Hidden Agenda, Shadow Power Ekonomi Bisnis

Oleh; Fauzi Aziz

 

PERTAMA, judul ini merupakan satu rangkaian peristiwa yang tetap menarik untuk dikulik karena ingin tahu apa yang ada di balik itu. Agenda tersembunyi (hidden agenda) adalah hal biasa yang sering dilakukan dalam berkehidupan di bidang apapun dan di manapun. Kekuatan bayangan

(shadow power) pun adalah juga yang umum dilakulan dalam lakon berkehidupan di bidang apa saja dan bisa dilakukan dimana saja untuk mencapai tujuan tertentu. Tentang ekonomi, penulis sederhanakan kisahnya, yakni bertutur kata tentang creat of value added. Sedangkan bisnis adalah bertutur kata tentang asyiknya creat of income and profit.

KEDUA, dalam reality show semua konsep tadi hidup dan terus dihidup-hidupkan karena kita ingin hidup. Urip iku urup ( ungkapan Jawa yang bermakna bahwa berkehidupan itu adalah hidup seperti api yang tidak pernah padam sebagai sumber energi). Berekonomi dan berbisnis adalah langkahnya. Sedang hidden agenda tidak lain adalah rencana kerjanya, dan shadow power adalah cara kerjanya. Ini yang secara subyektif yang penulis fahami. Boleh jadi tidak tepat benar cara menjelaskannya.

KETIGA, Shadow power pada dasarnya kekuatan bayangan yang memilki hidden agenda untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan ekonomi untuk melancarkan urusan bisnis yang dijalankan  seseorang atau sekelompok orang untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan mereka. Hidden agenda adalah tidak tersurat secara eksplisit, tapi lebih tersirat secara implisit ketika pemerintah telah menetapkannya dalam produk kebijakan.

KEEMPAT, mengapa hidden agenda dan shadow power selalu ada dalam khasanah political economy for policy making. Jawabannya hanya satu, yakni kepentingan. Dalam sejarah kapitalisme masa lalu, kita dapat baca betapa keluarga Rothschild mempunyai hidden agenda dan shadow power untuk merebut tampuk kekuasaan. Mereka mengumpulkan kekayaan bukan hanya untuk bermewah-mewahan. Lebih dari itu, mereka mengumpulkan uang agar bisa mengendalikan para penguasa di berbagai negara di dunia.

Kekuasaan inilah yang pada akhirnya akan membantu mereka untuk menguasai dunia. Contoh ini jelas, yakni ada hidden agenda dan mereka juga menggunakan shadow power untuk mengendalikan para penguasa. Di abad modern- pun  praktek semacam itu juga terjadi. Pemerintahan bisa “dilumpuhkan” oleh praktek shadow power, terutama yang dilakukan oleh kelompok intervensionis, dan kelompok crony capitalist yang dapat mempengaruhi pembuat kebijakan ekonomi untuk melindungi kepentingan bisnisnya.

KELIMA, pertanyaannya apakah hidden agenda dan shadow power merupakan sesuatu yang “buruk”.Penulis ingin mengatakan bahwa sejatinya itu tidak buruk. Alasannya karena : 1) sentimen positif dalam kerangka berpikir bahwa hidden agenda dan shadow power adalah bagian dari strategi untuk mencapai tujuan. 2) Dalam setiap pembuatan kebijakan, umumnya selalu ada tujuan yang ingin dicapai secara tersurat dan ada yang tersirat. 3) Peran teknokrat yang bekerja di luar struktur kekuasaan dapat berperan sebagai shadow power yang banyak memberikan rekomendasi kebijakan ekonomi. Contoh CSIS dan lembaga sejenis yang kredibel. Yang berasal dari luar kita sebut saja misalnya Boston Institute atau Harvard Institute dan sebagainya. Mereka adalah semacam lembaga think tank atau semacam Economic Research Institute.

KEENAM, jadi dalam kerangka mewujudkan sebuah kebijakan ekonomi yang kredibel untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis, pemerintah manapun selalu mempunyai hidden agenda dan bisa menggunakan peran teknokrat di luar struktur yang bereputasi baik sebagai shadow power yang bisa memberikan berbagai pemikiran untuk dikembangkan menjadi produk kebijakan ekonomi. Mereka mampu melakukan research based policy sebagai penunjang dalam pembuatan kebijakan. Namun dapat dicatat bahwa  shadow power semacam ini juga ada yang berada di dalam struktur pemerintahan. Contoh BKF di lingkungan Kementrian Keuangan RI.

KETUJUH, yang justru selalu menarik perhatian publik adalah shadow power yang dilakukan oleh kelompok interventionis dan kelompok crony capitalist yang mempunyai hidden agenda untuk melindungi kepentingan bisnisnya, dan cenderung selalu minta perlakuan khusus yang biasanya mereka sisipkan pada satu atau beberapa produk kebijakan ekonomi yang bisa tertuang dalam undang-undang atau peraturan turunannya.

Hal semacam ini yang merisaukan, dan karena Dr Milton Friedman , peraih  nobel ekonomi 1976 mengingatkan bahwa jika perilaku tersebut dibiarkan, pemerintahan bisa lumpuh, dan isu ketidakadilan akan semakin melebar. Banyak juga yang mengkhawatirkan terjadinya  KKN karena faktor pemerintahan yang lemah (soft state). Bisa menjurus ke kondisi paling buruk, yaitu terjadinya “kejahatan korporatokrasi”, dimana disitu economic hit man gentayangan dengan leluasa. Contoh paling nyata adalah kasus korupsi ekspor benur, dan korupsi dana Bansos. Sebab itu, lingkaran kebijakan harus steril dari para pemburu rente dan economic hit man. Mereka ini bisa  “memutilasi” kebijakan ekonomi agar lebih mementingkan keuntungan perusahaannya dari kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah. Inilah barangkali Adam Smith berpikir bahwa campur tangan pemerintah dalam sistem ekonomi pasar harus seminimal mungkin. Alasannya karena campur tangan bisa membuat ekonomi dan kompetisi berjalan tidak optimal.

Dan ekonomi toh pasti akan selalu mendapatkan keseimbangannya karena ada invisible hand. Tapi sayangnya invisible hand yang hidup di zaman edan adalah para pemburu rente dan economic hit man. Dan jika sudah begini, maka apa yang terjadi adalah moral Hazzard. Moral Hazzard maksudnya adalah semacam peluang pelanggaran besar yang hanya bisa dikontrol oleh moralitas individu itu sendiri. Jika terbukti terjadi maka penegak hukum akan datang menjemput atas nama kebenaran dan keadilan. Salam sehat. (penulis pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

 

.

Berita Terkait

Komentar

Komentar