Indonesia Kehilangan Pemimpin Berkarakter

Laporan : Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

YOGYAKARTA, (Tubas) – Kondisi Indonesia sekarang yang tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dengan negara lain di dunia, dikarenakan negeri ini sudah kehilangan pemimpin berkarakter. Tak hanya pemimpinnya yang kehilangan karakter, rakyatnya juga mengalami hal sama.

Pernyataan ini dilontarkan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dasron Hamid, MSc, dalam perayaan milad (ulang tahun) 30 tahun UMY, di Yogyakarta, Rabu (20/4).

Kondisi itu, menurut Dasron Hamid, semakin diperparah lagi dengan masih belum mampunya Indonesia mengelola Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) secara optimal. “Cobalah lihat, dari perspektif SDM, Indonesia sekarang ini lebih dikenal sebagai negara yang hanya memiliki potential power, tetapi tidak memiliki mobilized power, mengingat rendahnya SDM yang ada,” ujarnya.

Dasron secara tegas mengatakan, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia tidak akan terpecahkan dengan baik bila pemimpin serta rakyatnya tidak memiliki kekuatan karakter. Diingatkannya, bangsa yang tidak memiliki karakter akan kehilangan kemandirian dan peran dalam mewarnai peradaban dunia.

Karena itu, lanjut Dasron Hamid, diperlukan sebuah cara untuk membangun karakter bangsa terutama untuk generasi masa depan. Langkah membangun karakter bangsa itu bisa dimulai dengan pendidikan.

“Lewat dunia pendidikan inilah, UMY merasa perlu untuk mengangkat Tumbuh Membangun Karakter Bangsa sebagai wujud keprihatinan terhadap situasi kehidupan berbangsa sekarang ini,” tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Di tempat yang sama Din Syamsuddin menegaskan, kunci dari kesuksesan suatu bangsa dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini adalah kualitas dari pembentukan karakter bangsa itu sendiri.

Menurut Din Syamsuddin, pembentukan karakter bangsa menjadi agenda penting yang harus segera diwujudkan. Di era global ini, Indonesia harus bersaing dan bersanding dengan negara dan bangsa lain. Untuk itu diperlukan kesiapan Indonesia untuk menghadapinya. “Kalau kita tidak siap, maka pasti Indonesia akan ketinggalan,” tegasnya. (s eka ardhana)

Berita Terkait

Komentar

Komentar