Industri Ban Nasional Makin Kompetitif

Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, Christopher Chan di Kementerian Perindustrian, Jakarta 29 Maret 2016. Menperin mengapresiasi produsen ban seperti Gajah Tunggal yang membangun fasilitas proving ground di Karawang Jawa Barat, sebagai bagian pengembangan R&D industri nasional guna meningkatkan daya saing.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menerima Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk, Christopher Chan di Kementerian Perindustrian, Jakarta 29 Maret 2016. Menperin mengapresiasi produsen ban seperti Gajah Tunggal yang membangun fasilitas proving ground di Karawang Jawa Barat, sebagai bagian pengembangan R&D industri nasional guna meningkatkan daya saing. (tubasmedia.com/istimewa)

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Industri ban nasional semakin memperkuat daya saing dengan mengembangkan pusat penelitan dan pengembangan (research and development/R&D). Langkah ini seiring ekspansi produksi dan perluasan pasar baik ke domestik dan ekspor.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, fasilitas uji produk ban merupakan terobosan yang dapat membantu penelitian dalam membuat jenis ban-ban baru. “Proving ground juga untuk meningkatkan kepercayaan konsumen di Indonesia maupun di luar negeri. Apalagi 70 persen produksi ban kita diekspor,” katanya saat menerima Presiden Direktur PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), Christopher Chan di Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Lebih lanjut, pembangunan R&D diharapkan menjadi salah satu prioritas bagi produsen ban. Menperin menegaskan, pemerintah sangat mendukung upaya pengembangan ini sebagai pertanda bahwa industri ban nasional memiliki kemampuan untuk menembus pasar global.

Gajah Tunggal, sebagai produsen ban terbesar di Indonesia bakal mengoperasikan proving ground di Karawang pada Mei tahun ini. Fasilitas ini merupakan pembangunan fase pertama yang akan digunakan untuk menguji ban kendaraan umum dan ban sepeda motor.

“Investasi mencapai USD 100 juta dan itu hanya untuk proving ground saja,” ujarnya sembari mengungkapkan pembangunan fasilitas ini sejalan dengan komitmen perseroan menghasilkan produk yang teruji dan tepercaya.

Dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sekitar Rp 13.400, investasi tersebut setara Rp 1,34 triliun. Proyek ini dimulai 5 Maret 2012 dan di atas lahan seluas total 100 hektare, rinciannya 65 ha untuk proving ground dan sisanya untuk ekspansi.

Sedangkan fase kedua, Gajah Tunggal berencana membangun mulai tahun 2017 dan ditargetkan selesai pada akhir 2018 atau awal tahun berikutnya. Perseroan mengakui, pembangunan memakan waktu lama karena proyek ini sarat teknologi yang membutuhkan presisi tinggi dan kesesuaian dengan standar internasional.

Beroperasi sejak tahun 1951, Gajah Tunggal mengoperasikan pabrik berkapasitas 23,2 juta ban ban mobil, truk dan bus, serta ban 33,25 juta ban sepeda motor. Jumlah tenaga kerja mencapai 13.944 karyawan.

Menurut Chan, orientasi pemasaran perseroan adalah ekspor dengan pasar utama adalah Amerika Serikat. Pada 2014, nilai ekspor Gajah Tunggal menembus USD 617,19 juta.

KAPASITAS PRODUKSI NASIONAL

Kemenperin mencatat, keberadaan 14 produsen ban nasional telah mampu memproduksi berbagai tipe dan ukuran ban mobil penumpang, truk, bus dan kendaraan berat dengan kapasitas produksi 77 juta ban mobil, truk dan bus, serta ban 64 juta ban sepeda motor.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin, Harjanto menuturkan, sektor industri ban merupakan salah satu andalan industri manufaktur yang mampu menyerap bahan baku dalam negeri. Secara keseluruhan, industri ban menyerap sebanyak 258 ribu ton karet alam, atau 44 persen konsumsi karet alam nasional.

Hasil produksi tersebut dapat memenuhi kebutuhan domestik, dan khusus ban mobil penumpang. Produsen ban nasional juga telah lama dipercaya sebagai original equipment manufaturer/ OEM yang memasok ban ke pabrikan otomotif multinasional seperti Toyota, Honda, Suzuki, Yamaha Mitsubishi dan lain-lain.

“Selain untuk lokal, sebagian besar untuk ekspor dengan negara tujuan antar lain Amerika Serikat, Jepang, Asia, Australia dan Eropa dengan nilai ekspor mendekati USD 2 miliar per tahun,” katanya. (ril/sabar)

Berita Terkait