Industri Sepatu Naik Kelas, Indonesia Negara Produsen Terbesar Ketiga

Plt Dirjen IKFT, Ignatius Warsito

 

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen mempertahankan stabilitas dan mengembalikan pertumbuhan ekonomi global. Sehingga, perlu kerja sama dengan berbagai pihak agar arus investasi ke dalam negeri terus mengalir.

Hal itu pernah diucapkan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta.

Menurutnya, pemerintah Indonesia terus berupaya menarik investasi sebanyak-banyaknya dengan menyampaikan berbagai potensi yang dimiliki di Tanah Air. Pemerintah-pun senantiasa memberikan dukungan bagi para investor agar setiap investasi yang masuk ke Indonesia harus win-win.

Selanjutnya Menteri mengatakan bahwa sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia, terus meningkatkan manufacturing value added (MVA) untuk basis produksi manufakturnya.

Kebijakan tersebut katanya, juga berdampak positif bagi investor yang menanamkan modalnya di Indonesia. Menperin juga menyampaikan peluang investasi baru dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang besar.

Sehubungan dengan itu Delegasi Indonesia dipimpin Plt Dirjen Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil  (IKFT) Kemenperin, Ignatius Warsito pekan silam mengadakan kunjungan ke dua negara yakni Italia dan Swiss.

Keberangkatan Delegasi Indonesia ke Italia guna mendorong industri alas kaki dalam negeri untuk ikut berpartisipasi pada  pameran alas kaki yang berlangsung di Riva Scuh, Italia 11-14 Juni 2022.

‘’Keikutsertaan pada pameran bertaraf internasional  itu diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan daya saing industri alas kaki nasional di pasar internasional,’’ kata Warsito kepada wartawan di kantornya kemarin.

Seperti diketahui, Plt Dirjen IKFT bersama Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Elis Masitoh beserta rombongan melakukan perjalanan dinas ke Italia dan Swiss.

Di dua negara itu, selama sepekan (10-17 Juni 2022), Dirjen IKFT bersama rombongan mengikuti pameran alas kaki tingkat dunia di Riva Scuh, Itali dan mengikuti sidang COP 10 Rotterdam Convention di Jenewa, Swiss.

Menurut Warsito, kehadiran produk-produk alas kaki Indonesia pada pameran kelas dunia itu, mendapat sambutan hangat dari para pengunjung pameran dan secara khusus dari para investor yang datang dari 37 negara sebagai peserta pameran.

Warsito menambahkan bahwa untuk bisa ikut serta dalam pameran tersebut, tidaklah gampang tapi harus memenuhi tiga persyaratan yakni harus memiliki standar quality, jaringan pemasaran di tingkat internasional dan kapasitas produksi sudah memenuhi ketentuan.

Naik Kelas

‘’Kebetulan produk alas kaki kita sudah memenuhi ketiga syarat yang ditentukan panitia. Bahkan Indonesia sudah tercatat sebagai produsen sepatu terbesar ketiga di dunia. Artinya, industri sepatu Indonesia sudah masuk tiga besar kelas dunia dan tidak diragukan lagi untuk berlaga di pasar internasional, sudah naik kelas,’’ tutur Warsito.

Disebutkan bahwa dalam rangkaian pameran tersebut Plt Dirjen Warsito bersama rombongan promosi investasi Indonesia telah melaksanakan pertemuan dengan Atase Perdagangan Roma, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Milan, perwakilan dari Riva Scuh dan beberapa industri alas kaki peserta pameran.

Hasil pertemuan tersebut lanjut Warsito, telah mengarah pada Kerjasama teknologi dan investasi antara produsen alas kaki nasional dengan beberapa merk internasional ternama dunia.

‘’Kerjasama dan investasi tersebut diharapkan dapat terealisasi tahun 2022 ini,’’ tegas Warsito.

salah satu booth pameran sepatu dari Indonesia di Italia

 

Warsito juga menerangkan bahwa dalam promosi investasi itu, mereka juga mengunjungi KBRI Roma dalam rangka diskusi terkait perkembangan akses pasar khususnya produk IKFT di kota-kota di Italia termasuk Roma.

Dalam kesempatan itu Warsito menyampaikan perkembangan industri sektor IKFT yang pada masa Pandemi Covid-19 tumbuh positif, perkembangan industri dengan teknologi 4.0 dan juga terkait membuka akses pasar produk IKFT khususnya alas kaki di kota Roma.

Peluang pasar terbesar di kota Roma dengan jumlah penduduk sekitar 3 juta jiwa itu adalah wisatawan mancanegara yang setiap tahun semakin bertambah.

‘’Dan inilah peluang pasar yang sangat besar bagi industri IKFT, khususnya alas kaki dan fashion,’’ terang Warsito.

Industri Pestisida

Sementara itu dijelaskan dalam konvensi di Jenewa, Plt Dirjen IKFT memperjuangkan kepentingan industri pestisida nasional dengan mengajukan posisi penolakan masuknya carbosulfan dan parakuat diklorida pada Annex III (PIC List).

Pertimbangannya, belum adanya alternatif yang memiliki efektivitas dan keekonomian yang setara dengan carbosulfan sebagai insektisida dan parakuat diklorida sebagai herbisida kontak.

Selain itu, Warsito juga menyampaikan bahwa Pandemi Covid-19 dan krisis energi global telah mengakibatkan terjadinya gangguan rantai pasok komoditi perdagangan, termasuk pupuk dan pestisida yang merupakan sarana produksi pertanian yang penting.

Karenanya, kemampuan produksi pestisida (carbosulfan dan parakuat diklorida)  di dalam negeri, perlu dipertimbangkan, selain juga memiliki potensi ekspor.

Namun dalam keputusan akhir COP-10 Konvensi Rotterdam, carbosulfan dan parakuat diklorida agar dibahas kembali pada COP-11 Konvensi Rotterdam di Kepulauan Bahama, Karibia tahun 2023. (sabar)

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar