Indonesia Butuh Kepemimpinan yang Welas Asih

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

INDONESIA adalah negara demokratis terbesar ketiga di dunia setelah AS dan India. Penduduknya hampir mendekati seperempat miliar orang. Masyarakatnya sangat plural. Salah kelola dan salah memimpin, bisa-bisa mendatangkan bencana kemanusiaan. Semua kita pasti tidak merelakan jika bencana itu terjadi dan menimpa bangsa ini.

Oleh karena itu, negeri ini tidak hanya perlu dipimpin oleh sosok yang kuat dan berkarakter, tapi juga diperlukan pemimpin yang kepemimpinannya berwatakkan welas asih (cinta kasih). Welas asih kepada diri dan keluarganya dan welas asih kepada seluruh rakyatnya tanpa kecuali.

Pemimpin yang welas asih sangat peka dan sensitif terhadap persoalan manusia dan kemanusiaan. Pemimpin yang berkarakter welas asih sikap dan kepribadiannya teguh, kuat dan kokoh, tapi lentur dan mudah timbul empati dan simpatinya ketika timbul problem kemanusiaan di kalangan rakyatnya dari NAD sampai Papua.

Real time, tanpa banyak basa-basi cepat bertindak dan mampu memobolisasi dalam tempo cepat sumber daya organisasi yang berada langsung di bawah otoritas dan tanggungjawabnya, bila di satu daerah terjadi problem, bencana, musibah yang menimpa rakyatnya.

Kepemimpinan yang digerakkan oleh pemimpin yang berwatak welas asih pasti akan mudah mendapatkan pengakuan, kepercayaan dan dukungan penuh dari rakyatnya, karena dia mampu bermanuver sampai menyentuh sanubari dan lubuk hati rakyat yang paling dalam.

Semangatnya adalah “pemberi” dan “pengorban” demi kepentingan rakyatnya yang dicintainya. Pemimpin yang welas asih selalu berprinsip mendahulukan kepentingan rakyatnya daripada kepentingan diri dan keluarganya maupun kelompoknya.

Dikala rakyatnya merasakan dan mengalami penderitaan hidupnya karena sakit dan lapar, maka sebagai yang berwatak “pemberi” dan “pengorban”, maka secara tulus dan ihlas, dia bersama anggota kabinetnya melakukan puasa Senen dan Kamis. Memberikan bantuan pangan dan obat-obatan dalam tempo singkat dan real time.

Mampu dan mau ikut merasakan langsung penderitaan dan beban hidup rakyatnya yang secara sosial dan ekonomi kurang beruntung. Pemimpin yang welas asih mampu memberikan inspirasi, motivasi dan penggerak progam filantropis dari rakyatnya yang hidup berkecukupan dan hartanya diperoleh dari sumber yang halal.

Dana filantropis bisa dihimpun dan dikelola sendiri oleh masing-masing penggeraknya di masyarakat tanpa harus dikenai pajak, karena dana filantropis sudah membantu pemerintah yang dananya terbatas tetapi oleh konstitusi, pemerintah wajib mengurus rakyatnya yang hidupnya serba kekurangan di bidang pangan, kesehatan dan pendidikan dan perlindungan yang lain.

Masih banyak lagi yang dapat diulas melalui opini ini. Hal yang disampaikan adalah bukan. Ilusi dan bukan pula mimpi di siang bolong. Yang disampaikan adalah sebuah kebutuhan dan welas asih adalah sesuatu yang fitrah ada pada setiap diri manusia. Binatang saja memiliki watak dan karakter welas asih, apalagi manusia yang banyak diberi kelebihan oleh Tuhan Sang Pencipta.

Kalau welas asih dapat ditransformasikan oleh pemimpin bangsa dan pemimpin negara di negeri ini atau di negara lain, alangkah indahnya hidup ini di negeri yang penduduk plural. Mudah-mudahan pula tidak ada yang punya niat untuk berpisah dari NKRI karena welas asih berhasil didapatkan dari sang pemimpin. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar