Industri Baja Memegang Peranan Penting Bagi Pengembangan Industri

RESMIKAN PABRIK - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan pabrik baru PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia dengan memotong untaian melati bersama (dari kiri) Chairman Jakarta Japan Club Fukuda Tomofumi, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki, Presiden Direktur JFE Steel. Co,.Ltd. Koji Kakigi, Presiden Direktur PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia Masahito Koide, dan Direktur Wilayah III BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo.-tubasmedia.com/ist

RESMIKAN PABRIK – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan pabrik baru PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia dengan memotong untaian melati bersama (dari kiri) Chairman Jakarta Japan Club Fukuda Tomofumi, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki, Presiden Direktur JFE Steel. Co,.Ltd. Koji Kakigi, Presiden Direktur PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia Masahito Koide, dan Direktur Wilayah III BKPM Wisnu Wijaya Soedibjo.-tubasmedia.com/ist

CIKARANG, (tubasmeda.com) – Efek berganda yang dihasilkan  pertumbuhan industri baja semakin dirasakan oleh sektor industri nasional. Sebagai penghasil bahan baku dasar bagi banyak industri lainnya.

Meningkatnya konsumsi produk baja domestik dari 6 juta ton di tahun 2009 menjadi 12 juta ton pada 2014 menunjukkan adanya pertumbuhan di sektor industri. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu industri yang tumbuh sejalan dengan peningkatan konsumsi baja domestik adalah industri otomotif nasional. Tercatat, produksi kendaraan bermotor roda empat meningkat dari 465 ribu unit pada tahun 2009 menjadi 1,2 juta unit pada tahun 2014.

“Perkembangan produksi kendaraan bermotor merupakan peluang penting bagi industri besi baja, terutama komponen otomotif yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari baja,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam sambutannya ketika meresmikan pabrik baja galvanis PT. JFE Galvanizing Indonesia di Cikarang (15/9).

Airlangga menyampaikan, saat ini, terdapat sekitar 200 perusahaan industri baja nasional hulu dan hilir yang aktif di Indonesia. Seluruhnya menyerap lebih dari 350 ribu orang tenaga langsung serta memiliki utilisasi produksi sebesar 5 juta ton per tahun.

Karenanya, untuk memenuhi permintaan baja domestik dan menghindari ketergantungan yang tinggi terhadap baja impor, masih diperlukan banyak investasi baru di sektor baja.

“Pembangunan pabrik PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia diharapkan memberi kontribusi pada pemenuhan bahan baku baja dalam negeri, khususnya produk pelat baja canai dingin yang dilapisi (galvanized steel) untuk memenuhi kebutuhan produksi kendaraan roda empat,” papar Menperin.

Pabrik PT. JFE Steel Galvanizing Indonesia (JSGI) yang menempati lahan seluas 17,1 hektar di kawasan industri MM2100 Cikarang, Bekasi tersebut berdiri dengan investasi mencapai USD 300 juta oleh perusahaan Jepang JFE Steel Corp. JSGI menghasilkan produk baja jenis galvannealed (GA) dan cold rolled (CR) steel dengan kapasitas produksi sebesar 400.000 ton per tahun.

Presiden Direktur JFE Steel Coorporation Japan Koji Kakigi menyampaikan bahwa perusahaan tersebut akan menjadi produsen pertama lembaran baja untuk kebutuhan industri otomotif di Indonesia. Selain itu, JSGI juga menyediakan lapangan kerja bagi 200 tenaga kerja langsung, dan tambahan peluang kerja secara tidak langsung untuk sekitar 100 orang. Produk yang dihasilkan JSGI akan mengurangi impor CGL coil (baja berlapis zinc) sehingga diharapkan mampu memperkecil defisit pada neraca perdagangan

“Pendirian pabrik JSGI bertujuan untuk mendukung dan melengkapi piramida industri otomotif di Indonesia sehingga bisnisnya semakin berkembang dan meningkatkan ekspor,” ujar Koji. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar