Inilah Pernyataan Gubsu Edy Soal Wisata Halal Danau Toba, Kenapa Disebut Hoax?

MEDAN, (tubasmedia.com) –  Gubernur Sumatra Utara, Edy Rahmayadi, kembali menyampaikan salah satu fokusnya membangun Sumut, yakni terkait pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba.

“Saya nanti akan bentuk tim untuk Danau Toba,” ujar Edy didampingi Asisten Administrasi Umum dan Aset, M Fitriyus, dan Kepala Biro Humas dan Keprotokolan, Hendra Dermawan, kepada wartawan, di kantor gubernur, Jalan Diponegoro, Medan, akhir Agustus 2019.

Tim yang dimaksud Gubernur Edy adalah Tim Percepatan Kesuksesan Pariwisata Kawasan Danau Toba. Tim itu antara lain nantinya menyelaraskan tugas-tugas pengembangan Danau Toba dari berbagai sektor, seperti penanganan dan pengelolaan limbah industri dan limbah rumah tangga hingga penataan keramba jaring apung.

Kemudian penataan hewan berkaki empat agar tidak sembarang dipotong di tempat-tempat umum karena status Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), dan juga termasuk pengembangan wisata halal, seperti mendirikan mesjid.

Pembentukan tim yang sedang digagas tersebut, menurut Gubernur Edy, sangat penting mengingat besarnya dana dari pemerintah pusat dan investor yang dialokasikan ke kawasan Danau Toba. Menurutnya, jangan sampai pengalokasian dana yang besar itu tidak memberi manfaat.

Soal pembentukan tim itu, sudah disampaikannya kepada Presiden Joko Widodo dan Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan. “Saya ngomong itu, Pak namanya orang dagang itu, kan harus untung. Inikan seperti itu dagang (cara jual wisata Danau Toba saat ini), makanya harus didesain dengan benar, bukan hanya infrastruktur, lingkungan. Inikan harus terpadu sehingga wisatawan itu datang gitu,” sebut Edy.

Menurut Edy, tidak perlu dipaksa akan datangnya wisatawan mancanegara dari seantero dunia. Wisman dari Australia misalnya, menurutnya pasti lebih memilih Bali. Tetapi ada wisman terdekat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura dan Thailand. “Yang terjauh pasti masih Cina lah,” sebutnya.

Wisman dari negara-negata tetangga itu, harus dipahami soal keinginannya, latar belakang dan adat istiadat, misalnya wisman Malaysia dan Brunei.

“Tidak kalian bikin di sana mesjid, tak datang dia (wisman) itu. Sempat potong-potong babi di luar, sekali datang besok tak datang lagi itu,” sebut Edy mencontohkan.(red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar