Indonesia akan Dijadikan Negara Basis Produksi Kendaraan Bermotor

JAKARTA, (tubasmedia,com) – Agar Indonesia mampu menjadi sebuah negara sebagai basis produksi kendaraan bermotor, yang dijadikan berorientasi ekspor adalah kendaraan yang ramah lingkungan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan hal itu dalam webinar Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi, Jumat (15/10/2021).

Selain itu katanya, pemerintah targetkan ekspor kendaraan CBU 2025 dapat capai 1 juta uni. Oleh sebab itu pada kesempatan ini pihaknya terus menerus melakukan upaya melobi pelaku usaha kendaraan otomotif.

Maksud dan tujuannya, kata Menteri Agus, agar mampu mendorong untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi kendaraan bermotor.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini, pangsa pasar ekspor produk otomotif dari Indonesia untuk kendaraan roda empat atau lebih termasuk komponennya telah merambah ke 80 negara.

“Dengan produksi Januari-Agustus 2021 185 ribu unit kendaraan CBU, 70 ribu set CKD, 50 juta komponen,” katanya.

Indonesia menurut menteri menjadi negara yang memiliki cadangan bahan baku primer pembuat baterai kendaraan listrik, yakni nikel, kobalt, mangan, serta aluminium. Namun demikian, banyaknya jumlah cadangan tak menjamin keberhasilan produksi baterai dalam negeri.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, ada faktor lain yang perlu diperhatikan dalam mendorong kesuksesan produksi baterai. Termasuk juga di tengah perkembangan inovasi industri produsen baterai kendaraan listrik.

“Adanya teknologi disruptif baterai seperti ini, mengindikasikan adanya cadangan nikel, mangan dan kobalt yang melimpah, tidak menjamin keberhasilan produksi baterai,” katanya.

“Pertimbangan biaya dan kemampuan storage dari material baru juga harus diantisipasi,” tambahnya.

Dia berpesan bahwa industri baterai di Indonesia harus bersiap dalam menghadapi inovasi-inovasi industri baterai global yang sedang berjalan saat ini. “Industri baterai indonesia harus mampu mengantisipasi perkembangan inovasi baterai ke depan, dengan berdampak pada harga lebih murah, energi lebih tinggi, dan waktu pengisian lebih singkat,” tutunya.

Menperin memprediksi masa depan kendaraan listrik dengan bahan baku baterai yang saat ini tak bergantung pada bahan baku nikel, cobalt, dan mangan, seperti Lithium Sulfur dan lithium fero fosfor. Harus ada inovasi itu yang membuat baterai menjadi lebih murah, termasuk inovasi solid baterai dan pengembangan basis storage hidrogen.

Di sisi lain, untuk membuat ekosistem Battery Electric Vehicle (BEV) memerlukan keterlibatan para pemangku kepentingan yang terkait. “Menciptakan ekosistem BEV tentu memerlukan keterlibatan para pemangku kepentingan yang terdiri dari produsen, produsen baterai, pilot project, konsumen, dan infrastruktur,” katanya.

Menargetkan

Dia menyebut, pemerintah menargetkan produksi BEV pada 2030 mencapai 600.000 unit untuk roda empat, dan 2,45 juta unit baterai untuk roda dua. “Produksi kendaraan listrik diharapkan mampu menurunkan kadar emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda 4 atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua,” katanya.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan industrialisasi BEV, pemerintah memberikan berbagai insentif baik ranah fiskal maupun non-fiskal. “Seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk, bea masuk ditanggung pemerintah, dan super tax deduction untuk research and development,” katanya.

“Untuk mempercepat popularisasi pemerintah akan menetapkan peraturan penggunaan EV di instansi pemerintahan dalma roadmap tersebut, diperkirakan pemilikan kendaraan listrik akan mencapai 135.000 unit roda 4 dan sebanyak 400.000 unit roda dua pada tahun 2030,” tambahnya.

Dia turut menambahkan, meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik akan ikut dukung peran strategis dalam rantai pasok global industri kendaraan listrik. “Hal ini mengingat posisi indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia serta tingginya cadangan primer lainnya seperti kobalt, mangan, dan aluminium,” katanya. (sabar)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar