Industri Alat Pertanian Nasional Sulit Berkembang

Laporan: Redaksi

ilustrasi

CERAMAH - Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP), Teddy Sianturi (kanan) bersama dua pembicara lain dari Biro Pusat Statistik (BPS) sedang mmeberi ceramah di hadapan peserta konsinyering –tubasmedia.com/sabar hutasoit

BOGOR, (tubasmedia.com) – Industri alat pertanian nasional tidak akan bisa berkembang di Indonesia selama pemerintah tidak memberi dukungan. Selama ini kebijakan pemerintah hanya berpihak kepada perusahaan importir sementara untuk mengembangkan industri, sama sekali tidak ada. Akibatnya, perdagangan alat pertanian khususnya impor berkembang biak tapi industrinya tidak berkembang.

Hal itu diungkapkan Sekjend Alsintani (Alat Mesin Pertanian) Indonesia, Karim dalam acara Konsinyering Koordinasi Stakeholders sektor Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian di Cisarua, Bogor, Selasa.

Rapat yang dipimpin Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP), Teddy Sianturi itu berlangsung selama tiga hari (20-22 Januarri 2014) dan menampilkan tiga pembicara masing-masig dari Biro Kepegawaian Kemenperin dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta Biro Pusat Statistik (BPS).

Karim menambahkan andai pemerintah memberi perhatian serius dalam pengembangan industri alat pertanian di dalam negeri, keberadaannya sudah jauh lebih menggembirakan dibanding keadaan sekarang.

Kendati demikian, kata Karim, tanpa dapat dukungan dari pemerintah sekalipun, para pelaku industri alat pertanian di dalam negeri terus membenahi diri dan meningkatkan mutu produk sehingga kini alat pertanian buatan Indonesia sudah banyak mengisi pasar ekspor.

Traktor tangan (hand tractor) kata Karim sudah cukup banyak diekspor ke beberapa negara tetangga seperti Kamboja, Vietnam, Malaysia dan Vietnam. Menurutnya, produsen Indonesia tidak kesulitan untuk menembus pasar ekspor.

Akan tetapi untuk mengisi pasar dalam negeri menurutnya, produsen nasional terus mengalami hambatan. Sebagian besar kepala daerah katanya masih mengutamakan pembelian alat-alat pertanian asal impor ketimbang barang lokal. Ditanya apa penyebabnya, Karim mengatakan masalahnya sangat kompleks.

Dia sebut misalnya tentang harga, alat pertanan asal impor lebih murah ketimbang buatan lokal. Pasalnya terdapat pada tarif bea masuk. Untuk alat pertanian impot utuh (built up), bea masuknya hanya antara 5-7,5 persen sementara jika impor bahan baku, bea masuknya bisa mencapai 10 persen yang artinya, mengimpor barang jadi lebih murah dibanding mengimpor bahan baku.

‘’Inilah salah satu pemicu kenapa masih banyak bupati di daerah lebih senang membeli alat pertanian impor ketimbang buatan lokal. Dalam konteks ini pulalah salah satu kebijakan pemerintah yang tidak memihak industri,’’ kata Karim.

Prioritas

Sementara itu, Teddy Sianturi mengatakan jenis industri permesinan dan alat mesin pertanian prioritas yang dikembangkan dan didorong pertumbuhan investasinya adalah industri alat berat, industri peralatan energi, industri mesin perkakas, industri mesin tekstil dan industri peralatan kelistrikan.

Berdasarkan data statistik impor tiga tahun terakhir (2011-2013) dan data impor bulan Januari-September 2013 diperoleh lima sub-kelompok industri permesinan, yaitu Kelompok Industri Alat Berat, Industri Peralatan Energi, Industri Mesin Perkakas, Industri Mesin Tekstil dan Industri Peralatan Kelistrikan.

Berbicara tentang rencana aksi, Tedy mengatakan pihaknya untuk jangka pendek antara lain akan mempertahankan kebijakan batas usia impor mesin bukan baru maksimal 20 tahun serta menyusun Peraturan Menteri dan Peraturan Direktur Jenderal IUBTT untuk pemberlakuan SNI wajib produk motor bakar, hand sprayer, regulator tekanan tinggi dan konverter kit.

Sementra untuk jangka panjang, pihaknya akan mengembangkan produk-produk yang high technology dengan bea masuk 0% dan memiliki populasi impor yang tinggi, meliputi: mesin perkakas otomatis, robotic assembling machine, turbin gas diatas 30 MW, boiler bertekanan tinggi, alat-alat kontrol (automatic control devices). (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar