Industri Tekstil Butuh Tenaga Ahli

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Industti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional saat ini sangat membutuhkan tenaga ahli di bidang tekstil yang faham akan jenis dan karakteristik benang, serat dan filamin.

‘’Tangan-tangan para ahli itu nanti akan menghasilkan benang bermutu dan karakternya persis seperti yang diinginkan  produsen barang jadi. Bukan lagi mutu benang seperti yang ada saat ini,’’ kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki, Kementerian Perindustrian, Muhdori, kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Mutu benang yang tersedia di dalam negeri saat ini kata Muhdori sama sekali tidak dapat digunakan produsen tekstil yang memproduksi produk-produk yang spesifik, misalnya untuk pakaian adat atau untuk produk ekspor.

‘’Benang yang tersedia hanya bisa digunakan untuk yang mass production (produksi massal). Tapi kalau untuk produk yang sepesial-spesial, sama sekali tidak bisa dipakai apalagi untuk produk ekspor,’’ tambah Muhdori.

Karena itu lanjut Muhdori, untuk memproduksi produk-produk spesial, dibutuhkan bahan baku benang yang berkaraktek dan mutunya sesuai dengan yang dibutuhkan produsen, berdasarkan selera konsumen.

Pasalnya, produsen tidak bisa dipaksakan menggunakan benang yang ada, sebab produk yang dihasilkan nanti tidak sesuai mutu yang diinginkan konsumen di dalam dan di luar negeri.

‘’Bisa-bisa produk jadi kita kalah bersaing di pasar internasional,’’ tambahnya.

Untuk mendapatkan tenaga-tenaga ahli dimaksud, Muhdori setuju dengan usulan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) untuk mendirikan sekolah-sekolah tekstil yang akan menelorkan tenaga ahli dan bukan lagi operator.

‘’Kita memang sangat kurang expert (tenaga ahli), misalnya yang menguasai kimia tekstil, ahli bidang diyeng, finishing dan printing serta pencelupan yang bagus,’’ tambahnya.

Jika keahlian di atas dikuasai para ahli Indonesia, industri tekstil kita pasti semakin kuat dan impor bahan baku-pun dapat dengan segera kita hentikan karena bahan baku industri yang bermutu sudah tersedia di dalam negeri. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar