Inflasi Bulan Januari Mencapai 0,1 Persen

230115-EKBIS-2

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Bank Indonesia (BI) menyatakan inflasi bulan Januari 2015 berkisar antara 0,07 hingga 0,1 persen karena ada penurunan harga bahan bakar minyak (BBM), kata. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.”Minggu ketiga bulan ini angkanya bagus,” jelasnya di Jakarta, Jumat (23/01/2015).

Menurut Agus angka inflasi tersebut bisa saja akan terkoreksi ke bawah sebab sudah ada dua kali penurunan harga BBM sejak naik akhir tahun 2014. Aan ada pengaruh ke harga pangan yang sempat bergejolak akibat BBM naik.”Kami lihat volatile food sudah turun seperti cabai” ungkapnya.

Meski demikian Agus tidak menolak akan terjadi deflasi bilamana harga komoditas turut rendah semuanya.” Year on year masih 7,8 persen.Surplus neraca perdagangan Desember 2014 membuat current account atau neraca transaksi berjalan sehat,” uajranya
BI memastikan tidak akan menurunkan BI rate (suku bunga acuan) dalam waktu dekat.

Alasanya karena penilaian inflasi masih belum bisa memaksa BI rate turun dari 7,75 persen.
“Saya melihat beberapa negara memangkas polesi rate karena mereka memungkinkan memangkas,” katar Agus di Jakarta, Jumat (23/1/2015).

Agus menegaskan negera -negara yang memangkas polesi rate turun karena mengikuti trend harga minyak yang cenderung turun. Sedangkan Indonesia baru saja mencoba tata kelola minyak”Inflasi belum terkendali dan current account defisit atau transaksi berjalan belum sehat betul. Makanya, belum sesuaikan BI rate,” jelasnya

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan Bank Central AS sudah melakukan normalisasi.”Soal ikuiditas seharusnya BI normalisasi juga, Fed memang dia harus menghentikan quantitative easing nggak mungkin subsidi negara emerging country,” ujar Enny

Menurut Enny sektor rill sudah tertekan dengan suku bunga BI rate yang sangat tinggi setahun terakhir yang kini bertengger 7,75 persen. Bila ini berlanjut tanpa ada kepastian normalisasi kebijakan moneter, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan jalan ditempat.

Kondisi ini tidak akan mampu mendorong pengurangan pengangguran dan kemiskinan.
“Itu keniscayaan, Fed aja normalisasi. Kok, BI tidak. Pemerintah harus serius gerakan sektor rill” pintanya.(siswoyo)

Berita Terkait