Hope Manajemen

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

MEMANAJEMENI harapan begitulah kira-kira maknanya. Mudah-mudahan tidak salah. Hope – harapan, asa adalah sebuah kosa kata yang berkonten doa, zikir dan bisa pula ber-esensi sebuah perubahan. Jadi, hope itu sangat mulia, indah dan bermakna bagi sebuah proses kehidupan dan penghidupan.

Mulia , indah dan bermakna di sisi Tuhan, manusia dan kemanusiaan. Hope, harapan dan asa adalah sangat azasi, baik dalam kehidupan orang seorang maupun kehidupan kolektif, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu, hope bisa kita sebut sebagai salah satu bagian dari ranah hak azasi manusia, bahkan lebih jauh dari itu adalah hak azasinya alam, tumbuhan dan binatang yang ada di sekitar kita.

Ingin perbaikan pendidikan, kesehatan, perbaikan nasib, ingin hidup sejahtera, ingin mendapatkan pengakuan, hakekatnya adalah sebuah doa, zikir dan mendambakan apa disebut di atas tadi, hope. Tidak ada hope, harapan atau asa bernilai ke arah yang sebaliknya. Misalnya berharap negeri ini runtuh, atau ber asa agar anak kita menjadi orang bodoh dsb.

Harapan itu harus disertai dengan nilai kejujuran, ketulusan, kesabaran, keyakinan dan kesantunan. Jangan sebaliknya karena bisa menjadi tidak bersahabat dan tidak memiliki nilai tambah apa-apa.

Hope, harapan atau asa harus disertai usaha dengan penuh semangat dan optimisme. Apalah arti sebuah pengharapan kalau tidak disertai dengan usaha dan berkarya dengan melakukan hal-hal yang mendatangkan manfaat bukan mudlarat bagi kehidupan. Hope, harapan atau asa bisa disampaikan oleh siapapun, kepada siapapun yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kalau harapan itu kita sampaikan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti akan mendengarnya dan mencatatnya karena Tuhan adalah maha mendengar dan tidak membedakan siapapun yang memohon harapan tersebut. Yang pasti, Tuhan akan mengelola dan merespon harapan dan doa yang kita minta dan Tuhan pasti mengabulkannya sepanjang mendatangkan kemanfaatan bagi kehidupan.

Dengan begitu, harapan adalah sesuatu yang wajar dalam proses kehidupan. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, harapan dari rakyat kepada para pemimpinnya adalah hal yang jamak dan wajar disampaikan karena rakyat menghendaki agar bisa hidup layak dan sejahtera.

Harapanya itu sebenarnya tidak muluk-muluk tapi sederhana dan ringan-ringan saja. Karena itu para pemimpin wajib mendengarkannya, mencatat dan meresponnya dengan tindakan nyata sebagai bentuk kompensasinya. Tuhan saja mau melakukannya, mengapa kita tidak melakukannya.

Menjadi persoalan bagi para pemimpin manakala harapan yg dimohonkan oleh rakyat diabaikan dan dianggap angin lalu. Apalagi di balik itu ada tersembunyi perasaan curiga. “Paling harapan itu ada yang nyuruh, ada yang menunggangi dan ada kepentingan lain di balik itu”.

Kalau demikian responnya, maka sama saja menyuburkan bisul-bisul kecurigaan, ketidak percayaan rakyat kepaad para pemimpinnya yang bisa berujung kepada konflik dan tindakan kekerasan. Ini pasti tidak kita harapkan terjadi.

Karena itu hope, harapan atau asa dalam berbagai bentuk harus dikelola dengan baik dan termanajemeni sebaik baiknya, sebagaimana para pemimpin memanajemeni kebijakan makro ekonomi, khususnya oleh para pemimpin di lingkungan pemerintahan dimanapun.

Hope, harapan atau asa adalah realitas yang hidup dan terus berkembang di tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat juga tahu dan menyadari bahwa hampir pasti tidak semua harapannya dapat dipenuhi karena ada kesadaran bahwa keterbatasan pasti ada disana-sini untuk bisa direspon dengan sempurna oleh para pemimpin.

Tapi bisa menjadi celaka duabelas. Bisa menjadi tsunami manakala segala yang menjadi pengharapan rakyat kepada para pemimpinnya tidak satupun yang direspon apalagi direalisasikan dalam bentuk tindakan nyata. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi para pemimpin untuk senantiasa mendengar, mencatat dan merespon apa yang menjadi hope, harapan dan asa yang disampaikan rakyat kepaad para pemimpinnya dalam berbagai bentuk kebijakan dan progam yang dapat membawa terjadinya perubahan.

Dalam hukum ekonomi, ini hanya soal demand dan supply. Kalau demand-nya tinggi, dalam konteks ini berbentuk hope, sementara sisi supply-nya terbatas, maka pasti akan terjadi inflasi. Celaknya efek inflatoir yang terjadi adalah inflasi kemarahan, ketidak percayaan yang bersifat destruktif.

Ini adalah sebuah bencana kemanusiaan yang harus kita hindari dan kita cegah agar tidak terjadi. Jadi apapun alasan dan pertimbangannya, hope, harapan atau asa harus dikelola dan terkelola dengan baik dan bijaksana agar proses komunikasi antara rakyat dengan para pemimpinnya berjalan lancar, tidak ada sumbatan, agar kemanfaatan yang kita dapatkan dan bukan “kerusakan”.

Yang penting, hope tidak berlangsung satu arah tapi dua arah. Rakyat punya hope kepada para pemimpinnya. Sebaliknya juga para pemimpin memilki hope kepada rakyatnya. Maka dari itu hope harus dimanajemeni dengan baik. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar