Indonesia di Dunia dan Dunia di Indonesia

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, realitas politik, ekonomi dan budaya di abad globalisasi dan teknologi informatika yang makin berkembang, Indonesia sebagai negara bangsa harus bisa hidup di dua alam, yakni alam Indonesia dan alam global.

Pilihannya juga hanya ada dua, terhubung atau terputus. Jika terhubung berarti dapat menarik manfaat. Bila terputus, maka kerugian yang kita dapat. Berarti lebih baik kita memilih terhubung karena kita tidak bisa hidup seperti katak dalam tempurung.

KEDUA, terhubung dalam tiga dimensi, yaitu dimensi politik, ekonomi maupun budaya. Ketiganya ini bisa disebut sebagai pilar utama dalam setiap kerja sama antar negara karena prosesnya pasti melewati jalur politik (diplomasi), jalur ekonomi (kerjasama investasi, industri dan perdagangan), budaya (kerjasama di bidang pendidikan dan teknologi). Keterhubungan melalui mekanisme kerjasama ini , Indonesia aktif di ASEAN, APEC, G-20 dan lain-lain. Semua negara anggotanya hampir  telah menjadi anggota WTO. Di luar itu, Indonesia tentu memiliki mitra dagang penting dengan banyak negara di dunia yang terhubung secara bilateral .

KETIGA,jika kita menelusuri matrik saling ketergantungan, ketika framing besarnya Indonesia ada di Dunia dan Dunia ada di Indonesia, maka Indonesia dengan negara manapun dan Indonesia hadir dalam berbagai forum ASEAN atau APEC, adalah berpegang pada azas saling memerlukan dan saling membutuhkan.

Indonesia sebagai jangkar ASEAN harus menjalankan peran untuk mengefektifkan dan mengkapitalisasikan  CAFTA sebagai contoh, tanpa harus melulu melihatnya sebagai ancaman, tetapi juga harus melihatnya sebagai peluang.

Hal yang sama juga harus dilakukan untuk mengefektifkan dan mengkapitalisasikan aset nasional Indonesia sendiri di ASEAN, di Asia Pasifik, serta dalam hubungan kemitraan antara Indonesia dengan AS, China, UE, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru dan negara-negara lain di dunia.

Pendek kata Indonesia dengan politik bebas aktifnya harus bisa menerima manfaat yang maksimal dalam hubungan bilateral, regional dan multilateral. Kenyataan eksternal sudah dapat dipastikan bahwa dunia sudah tidak mungkin lagi didominasi oleh satu kekuatan hegemoni seperti AS maupun China.

Harus Kuat

KEEMPAT, kenyataan internalnya, daya tahan ekonomi dalam negeri harus kuat karena kerjasama ekonomi regional, multilateral maupun bilateral pada dasarnya dikembangkan pada prinsip liberalasi dan perdagangan bebas.

Harapan besarnya adalah terjadi peningkatan aliran barang jasa modal, teknologi dan bahkan tenaga kerja antar negara secara timbal balik yang aturan mainnya dibuat dan disepakati dalam setiap dokumen kerjasama ekonomi.

Aturan main itu harus adil. Hal yang harus diperhatikan justru aturan main yang selama ini dibuat umumnya lebih menguntungkan kepentingan negara industri maju dan umumnya merugikan kepentingan negara berkembang. Ancaman yang paling serius sebagai indikator paling mudah difahami adalah defisit neraca perdagangan neraca transaksi berjalan, neraca pembayaran, kontribusi Indonesia dalam global value chain.

Hal ini bisa terjadi karena Indonesia dipandang sebagai negara yang pasarnya sedang tumbuh dan pemasok komoditas penting untuk dunia. Indonesia dengan pelbagai kelemahan struktural dan institusional yang masih dihadapi memang harus terus berbenah. Pembenahannya tentu menjadi bersifat struktural dan tema ini sudah lama dibahas di antara pemangku kepentingan di negeri ini.

Dapat disampaikan bahwa menurut Lembaga Riset dan Konsultan TMA Group, Indonesia saat ini menduduki urutan nomor 1 untuk Indeks Kompleksitas Bisnis periode 2020.Ini artinya bahwa  business process di Indonesia adalah paling ruwet di dunia saat ini.

KELIMA, baru saja Indonesia benar-benar memainkan peran sebagai jangkar pada KTT ASEAN yang baru saja berakhir dengan menandatangan Regional Economic Cooperation Partnership (RECP), yang diteken oleh

15 negara, yakni 10 negara ASEAN, China, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru. RECP ini menurut rilis Kemendag RI, mewakili 32% PDB dunia, 27,4% perdagangan dunia dan 29,9% investasi asing dunia.

Pertumbuhan ekspor Indonesia ke negara-negara RECP tersebut mencapai 7,35% dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2019,ekspor non migas Indonesia ke negara -negara RECP adalah 56,1% dari total ekspor ke dunia sebesar USD 84,4 miliar. Impornya 65,79% dari total impor dari seluruh dunia sebesar USD 102 miliar.

KEENAM, dinamika kompetisi dan kolaborasi akan cukup mewarnai dalam berbagai kerjasama ekonomi saat ini dan di masa mendatang, dimana semua negara berupaya menarik manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masing-masing negara.

Kita harus bersikap realistis bahwa ketika kita berada dalam jaringan ekonomi dan bisnis global dan yang berputar-putar di kawasan regional, maka lanskap makronya adalah persoalan demand agregat dan supply agregat. Demand agregat dalam besaran makro adalah soal konsumsi, investasi dan ekspor neto (ekspor-impor). Supply agregat adalah keseluruhan produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara. Sebuah realitas di pasar manapun di dunia saat ini, barang dan jasa yang diperdagangkan adalah milik para perusahaan global dengan menyandang berbagai merek global.

Sinyal John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox menyampaikan tiga hal yang menarik, yaitu: 1) semakin ekonomi dunia berpadu, semakin kurang penting ekonomi negara-negara dan semakin penting kontribusi ekonomi dari individu dan perusahaan individual. 2) dimana ada pertumbuhan ekonomi, muncul pula lebih banyak bentuk pasar bebas dari kekuasaan pemerintah, yakni suatu penerimaan akan fakta bahwa orang, bukan dekrit politik, yang menciptakan peluang ekonomi. 3) semakin besar ekonomi dunia, semakin kuat perusahaan kecil menengah.

Sebuah Fakta

KETUJUH, anda pasti percaya dan tidak percaya dengan pandangan semacam itu. Namun kita juga dihadapkan pada sebuah fakta bahwa di Indonesia jumlah usaha kecil dan menengah yang masuk kategori IKM berada pada kisaran 4 juta lebih unit usaha. Yang berskala besar jumlahnya hanya puluhan ribu unit usaha saja.

Hendry Satriago memperkuat pendapatnya Naisbitt dengan mengatakan bahwa globalisasi saat ini adalah localization. Konsep dasarnya adalah bagaimana memanfaatkan kemampuan lokal sebaik-baiknya agar dapat memenangkan persaingan global.

Lebih dari 75% eksekutif perusahaan global percaya bahwa mereka  harus berkolaborasi lebih banyak dengan startup companies dan para individu yang bertalenta di bidang Sains, Teknologi, Engineering, Art dan Mathematics ( disebut dengan istilah Komunitas STEAM).

Startup companies dan komunitas STEAM makin dicari oleh perusahaan global. Indonesia memiliki generasi milenial yang kereeen di bidang STEAM, dan pemerintah harus mengurus kekuatan mereka sebagai aset nasional untuk berlaga di forum internasional menjadi mitra strategis perusahasn global.

KEDELAPAN, melihat fakta semacam itu, maka lagi-lagi dan mau tidak mau kita harus merumuskan kerangka kerja konseptual dan kerangka kerja operasional untuk mengelola demand agregat dan supply agregat dalam rangka kerjasama investasi, industri dan perdagangan.

Kita tidak bisa bersikap pragmatis, untuk membawa Indonesia menuju peran baru di kawasan Asia Pasifik. Kita tidak boleh kehilangan momentum setiap waktu dalam dasawarsa ini dan mendatang untuk tidak membiarkan perusahaan -perusahaan lokal mati di lumbung padi karena tidak bisa berkompetisi dan ber kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan global.

Asia Pasifik seperti sudah ditakdirkan untuk memimpin ekonomi global menuju abad berikut nya. Jika Indonesia tidak mengambil peran penting dari sekarang, maka kita akan menjadi bangsa yang merugi ketika Indonesia ada di Dunia dan Dunia ada di Indonesia. Dewasa ini, negara-negara Asia Pasifik bergegas ke arah peranan yang baru sepenuhnya di dalam kelompok negara-negara tersebut, dan negara-negara lain akan memberikan tempat bagi Asia di pentas global.

KESEMBILAN, David O’Rear, konsultan senior dan ekonom regional pada Economist Intelligence Unit di Hong Kong pernah menyampaikan kajiannya yang sudah cukup lama bahwa Asia akan menyusul Amerika Utara pada tahun 2018 dan Masyarakat Eropa tahun 2022.Prediksi tersebut sudah terjadi.

Gus Hooke seorang ekonom Australia juga membuat prediksi bahwa Asia tanpa Jepang sekalipun akan menguasai 57% ekonomi dunia pada tahun 2050. Ke-24 negara OECD, termasuk AS Jepang dan sebagian besar Eropa akan menguasai hanya 12%.Psda tahun 1990,negara-negara OECD menguasai 74% ekonomi dunia dan Asia hanya 9%.

Perkembangannya tergantung hubungan antara China dan AS ke depan setelah Joe Biden menjadi Presiden Negeri Paman Sam mulai Januari 2021. Asia Pasifik harus tumbuh menjadi zona damai dan stabil. Peran China dan AS amat penting untuk terciptanya zona damai dan aman di  kawasan Asia Pasifik. Peran Indonesia sebagai jangkar semakin penting dan menentukan dan posisi Indonesia secara internal harus kuat secara politik, ekonomi dan budaya.

Indonesia tidak boleh terjebak oleh kohabitasi sistem presidensial yang disandera oleh koalisi multi partai parlementer yang bisa membuat kinerja kabinet tidak optimal. Bersama kita bisa. Salam sehat. (penulis, pengamat ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar