Indonesia Penuh dengan “Sarang Tawon” yang Bisa Jadi Ancaman

sarang-tawon

Oleh: Fauzi Aziz

INDONESIA merdeka hingga kini adalah sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Tujuh belas ribu pulau, etnis, ras, tradisi budaya disatukan dalam satu kesatuan politik dan geografis, yakni NKRI. Dalam perkembangannya, ketika negeri ini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia makin banyak memiliki sosial grup yang beragam misi dan tujuannya.

Ada yang bersifat lokal, ada yang bersifat kedaerahan dan bersifat nasional dan bahkan bersifat internasional. Sosial grup ini tumbuh subur dimana-mana yang masing-masing memiliki dan mengibarkan bendera identitasnya masing-masing. Dalam kondisi yang demikian, pada faktanya kita bisa melihat bahwa NKRI di masa kebebasan dan keterbukaan sudah makin dikerubuti banyak kekuatan sosial dan politik yang sangat fragmentatif.

Sosial grup ini masing-masing membentuk sarang tawon. Ada yang berhasil menghasilkan “madu” dan dalam beberapa hal malah sarang tawon tersebut memproduksi “racun”. Perkembangan ini tentu membuat tanggungjawab manajemen sosial, politik, ekonomi, budaya dan sistem pertahanan dan keamanan negara menjadi makin berat dan kompleks.

Sarang tawon yang bermunculan dari Sabang sampai Merauke jumlahnya mungkin sudah bisa mencapai puluhan ribu yang membentuk dirinya sebagai sosial grup. Sarang tawon yang memproduksi madu kita anggap positip karena mereka menjadi sumber penggerak kemajuan dan perubahan. Energi positif yang dihasilkan kita harapkan dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Tapi manakala sarang tawonnya menghasilkan racun, maka mereka ini bisa menjadi “ancaman” keutuhan NKRI. Sayangnya, Indonesia setelah satu dasawarsa lebih menjadi negara demokrasi liberal, para elitnya tidak pernah memikirkan bahwa terbentuknya sarang tawon yang melilit NKRI dalam beragam sosial grup tersebut ada yang bisa menjadi¬† ancaman karena adanya sarang tawon yang masih memproduksi “racun”.

Kita tidak pernah mendapatkan diskursus tentang kebangsaan dan kenegaraan yang paripurna dari elit negeri ini yang sibuk sendiri mengurus dirinya sendiri dan sosial grupnya. Mereka tidak ada waktu mengurus bangsa dan negara karena ajaran pragmatisme yang dianutnya membimbing mereka menjadi seakan menutup mata dan telinganya dari fenomena kebangsaan yang kini telah diselimuti puluhan ribu sarang tawon yang terbentuk di sekelilingnya.

Yang perlu disampaikan disini adalah bahwa baik sosial grup yang membentuk sarang tawon penghasil madu dan penghasil racun mempunyai “madzab” masing-masing sebagai semacam “idiologinya” dan garis perjuangannya. Sarang tawon yang makin membesar dan makin mempunyai jaringan luas di dalam dan di luar negeri tentu tidak bisa dibubarkan dan dibumihanguskan begitu saja kecuali mereka melakukan makar kepada negeri ini.

Karena sarang tawon ini hidup dalam bingkai NKRI maka para elit harus bisa mengurusnya. Sebab kalau tidak diurus, mereka pasti akan diurus oleh elit dari belahan dunia lain yang mempunyai kepentingan di negeri ini yang menjadi sumber komoditas penting dan pasarnya yang begitu besar. Jangan sampai terjadi karena kesembronoan, mereka telah terafiliasi dengan kekuatan asing, meskipun KTP dan paspornya adalah WNI. Dalam alam demokrasi dan keterbukaan yang tidak terpimpin, fenomena sosial grup yang sudah mengelompok dalam berbagai sarang tawon berpotensi menjadi ancaman.

Oleh sebab itu, penggalangan wawasan kebangsaan dan penggalangan semangat nasionalisme menjadi penting agar sarang-sarang tawon yang terbentuk menjadi energi positif bagi pembangunan Indonesia Raya yang bersatu dan berdaulat. Jangan bangga menjadi negara demokrasi karena jika salah urus, iklim kebebasan yang sudah berlangsung bisa menjadi bola api liar yang jika tidak dikendalikan bisa membakar sumber-sumber kekuatan bangsa yang akhirnya Indonesia gagal menjadi negara demokrasi. (penulis adalah pemerhati masalah sosial).

Berita Terkait

Komentar

Komentar