Home Sweet Home

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

UNGKAPAN ini memberikan gambaran kepada kita bahwa rumah tempat kita tinggal sesederhana apapun bentuknya harus dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman dan menjadi tempat berlindung yang aman dan menghangatkan bagi seluruh penghuninya.

Rumah baru, rumah idaman dan rumah masa depan dengan landscape dan arsitektur yang mengandung nilai estetika yang indah dan agung, hakekatnya juga sama fungsinya, yaitu agar para penghuni rumah tersebut mendapatkan kenyamanan, keamanan dan kehangatan dalam rumah tangganya.

Kalau ungkapan home sweet home kita adopsi sebagai konsep keindonesiaan masa depan, maka Indonesia sebagai sebuah negara pada dasarnya juga dapat kita anggap sebagai rumah masa depan kita. Landscape dan arsitekturnya harus dapat memenuhi kebutuhan kita, yaitu bahwa rumah kita Indonesia harus dapat menjadi tempat kita berlindung yang hangat, aman dan nyaman.

Kita lihat Singapura yang paling menyenangkan adalah jalan-jalan santai di sepanjang jalan Orchard Road yang rapi rindang dengan udara yang bersih dan segar apalagi sesudah hujan turun, nikmat sekali rasanya. Padahal Singapura adalah juga negara tropis seperti Indonesia yang hanya kenal dua musim, yaitu musim panas dan hujan.

Singapura memang beruntung karena Lee Kuan Yew pernah mengatakan bahwa landscape kota yang karut marut dan hutan beton akan merusak jiwa manusia. Kita perlu penghijauan untuk menyegarkan jiwa kita. Inilah cara Lee Kuan Yew Perdana menteri Singapura kala itu membangun rumah masa depannya yang minimalis tapi menjadi tempat berlindung yang menghangatkan dan membuat nyaman dan aman bagi warga maupun “tamu”-nya.

Bahkan tamu-tamu yang datang juga merasakan kenikmatan dan kenyamanan ketika datang berkunjung ke Singapura baik sebagai turis maupun sebagai expatriat. Kita rindu dengan suasana kehidupan yang seperti itu. Kita sebagai warga Indonesia membutuhkan juga tempat berlindung yang dapat menghangatkan kehidupan kita dan memberikan rasa aman dan nyaman sebagai warga negara.

Ini adalah kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan. Kita tidak ingin hidup dalam suasana yang serba karut marut dan mengganggu aspek kejiwaan sehingga menimbulkan akibat hidup kita tidak tenang, gampang stres, mudah marah dan sakit-sakitan. Jujur, di antara kita yang hidup di rumah masa depan Indonesia sebenarnya tidak memerlukan kemewahan, glamour seperti yang terjadi di negara-negara barat.

Yang kita perlukan adalah hidup dalam suasana kedamaian dan keamananan. Kesejahteraan dan kemakmuran memang kita perlukan, tapi sejahtera dan makmur yang menghadirkan kedamaian dan ketentraman hidup. Kenyataan dan kepahitan hidup di rumah masa depan Indonesia sudah cukup lama kita alami sejak zaman penjajahan, yang seharusnya tidak kita alami dimasa sekarang.

Fakta berbicara lain bahwa saat sekarang pun kita masih karut marut dalam melandscape rumah masa depan kita Indonesia. Melandscape untuk menjadikan Indonesia sebagai Home Sweet Home bagi kita semua. Mungkinkah rumah masa depan Indonesia dapat menjadi Home Sweet Home? Mungkinkah Indonesia bisa kita jadikan sebagai hunian idaman, “Rumahku Sorgaku”?? Jawabannya harus bisa. Kalau tidak, kita tidak pernah akan memiliki rumah masa depan yang elok dan agung, nyaman, menyejukkan dan aman yang membuat kita semua betah tinggal di dalamnya.

Aku ingin hidup seribu tahun lagi,aku ingin tinggal lebih lama di rumahku yang kita sayangi bersama. Aku tak mau dan tak rela jiwaku terganggu karena hanya tembok-tembok beton keras yang kupandangi saban hari sehingga tensiku naik tidak beraturan. Aku hanya ingin menjadi penghuni rumah masa depan Indonesia yang sehat jasmani maupun rohani. Rasa-rasanya kalau lembaga survei mau melakukan tugas ini, para respondennya pasti akan memberikan jawaban yang serempak bahwa mereka pasti memerlukan rumah kita Indonesia yang gemah ripah tototentrem kartoraharjo.

Kalau bukan ini jawabannya, berarti mereka dapat digolongkan ke dalam warga/penghuni yang jiwanya mulai terganggu. Mewujudkan impian ini harus menjadi komitmen kita semua karena hal ini menyangkut kepentingan kita bersama. Cita-cita untuk membangun peradaban baru, gaya hidup baru yang lebih pro kepada alam, pro kepada keseimbangan lingkungan, pro kepada hidup yang seimbang lahir dan batin serta hidup yang lebih damai dan sejahtera adalah sebuah sikap hidup kita bersama yang harus kita bangun dan kita mulai bersama pula.

Pak RT di kampung, Pak Lurah di desa, Pak Camat, Pak Bupati/Walikota dan Pak Gubernur di Propinsi serta Pak Presiden, Pak Ketua MPR, DPD dan DPR, para tokoh masyarakat/agama dan para cendekiawan, sepantasnya menjadi inspirator dan penggerak membangun Rumah Masa Depan Indonesia yang damai dan sejahtera, yang Home Sweet Home.

Mari kita tinggalkan kebiasaan buruk kita yang mudah marah, mudah grasa-grusu, curhat sana-sini membicarakan keburukan demi keburukan yang akhirnya tidak pernah menghasilkan kebaikan. Puasa Ramadhan 1432H saat ini mari kita jadikan momen kebangkitan nalar kita untuk menjadi orang Indonesia yang bermoral, suka kedamaian, kerukunan dan kebersamaan untuk membangun rumah masa depan Indonesia yang hijau, tempat kita berlindung yang sehat, aman dan nyaman. Home Sweet Home, Rumahku Surgaku. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar