Idealisme dan Realitas

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

DALAM kehidupan, seseorang seyogyanya memiliki idealisme atau sebuah cita-cita besar untuk mencapai tujuan hidupnya. Berbisnis harus memiliki idealisme, berpolitik juga harus memiliki idealisme. Hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara juga harus memiliki semangat idealisme.

Dengan idealisme, seseorang akan memiliki prinsip hidup dan keteguhan untuk menegakkan idealisme itu dalam kehidupan sehari-hari. Sayang sekali rasanya kalau hidup yang hanya sekali di dunia seseorang tak punya energi positif yang kita sebut sebagai idealisme. Hidup tanpa idealisme bak sayur tanpa garam, tawar, dan hambar rasanya. Seseorang yang dalam hidupnya sepanjang waktu hampir tanpa idealisme akan berhadapan dengan suasana rutinitas, bak mesin yang bergerak setiap saat.

Di pundak para tokoh yang mempunyai idealisme, biasanya bersemi semangat untuk melakukan perubahan. Melakukan hal-hal yang bersifat pembaruan dan senantiasa menolak status quo. Pada diri setiap idealis, yang umumnya pembelajar, rajin, suka menerawang keadaan yang diinginkannya untuk masa depan yang lebih baik, menurut versinya, dan saking ambisiusnya adakalanya sesuatu yang dipikirkannya menjadi tidak realistis, standar yang dipakai di atas rata-rata, serba tinggi.

Tampaknya, bagi seseorang yang menyandang gelar pemimpin, semangat idealisme harus dimilikinya, karena mereka adalah tokoh perubahan dan pembaru. Tapi, tidak selamanya idealisme dapat serta-merta diwujudkan dalam kehidupan manakala dihadapkan pada keadaan nyata yang juga hidup di tengah masyarakat. Realitas sebagai sebuah fakta yang banyak kita jumpai di kehidupan adalah hal yang secara nyata terjadi, baik secara fisik maupun non fisik, di berbagai bidang kehidupan yang bersifat sosial, poltik, dan ekonomi.

Namun, manakala antara idealisme dipersandingkan dengan realita, tidak berarti bahwa sosok idealisme harus dikorbankan atau bahkan dimatikan, karena alasan tidak realistis. Rasanya tidak harus demikian. Idealisme harus tetap hidup dan dihidup-hidupkan. Dia tidak boleh ditaruh di telapak kaki. Ia harus tetap bersemi dalam nalar seseorang dan alam sadarnya, meski harus berhadapan dengan dunia nyata.

Paham Berbeda

Demi alasan pragmatisme, idealisme harus dikorbankan dan apalagi harus “dilacurkan”? Pragmatisme dan realisme adalah paham yang berbeda sama sekali. Pragmatisme mengandung substansi yang bersifat menerabas, ingin cepat beres dan sering kali (maaf) menghalalkan segala cara. Sementara itu, realisme lebih berorientasi pada realita atau keadaan yang saat ini terjadi atau pada masa lalu pernah terjadi.

Tapi, perlu dicatat bahwa setiap realita yang hidup di masyarakat tidak selamanya baik menurut norma-norma yang berlaku. Realitas adakalanya juga sering menggambarkan keadaan yang tidak baik dan bertentangan dengan norma yang berlaku, dan ini tidak boleh hidup subur di masyarakat.

Contoh, perilaku korupsi telah menjadi semacam endemi di masyarakat, maka dengan dalil apa pun korupsi harus diberantas, karena merugikan semua pihak termasuk para koruptornya. Para idealis yang punya concern, dan memiliki komitmen antikorupsi tentu tidak rela jika realitas korupsi dibiarkan berkecambah hidup dan bersemi dalam kehidupan karena sifatnya destruktif. Para idealis bisa saja akan berbuat sesuatu untuk mencegah korupsi dengan mengajak semua pihak memberantasnya.

Mereka bisa menggunakan media massa (tulis, elektronik, dan online) untuk melakukan propaganda antikorupsi atau menggunakan media lain, misalnya, menggalang aksi gerakan moral. Jadi, dari ilustrasi ini jelas tergambarkan dalam realitas apa pun idealisme tetap dapat hidup. Jangan pernah dibaca dan dipahami dengan cara yang salah, manakala realitas berbicara tentang fakta (baik yang bernilai baik maupun yang tidak baik).

Sosok yang bernama idealisme itu harus dikorbankan dan dimatikan? Tidak demikian pemahamannya. Karena itu, antara idealisme dan realita tidak salah dipadankan, tapi harus cerdas memahaminya. Jangan mudah terpengaruh oleh sikap pragmatisme yang sering mengatakan, “jangan sok idealis, udahlah realistis saja, ikuti saja apa yang terjadi di depan kita, makan itu idealisme”. Joke semacam ini sering kita dengar, tapi ini pandangan yang menyesatkan dan bisa mencelakakan.

Di mana-mana idealisme sangat diperlukan kehadirannya, karena pembangunan, perubahan, dan pembaruan tak pernah akan terjadi tanpa kehadiran idealisme. Idealisme adalah alat perjuangan untuk “melawan” status quo agar kehidupan tidak bersifat mekanistis-statis, tetapi harus bersifat dinamistis-aktif. Para pemimpin yang tidak memilki semangat idealisme, perjuangan untuk menegakkan kebenaran, kebaikan, dan keadilan akan mandek.

Ditumbuhsuburkan

Pemahaman yang benar tentang idealisme tatkala dikaitkan dengan persoalan realitas bukan untuk memasung idealisme, tetapi yang lebih benar adalah semangat menjunjung tinggi nilai-nilai idealisme justru dimaksudkan untuk mengatasi berbagai permasalahan di masyarakat yang secara realistis dianggap salah atau tidak tepat berdasarkan norma-norma umum yang berlaku. Idealisme dikelola untuk ikut memperbaiki keadaan (keadaan buruk ke kehidupan yg lebih baik). Barangkali caranya yang harus diperhatian, tatkala sebuah idealisme akan diwujudkan dalam dunia nyata.

Cara tersebut, misalnya, tidak melalui proses pemaksaan kehendak. Transformasi idealisme harus dilakukan dengan cara yang elegan, melalui proses sosialisasi, edukasi, dan advokasi yang transparan dan bertanggung jawab. Dalam prosesnya tidak boleh ada unsur conflict of interest dan tidak boleh dilakukan dengan cara menerabas, yang menghalalkan segala cara.

Semangat idealisme harus ditumbuhsuburkan melalui pendidikan , baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pendidikan formal dari TK sampai pendidikan tinggi. Membangun masa depan membutuhkan idealisme. Menegakkan dan menerapkan hukum dan perundang-undangan membutuhkan idealisme. Kalau tidak, hukum tidak akan pernah tegak. Mengelola media tanpa idealisme hanya sekadar mesin penjaja berita. Semua aspek kehidupan pasti membutuhkan kehadiran sosok idealisme. Kehadirannya diperlukan untuk menjawab realitas. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar