In Memoriam Ketua MPR Taufiq Kiemas: Bukan Politisi Koruptor

Oleh: Thoman Hutasoit

Taufiq Kiemas

Taufiq Kiemas

TAUFIQ Kiemas telah berpulang. Tuhan Yang Maha Esa telah memanggil sang tokoh unik ini ke sisiNya, Sabtu 8 Juni 2013 di General Hospital, Singapura pukul 19.01 waktu setempat. Apa yang dapat diingat dari semasa hidup Ketua MPR ini? Tentu saja sangat banyak! Luar biasa luasnya, seluas pergaulannya.

Saya mengenal Taufiq Kiemas, suami Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri ini ketika dia masih sebagai rakyat biasa, belum punya keistimewaan di tengah-tengah jagat politik bangsa dan negara ini, yaitu tahun 1992. Dia hanya sebagai anggota DPR dari partai kecil Partai Demokrasi Indonesia (PDI) alias partai “cere”.

Ketika itu sosoknya tidak mudah bergaul. Saya sebagai wartawan, melihat Taufiq Kiemas yang kemudian biasa saya panggil bang Taufiq, adalah politisi “penakut”. Tidak pernah mau dikutip namanya. Tidak bersedia mengomentari kejadian apapun. Bahkan tidak pernah ada waktu luas untuk mengobrol dengan wartawan. Belakangan saya sadar, dia sosok yang penuh curiga. Suatu mental yang terbangun akibat tekanan pemerintahan Orde Baru.

Keistimewaan bang Taufiq adalah sebagai pemilik pompa bensin saja. Di zaman itu, dibandingkan dengan teman-temannya dari partai gurem, bang Taufiq sudah tergolong politisi berduit.

Setelah Megawati menjadi Presiden RI, tidak kurang dari 15 orang penyapu jalanan yang sehari-hari membersihkan Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, selalu mendapat THR dari bang Taufiq. Salah seorang penyapu berkisah, Taufiq sangat perhatian dengan nasib penyapu jalanan. Usai melaksanakan salat Idul Fitri, Taufiq kerap memanggil masuk para penyapu jalanan yang hari itu bertugas di depan rumahnya.

Biasa sehabis salat Idul Fitri, Pak Taufiq memanggil mereka dan memberikan tunjangan hari raya. Begitu juga kalau pas datang ke rumah ajudannya menitipkan uang kepada para penyapu jalan tersebut.

Kalaupun ada penyapu yang tidak tugas hari itu, atau tidak bertemu, Taufiq selalu menitipkan THR kepada mereka lewat ajudannya. Hal tersebut diamini penyapu jalanan lainnya yang sudah bekerja hampir 12 tahun lamanya.

Jauh sebelum istrinya menjadi orang nomor satu, dia pun bersedia menolong sejumlah anggota Fraksi PDI (belum ada huruf “P”) di DPR bila sedang kepepet bayar cicilan mobil. Berpasang-pasang pakaian jas dan baju harian safari wakil-wakil rakyat itu pun dimodali oleh Taufiq.

Dicap Pecundang

Pada masa itu, kemewahan, apalagi wibawa anggota DPR belum seperti sekarang-sekarang ini. Pada zaman itu rezim Soeharto adalah penguasa utama. Golongan Karya (Golkar) dan ABRI adalah mesin politiknya. Mereka bergabung dangan apa yang disebut Orde Baru. Di luar orde ini, di luar rezim dan Golkar adalah pecundang.

Maka PDI dan Taufiq Kiemas tentu saja dicap juga pecundang. Mereka adalah musuhnya Orde Baru. Orde yang serba kuat-perkasa dan kaya-raya itu, sepertinya menutup peluang kepada bang Taufiq yang adalah anggota keluarga Bung Karno, untuk bergerak ke bisnis lain, selain pompa bensin.

Syukurlah usaha minyak eceran ini tidak pernah memancing liur bisnis rezim Soeharto. Mungkin karena sifat dagangnya eceran, bukan lagi kelasnya rezim yang perkasa. Kemudian Taufiq terus berpolitik bersamaan dengan menjalankan usaha pompa bensinnya. Kantor pompa bensin itu pun menjadi ajang berkongko-kongko bang Taufiq saban malam dengan teman-temannya, terutama dengan sejumlah kecil wartawan. Saya salah seorang yang paling rutin hadir di kantor itu, khususnya di pompa bensin yang beralamat di ujung jalan Asam Baris, Tebet, Jakarta Selatan.

Bila sudah rada malam, kongko-kongko pindah ke belakang kantor, keluar dari kantor, sebab ruangan kantor dipakai oleh karyawan menghitung uang recehan hasil penjualan. Di belakang itu adalah ruang terbuka, tak berdinding. Taufiq biasanya sudah pakai sarung, sama-sama makan nasi padang dan sesekali mengepul-ngepulkan rokok.

Suatu malam bang Taufiq bercerita, pelanggan rutin pompa bensinnya adalah anggota-anggota Babinsa. Mereka naik motor, yang tiap malam mengisi 2-3 liter bensin atau mengisi pul tangki motornya. Jumlahnya 5-7 orang dan semuanya itu gratis. Karena petugas pompa bensin sudah akrab dengan Babinsa, maka sang Babinsa pun enteng saja menceritakan aktifitasnya.

Sebagaima kita tahu, Babinsa singkatan dari Bintara Pembina Desa adalah salah satu ujung tombak rezim Orde Baru dalam hal pelaksanaan pembinaan teritorial. Babinsalah yang ditugaskan berhadapan langsung dengan masyarakat desa, atau di tingkat RT dan RW, untuk mengetahui segala permasalahan.

Taufiq sering mendapat informasi segar dari para Babinsa itu tentang keadaan lapangan. Misalnya, Pak Lurah anu – yang sudah pasti Golkar itu — sedang mengumpulkan warga RT di tempat anu. Informasi mengenai “serangan fajar” pun bocor dari intel desa ini.

Dalam perjalanan politiknya, sosok politisi yang sedianya menghindar dari banyak orang itu, kini berubah menjadi tokoh yang mudah bergaul, dan tetap ringan tangan dalam menolong orang lain. Sepanjang yang saya kenal, almarhum bukan politisi korup, sebagaimana lazim karakter politisi dewasa ini. Mengingat besarnya kekuasaan, wibawa dan jaringan pergaulannya, sepanjang catatan pemberitaan pers, Taufiq Kiemas tidak pernah tercoreng dalam kasus korupsi.

Lebih Banyak Memberi

Sepanjang yang saya kenal, bang Taufiq jarang menerima pemberiaan. Dia lebih banyak memberi bantuan uang kepada berbagai lapisan masyarakat. Karakter memberi ini harus digarisbawahi jauh dari semangat suap, atau tutup mulut atau pun berkolusi misalnya.

Sehingga ketika tersiar berita bahwa Menteri Kelautan dan Perikatan Prof Dr Ir Rokhim Dahuri MS yang tersangkut kasus korupsi sekitar tahun 2007, memberi sehelai kemeja batik kepada anggota DPR Taufiq Kiemas, kasus ini terasa sebagai jebakan.

Politisi yang hidupnya jauh dari formalisme, bahkan berpakaian pun cenderung apa adanya dan berbicara ceplas-ceplos seperti bahasanya rakyat, merupakan sosok yang unik. Dia tidak mempunyai musuh. Susilo Bambang Yudhoyono sebelum menjadi Presiden RI, pernah dengan emosi dikata-katainnya sebagai jenderal kecil. Tetapi bang Taufiq mampu mumdur selangkah dan lalu menjalin persahabatan dengan SBY.

Melihat penderitaan yang seksama yang diperlakukan Orde Baru kepada partainya, PDI, maka sulit rasanya membayangkan bang Taufiq dapat bersahabat dengan Letjen (Purn) Prabowo Subianto, mantan menantu Soeharto dan bekas tangan kanan Orde Baru dari sayap ABRI itu. Malah pada pemilu lalu (2009), Megawati Soekarnoputri bersanding satu paket dengan Prabowo untuk merebut kursi Presiden dan Wapres RI.

Sama sulitnya memperkirakan bagaimana Tjahjo Kumolo SH bisa duduk menjadi petinggi utama di partai wong cilik bermoncong putih, yaitu sebagai Sekjen PDIP di era reformasi ini. Kita tahu Tjahjo adalah mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), organisasi massa buatan Golkar di zaman Orde Baru yang massanya dapat dihimpun segera untuk memukul lawan-lawan politik. Tjahjo, anggota DPR dari Fraksi Karya (Golkar) di Komisi II DPR kala itu tergolong kader terkemuka Golkar, partai pengawal rezim Soeharto. Di zaman itu Golkar sudah pasti lawan politiknya PDI maupun PDIP.

Demikianlah sepak terjang Taufiq Kiemas mewarnai kehidupan perpolitikan Indonesia modern. Dia pun sudah tidak ada yang memanggilnya “abang”, panggilan akrab yang tidak ada kelasnya. Dia kemudian lebih dikenal sebagai TK, singkatan dari Taufiq Kiemas, sebuah panggilan lebih bergengsi nampaknya.

Tapi kini bang Taufiq telah tiada, sudah pergi meninggalkan kita dan meniggalkan bumi tercinta Indonesia dalam usia 70 tahun. Selamat jalan bang Taufiq. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar