Indonesia Kekurangan Bahan Baku Industri Pengalengan Ikan

YOGYAKARTA, (tubasmedia.com) – Hingga saat ini 30 persen industri makanan dan minuman telah menerapkan industry 4.0, sementara itu industri pengalengan ikan nasional selalu kekurangan ikan sebagai bakan baku industri.

‘’Karenanya, akhir-akhir ini cukup banyak pelaku industri ikan meminta rekomendasi kepada saya untuk menerbitkan izin impor ikan,’’ kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Abdul Rochim, pada Workshop Pendalaman Kebijakan Industri untuk Wartawan di Yogyakarta, kemarin.

Indonesia sebagai negara maritim, kata Rochim sangat aneh jika industri pengalengan ikannya kekurangan ikan sebagai bahan bakunya. Bukan hanya ikan, katanya, sektor agro umumnya masih tergantung kepada bahan baku impor seperti gula, pakan ternak dan susu.

Diharapkan, kementerian terkait bekerja lebih giat lagi untuk pengadaan bahan baku sektor industri agro, untuk mencegah jangan sampai bahan makanan dan minuman untuk kebutuhan 260 jutaan rakyat Indonesia, harus diimpor.

Disebutkan, industri makanan dan minuman menjadi salah satu industri prioritas dalam memasuki era revolusi industri ke-4 atau industry 4.0. Pasalnya penerapan industry 4.0 ini diharapkan mampu meningkatkan ekspor produk makanan dan minuman secara signifikan.

“Beberapa industri besar telah menerapkan industry 4.0 di beberapa bagian lini industri,” ujarnya.

Menurut dia, implementasi dari industry 4.0 ini diperkirakan mampu meningkatkan pertumbuhan industri makanan dan minuman. Dengan demikian, pada 2025, ekspor produk industri ini meningkat hingga 4 kali lipat.

“Peningkatan juga terjadi pada nilai tambah, dengan target sebesar 5 kali,” kata dia.

Rochim menjelaskan, dalam menyongsong era industri ke-4 ini, pihaknya telah menyusun target di industri makanan dan minuman hingga 2030, dengan sejumlah tahapan. Pada 2021, penerapan industry 4.0 diharapkan akan mengurangi ketergantungan impor produk pertanian dan manufacturing makanan dan minuman, seperti beras, ayam, gula, makanan laut olahan, coklat, tepung kanji serta buah dan sayur olahan. “Juga meningkatkan nett ekspor sebesar 50 persen,” jelas dia.

Kemudian pada 2025, menjadi pemimpin di industri makanan dan minuman untuk makanan kemasan sederhana hingga medium di tingkat ASEAN. Produk yang akan disasar yaitu air minum dalam kemasan, mie, teh siap saji dan kopi. “Kita menjadi powerhouse makanan dan minuman di ASEAN,” ungkap dia.

Sementara pada 2030, Indonesia ditargetkan menjadi pemain terbesar di industri makanan dan minuman untuk produk makanan kemasan modern. Fokus produknya yaitu makanan bayi, makanan siap saji kemasan dan suplemen.(sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar