membawa apa saja yang dipersyaratkan. Setelah dicek ke bagian penerangan PT Telkom, ternyata tidak melakukan undian hadiah mobil bagi pelanggannya. “Jangan dilayani. Itu penipuan,” katanya.

Modus lain ada lagi penipuan dengan cara menawarkan jodoh. Bagi keluarga yang mempunyai beberapa putri lajang tua yang yang belum menikah, menjadi sasaran empuk bagi modus penipuan jenis ini.

Seorang laki-laki menelepon keluarga sasaran, seolah-olah menaruh simpati untuk mencarikan jodoh bagi putrinya. Calon yang dijodohkan umumnya pria dokter yang sedang menjalani kerja praktek atau pegawai tidak tetap (PTT) di pedalaman suatu kepulauan yang jauh. Kini sudah habis praktek PTT, dan akan menempuh studi dokter spesialis di Jakarta.

Kebetulan keluarga sasaran dari etnis Batak, maka si penelepon ini mengaku satu marga dengan keluarga tersebut. Si penelepon mengaku hanya sebagai perantara dan meminta nomor HP putri keluarga bersangkutan agar bisa langsung dihubungi oleh calon jodohnya.

Dalam komunikasi kemudian, calon jodoh yang mengaku dokter PTT meyakinkan sang putri, dan mengungkapkan kesulitannya. Ia meminta sang putri mentransfer sejumlah uang yang akan digunakan untuk datang ke Jakarta guna mengurus studi spesialisnya. Rupanya sang putri termakan bujuk rayu, sehingga permintaan uang pun dipenuhi. Ternyata setelah ditunggu-tunggu berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, sang pria idaman tak kunjung tiba. Berhasillah penipuannya. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar