Indikasi dan Indikator

Oleh Fauzi Aziz

emerging_economy

JIKA Indonesia banyak dibicarakan orang sedunia bakal menjadi kekuatan ekonomi baru, maka ini adalah indikasi yang memberikan harapan baru. Orang sedunia juga mengatakan bahwa Indonesia adalah emerging economy yang patut diperhitungkan, karena pasarnya sedang tumbuh. Pertumbuhan ekonominya masih bisa mencapai rata-rata 5 persen, tatkala ekonomi dunia hanya bisa tumbuh rata-rata 2-3 persen. Berarti kondisi Indonesia masih leading dalam pertumbuhan ekonomi  di antara negara-negara emerging economy.

Di lihat secara indikatif dan berdasarkan indikator tertentu, ekonomi Indonesia bisa memberikan harapan untuk mewujudkan Indonesia berkemajuan. Secara indikatif ada harapan baru. Berdasarkan indikator ekonomi memberikan prospek baik langkah selanjutnya. Antara indikasi dan indikator harus berkorelasi positif. Keduanya adalah modal awal yang baik bagi perjalanan panjang yang akan terus kita lalui. Resultantenya, setiap lima tahun indikasinya makin menjadi kenyataan, dan indikator harus berbanding lurus dari kondisi yang diidikasikan. An tara indikasi dan indikator pasti ada gap karena yang diindikasikan sebagian meleset dari yang kita prekdisikan.

Indikatornya adalah pertumbuhan ekonomi makin menimbulkan kesenjangan, yaitu angka gini rationya mencapai 0,41. Orang “takut” dengan indikator ini karena “takut dituduh” tidak mampu mengurus pembangunan ekonomi dengan baik. Di republik ini suka “gegeran” akibat persoalan indikasi dan indikator yang tidak match. Gap ini kemudian dijadikan propaganda politik. Bisa terjadi di level elite sampai terjadi di akar rumput.

Apa yang terjadi? Terjadilah gegeran tadi. Hanya akibat ada gap antara indikasi dan indikator, isu pembangunan ekonomi bergeser menjadi isu politik. Di goreng ke sana ke mari akhirnya gap-nya makin menganga, dan isu politik menjadi panglima. Tapi, arah angin bisa liar, sehingga penanggung jawab pembangunan ekonomi nasional, dalam hal ini adalah presiden dan wakil presiden, waktunya tersedot dalam porsi besar untuk menjaga stabilitas politik. Padahal pembangunan ekonomi juga memerlukan stabilitas ekonomi. Bisa stabilitas nilai tukar, stabilitas pasokan dan harga, atau menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

Indikasi dan indikator ekonomi menjadi komoditas politik. Ini fakta yang kita bisa cermati dalam keseharian. Gap sebagai produk yang terlahir karena selisih antara indikasi dan indikator tidak sempat ditutup. Padahal kalau gap makin lebar dan dalam bisa menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan bangsa ini sebagai nation-state. Gagal menutup gap adalah malapetaka. Oleh sebab itu, jangan lupakan “indikasi” dan “indikator”. Jangan sekali-kali mencoba berpaling dari keduanya sebab Anda akan bisa tersesat di tengah jalan akibat abai terhadapnya.

Indikasi dan indikator adalah sahabat kita yang bisa membuat kita dapat menyelamatkan diri dari ancaman dan gangguan. Indikasi dan indikator bisa menjadi alarm. Tapi, jangan buru-buru yakin karena indikasi dan indikator bisa direkayasa untuk berbagai kepentingan, baik politik maupun ekonomi. Kita tahu bahwa dunia adalah netral, tapi isi dunia bisa direkayasa karena ada beragam kepentingan. Namun, apa pun situasi dan kondisinya, indikasi dan indikator tetap kita perlukan.

(Penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri)

Berita Terkait

Komentar

Komentar