Hujan dan Panas

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

HUJAN menghasilkan air, panas menghasilkan energi. Kalau keduanya digabung maka air dan panas adalah energi bagi kehidupan mahluk hidup di bumi, apakah dia manusia namanya, atau hewan dan tumbuhan. Karena keduanya adalah energi bagi kehidupan, maka air dan panas tersebut harus bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kehidupan dalam jangka waktu yang panjang.

Menjadi aneh manakala manusia terutama terhinggapi rasa cemas ketika musim hujan akan tiba. Demikian pula menjadi risau tatkala musim kemarau tak kunjung datang atau sebaliknya kalau musim kemarau itu berlangsung cukup lama. Sampai-sampai ketika seseorang sedang menyelenggarakan hajatan suka menolak datangnya hujan dengan meminta bantuan pawang. Menjadi kawatir lagi kalau kemudian air dan panas atau hujan dan panas dianggap sebagai musibah yang bisa menimbulkan kerusakan.

Di sisi yang lain, tadi sudah kita katakan bahwa air dan panas adalah energi yang sangat diperlukan sebagai energi kehidupan. Jika demikian, yang resek itu manusianya. Tidak pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita.Maunya enak sendiri tinggal menggunakan fasilitas yang disediakan Tuhan atau tinggal makan dan minum saja ibaratnya.

Padahal untuk urusan di bumi, Tuhan telah mendelegasikan kewenangannya kepada manusia untuk mengurus dan mengelolanya sendiri. Hal ini berarti kalau misalnya air itu berlebih sampai mendatangkan banjir maka pasti ada yang salah. Khusus untuk negeri kita Indonesia, Tuhan memberikan anugrah di mana lautnya lebih luas dari daratannya, artinya reservoir untuk menyimpan cadangan air jauh dari cukup.

Bahkan kalau curah hujannya tinggi sekalipun harusnya tidak perlu banjir itu terjadi di mana-mana, karena laut akan bisa menampung yang bertindak sebagai reservoir tadi. Panaspun yang bisa berlebih disaat musim kemarau yang panjang bisa disimpan juga sebagai sumber energi asal manusia tak malas untuk mengolahnya dan mengelolanya.

Tuhan memberikan akal kepada manusia tujuannya agar manusia dapat berbuat banyak untuk mengurus dan mengelola apa yang telah Beliau delegasikan kepada manusia di bumi berupa air, panas dan sumber daya alam lainnya. Jika kemudian mandat tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya dan menimbulkan dampak kerusakan dan kerugian bagi manusia, tanpa harus saling menyalahkan satu sama lain penyebabnya pasti karena salah kelola.

Banjir dan kemarau panjang terjadi karena salah kelola, akal sehatnya tidak didaya gunakan untuk menghasilkan hal-hal yang menguntungkan dan mendatangkan manfaat bagi kehidupan, tetapi malah sebaliknya, yaitu digunakan untuk kegiatan yang tidak produktif dan merugikan bagi kehidupan.

Ketika dunia sekarang ribut tentang krisis pangan dan energi, seharusnya negeri ini tidak perlu ikut-ikutan risau dan cemas, karena apa yang mereka ributkan di dunia, kita harus berani dengan jujur mengatakan bahwa Indonesia tidak akan kekurangan pangan dan energi karena persediaan kita cukup. Risau dan cemas itu terjadi karena kita malas mengembangkannya.

Cemas dan risau karena selama ini kita hanya pandai menggunakannya saja. Air hujan menjadi banjir karena kita gagal mengelolanya dan mengolahnya menjadi energi. Demikian pula panas matahari, panas bumi kita biarkan lewat begitu saja tanpa pernah kita mau peduli dengan sumber-sumber panas tersebut yang dapat kita gunakan sebagai energi.

Dikasih anugerah dan berkah Tuhan kok ditolak, pakai pawang lagi, aneh-aneh saja manusia itu, di satu sisi percaya adanya Tuhan, tapi disi yang lain sepertinya tidak mempercayai adanya Tuhan dan kehadiranNya di bumi. Paradoks sepertinya, tapi manusia yang mengatakannya kalau paradoks itu ada dan terjadi.

Manusia pulalah setiap paradoksal sering terjadi karena memang suka menciptakan diri dan lingkungannya menjadi serba paradoks karena kepentingannya bukan? Oleh karena itu, jangan pernah berujar tatkala musim penghujan datang, maka musibah banjir akan datang, wabah desentri kolera, gatal-gatal juga akan ikut menyertainya. Begitu pula, manakala musim kemarau tiba, manusia suka berujar pula musim paceklik, kemarau, semua tanaman akan mati dan hidup kita akan sulit lagi.

Begitu terus siklusnya, tapi celakanya manusia terus-terusan merusak alam dan di lingkungannya tanpa pernah mau berhenti dan diberhentikan. Akibat setiap datang musim hujan dan panas/kemarau selalu diidentikkan bahwa pada saat yang sama akan hadir musibah dan bencana ditengah-tengah kehidupan. Padahal air dan panas adalah energi bagi kehidupan.

Melihat ini semua barangkali Tuhan hanya tersenyum, tapi Tuhan pasti tidak pernah cemas dan risau seperti manusia yang diciptakannya, karena Tuhan telah memberikan satu jaminan bahwa kalau bumi, air, panas dan sumber daya alam lainnya digunakan secara bertanggungjawab dan dikelola dengan baik dan benar, maka kekayaan tadi akan cukup untuk memenuhi seluruh unsur hayati dan nabati yang diperlukan untuk menopang kehidupan manusia.

Tapi kalau sebaliknya hampir pasti musibah dan kerugian yang akan menimpanya. Sama saja kita punya perusahaan kalau dikelola dengan baik akan menghasilkan nilai guna bagi pemiliknya, karyawannya dan juga para penggunanya. Jika sebaliknya maka perusahaan pasti akan bangkrut.

Jadi hujan dan panas adalah sumber energi yang sangat berharga bagi kehidupan. Percayalah bahwa hujan dan panas tidak akan pernah mendatangkan bencana bagi manusia dan kemanusiaan karena takarannya sudah diatur dengan tepat oleh Tuhan, waktunya pun juga sudah ditetapkan kapan musim hujan harus turun dan kapan musim panas akan tiba, termasuk suhunya masing-masing agar mahluk hidup di atas bumi dapat secara alamiah bisa menyesuaikan diri setiap terjadi perubahan iklim.

Supaya air hujan tidak menjadi problem tapi menjadi solusi bagi kehidupan, maka sistem drainase harus baik, tempat-tempat penampungan air dan panas harus dikembangkan dan dibangun. aliran air disungai harus lancar menuju ke lautan luas tanpa hambatan dan progam-program lain yang dianggap tepat untuk dijalankan, bukan untuk didiskusikan dan dipidatokan.

Air dan Panas adalah energi kehidupan. Air dan Panas bukan sumber musibah dan bencana. Sumber musibah dan bencana itu ada pada manusia sendiri dan bukan pada hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuhan mati dan punah karena manusia juga. Air tidak mengalir karena manusia. Panas menjadi sangat menyengat dan membakar tubuh kita karena manusia juga.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar