Industri dan Perdagangan dalam Pusaran Bisnis PDB

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, lingkaran bisnis (Produk Domestik Bruto (PDB) global, regional dan nasional adalah pusat kekuatan pasar yang sesungguhnya. Bisnis PDB adalah realitas ekonomi dimana aliran barang, jasa, modal, teknologi dan tenaga kerja dari berbagai negara di dunia berpacu saling bersaing untuk melahap ladang bisnis PDB sebagai the real market. Ladang bisnis PDB ini penting dan menentukan bagi kegiatan industri dan perdagangan karena dari ladang tersebut bisa diharapkan akan diperoleh pendapatan dan profit. Berarti bisnis PDB menjadi surga bagi expected return and profit bagi kegiatan industri dan perdagangan di masa mendatang dan masa kini.

Pasar akan mengalokasikan sumber daya dengan kriteria yang cukup ketat agar bisa meraih dua harapan tersebut sehingga kekuatan  industri dan perdagangan di suatu negara harus berdaya saing tinggi.

KEDUA, the real of competition di pasar global, pasar regional dan pasar nasional adalah berebut bisnis PDB. Pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga, belanja investasi pisik, belanja pemerintah dan ekspor-impor menjadi pemacu dan sekaligus pemicu pertumbuhan dan perkembangan kegiatan industri dan perdagangan suatu negara.

Kini brand-brand terkemuka di dunia sudah seperti selebritas dan sangat dikenal oleh para penggemarnya di pasar global, regional dan nasional. Bagi industri dan perdagangan yang berada dalam sisi penawaran menjadi persoalan hidup dan mati atau seperti ibarat harus berenang atau tenggelam. Pasar sendiri sudah terintegrasi secara offline maupun online. Indonesia berada pada tahap penting dan menentukan agar bisa untuk menjadi pusat manufakturing baru dunia. Tapi sebagai bagian pasar yang telah terintegrasi, posisi Indonesia adalah juga menjadi sebuah pasar raksasa di Asia setelah China dan India. Pernah ada data yang dimuat oleh media bahwa konsumsi kelas menengah Indonesia akan membelanjakan sebagian dari pendapatannya untuk belanja konsumsi sekitar 2,5 triliun USD tahun 2030. Di Asia sendiri diprediksi akan mencapai 32 triliun USD.

KETIGA, bisnis PDB benar -benar menjadi keniscayaan. Karena itu, semua negara selalu menaruh perhatian besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan permintaan agregat sehingga data agregat dari pengeluaran berbagai belanja sektoral tadi selalu ditunggu rilisnya oleh pelaku industri dan perdagangan di seluruh dunia. Naik turunnya permintaan agregat akan mempengaruhi kinerja produksi dan distribusi barang dan jasa secara agregat.

Pelambatan Ekonomi

KEEMPAT,sebab itu, ketika pelambatan ekonomi global terjadi ditambah adanya faktor pandemi covid-19 telah membuat kinerja ekspor turun, investasi tertekan, ketimpangan pendapatan melebar dan kemiskinan meningkat, sehingga sejumlah negara, termasuk Indonesia mengalami resesi ekonomi secara technical.

Sementara, seperti dialami oleh Indonesia, pemerintah menghadapi permasalahan ruang kebijakan fiskal dan moneter terbatas untuk mendukung pemulihan ekonomi yang akibatnya beban utang pemerintah meningkat. Kisah ini jelas memberikan gambaran bahwa ketika bisnis PDB lesu, maka seluruh aktivitas ekonomi di sisi suplai terdampak langsung dan mengakibatkan kegiatan produksi dan distribusi menurun drastis sehingga terjadi PHK, potensi kredit macet dan target penerimaan pajak tidak tercapai.

KELIMA, kalau kita lihat sumbangan industri terhadap PDB hanya 20%, maka data ini dapat dibaca dalam dua dimensi, yakni : 1) dari sisi penawaran,terhadap total PDB ekonomi, sektor industri hanya menyumbang sebesar 20% dari total output . 2) dari sisi permintaan berarti pula bahwa sektor industri hanya bisa memasok sejumlah 20% dari total permintaan agregat, sehingga industri nasional secara rata-rata menghadapi tekanan dalam economic of scale, PMI manufaktur di bawah angka 50,dan indeks kontribusi Indonesia dalam global supply/value chain yang rendah.

Pada tahun 2009 sebagai contoh , indeks total kontribusi Indonesia dalam global value chain adalah 47,3 sedangkan Malaysia 65,6 dan Vietnam 51,3. Indeks hulu, kontribusi Indonesia 14,4 sementara Malaysia 37,9 dan Vietnam 36,6. Indeks hilir, kontribusi Indonesia 29,3,Malaysia 27,7 dan Vietnam 14,7 .

KEENAM, periode 2015-2019 berlanjut ke periode 2020-2025 merupakan periode kunci dalam menjalankan strategi dan kebijakan industri nasional. Periode ini adalah tahap krusial dan menentukan bagi posisi Indonesia menjadi sebuah negara yang mampu   keluar atau tidak sebagai negara berpendapatan menengah ke bawah, meskipun saat ini menurut BPS sudah tergolong sebagai negara berpendapatan menengah. Tantangan industri jelas yaitu bagaimana merebut pangsa pasar dalam bisnis PDB global maupun di kawasan regional dan nasional. Industrialisasi menjadi salah satu jalur yang harus dilalui guna mencapai pendapatan per kapita yang tinggi. Kita juga harus percaya bahwa menguasai bisnis PDB di dalam negeri adalah penting.

Namun umumnya tidak cukup besar untuk mendukung efisiensi skala produksi sektor industri nya. Selanjutnya, untuk menghasilkan output industri secara efisien pada tingkat harga yang berlaku di pasar dunia, diperlukan upaya sistemik agar industri bisa maksimal berkontribusi dalam global supply/ value chain.

Pergeseran dari kegiatan produksi yang bersifat padat karya dan berteknologi rendah ke arah cabang produksi yang jauh lebih padat modal dan berteknologi tinggi, termasuk menerapkan  konsep industri 4.0 menjadi keniscayaan.

KETUJUH, ada beberapa catatan penting yang pernah dirilis oleh ADB beberapa tahun lalu bahwa : 1) negara berpendapatan rendah di Asia harus fokus mengembangkan sektor manufakturnya. Berkembangnya sektor ini akan menghasilkan lapangan kerja, dan produktivitas pertanian. 2) Tidak ada satupun yang sanggup menjadi negara berpendapatan tinggi tanpa mencapai industrialisasi.

Terkait dengan ini maka RIPIN yang ditetapkan dalam PP nomor 14 tahun 2015,bahwa agar dapat melewati tahap  krusial dan menentukan , sektor industri pengolahan non migas , kontribusinya terhadap PDB pada tahun 2020 diproyeksikan sebesar 24,9% , 27,4 % di tahun 2025,dan 30% pada tahun 30%.

Kontribusi ini akan bisa diraih bila pertumbuhan industri non migas  tumbuh 8,5%, 9,1% di tahun 2025,dan 10,5% pada tahun 2030. Capaian di tahun 2020 hampir pasti tidak akan mencapai target karena berbagai kondisi yang mempengaruhi. Angka kontribusi sekitar 20% terhadap PDB dan pertumbuhan sekitar 5% merupakan angka capaian yang bisa diraih.

Catatan kritikalnya kontribusi  industri terhadap PDB dan pertumbuhan yang tidak optimal akan menjadi dis-insentif bagi investasi baru karena alokasi sumber dayanya menjadi relatif high cost sehingga kurang memberikan jaminan untuk expected return and profit.

Angka ICOR Indonesia masih bertengger  sekitar 6. Artinya investasi fisik di negeri ini belum efisien. Di Malaysia angkanya 4,6, Filipina 3,7,Thailand 4,5 dan Vietnam 5,3.

KEDELAPAN, menurut prediksi IMF, pada tahun 2021 bisnis PDB global akan mulai menggeliat. Proyeksinya PDB ekonomi global akan tumbuh 5,4%. Negara maju tumbuh 4,8% dan negara berkembang 5,9%.

Lokomotif negara berkembang adalah China 8,2%, India 6,0%, Indonesia 6,1% (tapi pemerintah sudah menetapkan sekitar 5%), Malaysia 6,3%, Filipina 6,8% dan Thailand 5,5%.

Untuk negara maju, ekonomi AS akan tumbuh 4,5% , Jerman 5,4%, Perancis 7,3%, Jepang 2,4%, Italia 6,3%, Spanyol 6,3%, Inggris 6,3%, Kanada 4,9% dan negara-negara maju lainnya 4,2%.

Potensi tersebut baru sebatas recovery awal. Realisasinya banyak dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antaranya adalah keberhasilan program vaksinasi covid-19 di sejumlah negara. Di luar ini adalah berkaitan dengan perkembangan kondisi geopolitik global dan selalu yang menjadi perhatian adalah hubungan AS -China.

Tidak mudah karena semua proses yang akan berjalan di awal tahap pemulihan tergantung kebijakan politik dan ekonomi setiap negara. Kawasan Asia Pasifik nampaknya akan menjadi arena menarik untuk doing business. Indonesia harus menarik manfaat yang sebesar-besarnya dari bisnis PDB di Asia Pasifik. (penulis, pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar