Indonesia Harus Menghasilkan Produk Sendiri

FOTO bersama usai melaut untuk menguji teknologi konventer kit generasi kedua -tubasmedia.com/sabar hutasoit

TEGAL, (tubasmedia.com) – Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kemenperin, Zakiyudin mengatakan dengan masuknya Indonesia ke pasar terbuka,  memang semakin dituntut untuk bisa menghasilkan produk sendiri.

Hal itu dikatakan Zaki seusai melakukan observasi penggunaan teknologi converter kit generasi kedua ke desa nelayan di Tegal, Jawa Tengah, kemarin.

Dalam kunjungan kerja observasi tersebut, hadir pula staf ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Bidang Relevansi dan Produktivitas Agus Puji Prasetyo, Kasubdit Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Infrastruktur Gas Kementerian ESDM Ahmat Wahyu Wardono, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Nur Fuadi, Kepala BPPP Tegal Mukhlisin, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kita tadi sudah lihat uji terapnya dan pernyataan nelayan cukup memuaskan. Mungkin nanti kita tinggal matangkan hasil penelitian ini ke uji skala industri. Karena jika kita bicara industri artinya sudah bicara massal dan harus terstandar, sehingga jaminan keseragaman produk itu harus ada,” katanya.

Ia menyarankan agar peneliti, dalam hal ini Abdul Hakim Pane dari PT Tritunggal Prakarsa Global bekerja sama dengan industri untuk bisa melakukan uji skala industri.

Dikatakan juga, untuk menjadikan daya saing produk dalam negeri semakin tinggi di pasar global, Kemenperin akan memberi insentif bagi produsen , misalnya bea masuk bahan baku industri dapat di-nol-kan. ‘’Itu sedang dikaji,’’ katanya.

Namun demikian, kerja sama dengan tingkat Usaha Kecil Menengah  (UKM) juga bisa dilakukan. ‘’Yang terpenting line produksi berjalan sehingga standarisasi bisa dilakukan,’’ katanya.

Sementara itu, Abdul Hakim Pane peneliti dari PT Tritunggal Prakarsa Global, mengungkapkan, pihaknya telah berhasil mengembangkan teknologi konverter kit untuk semua jenis mesin mulai dari mesin 2-Tak, mesin 4-Tak sampai dengan mesin diesel.

Dari Kelangkaan BBM

Pengembangan teknologi konverter kit dari BBM ke BBG ini, katanya, didukung oleh Program Pengembangan Teknologi Industri dari Kemenristekdikti dan Program inkubator dari Pusat Inovasi LIPI.

Menurutnya, pengembangan teknologi ini berawal dari persoalan kelangkaan BBM dan harganya yang tinggi bagi nelayan. Selama ini sebagian besar nelayan kecil menggunakan kapal dengan mesin pembakaran dalam jenis mesin diesel (solar), mesin 2-Tak dan mesin 4-Tak (bensin) sehingga perlu ada bahan bakar alternatif yang murah, nyaman, aman dan kompatibel untuk menggerakkan mesin kapal nelayan.

Dia juga mengungkapkan, perubahan penggunaan bahan bakar alternatif berupa BBG pada mesin kapal dengan tetap menggunakan mesin yang ada tentu harus menggunakan peralatan yang dinamakan konverter kit yang merupakan produk aksesoris.

Saat ini, sebut dia, konverter kit yang beredar untuk mesin 4-Tak banyak ketidaknyamanan bagi para nelayan, seperti sering tidak dapat hidup karena cuaca dingin dan lain sebagainya.

Sedangkan peralatan konverter kit bagi mesin diesel berbahan bakar solar dan mesin 2-Tak tidak diperkenalkan sama sekali. Karenanya, menurut dia, sejak 20 September 2016, Kemristekdikti bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji terap teknologi konverter kit generasi kedua di mesin-mesin kapal nelayan Tegal.

Konverter kit tersebut merupakan inovasi generasi kedua hasil pengembangan teknologi berbasis controller dan ini menjadi terobosan di Indonesia maupun di dunia. (sabar)

 

Berita Terkait