Industri Plastik DN Cemas Harga Petrokimia Naik

Laporan:Sabar Hutasoit
 

JAKARTA, (Tubas) – Industri plastik di dalam negeri mencemaskan krisis politik di Mesir menyebabkan lonjakan harga petrokimia hulu dan produk antara yang bisa mengerek harga produk plastik hilir pada kuartal pertama tahun ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (INAPlas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan meskipun Mesir memproduksi polipropilena, negara itu sebenarnya bukan pemain utama di sektor minyak dan petrokimia global.

Namun, tuturnya, Mesir memiliki peran penting terkait dengan Terusan Suez yang menjadi urat nadi transportasi produk migas dan petrokimia di Timur Tengah menuju Eropa.

“Kalau terjadi masalah politik berkepanjangan di wilayah itu dan mengganggu sistem distribusi di Terusan Suez, transportasi pengapalan produk migas dan petrokimia harus berputar lebih jauh ke Eropa sehingga biaya transportasinya menjadi lebih mahal,” tuturnya hari ini.

Fajar memprediksikan sitausi panas di Mesir bisa terjadi berbulan-bulan dan akan menjadi pemicu penaikan harga minyak mentah dan produk turunannya. Gejala itu, sudah ditunjukkan dengan kembali eskalatifnya harga minyak mentah ketika lonjakan permintaan di musim dingin justru berangsur pulih.

“Mestinya kalau musim dingin selesai, harga minyak akan turun tetapi karena situasi Mesir yang memanas, harga minyak mentah masih tetap bertahan di level US$90 per barel. Kalau terus-terusan seperti ini, bukan tidak mungkin harga minyak mentah menembus US$100 per barel pada April,” tuturnya.

Berdasarkan situs resmi kementerian ESDM, harga minyak mentah OPEC basket yang sempat anjlok ke posisi US$91,80 per barel pada 25 Januari, kembali meroket ke posisi sekitar US$93,5 per barel pada 27 Januari 2011.

Fajar mengatakan apabila harga minyak mentah bisa tembus ke posisi US$100 per barel, maka diperkirakan harga olefin monomer maupun polimer akan ikut terkerek antara US$150 dan US$200 per ton. Saat ini, katanya, untuk pasar Asia Pasifik propilena berada di posisi US$1.450 per ton atau turun tipis dari rata-rata bulan lalu sekitar US$1.460 per ton, sedangkan harga etilena masih di level US$1.100 per ton. ***

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar