“Injury Time”

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

DALAM dunia olahraga, saat injury time adalah waktu yang menegangkan bagi tim yang sedang berlaga. Tersungkur menjadi pecundang, karena gawangnya kebobolan atau berhasil bertahan atau malah bisa menjebol gawang lawan yang kemudian skor akhirnya menang atau minimal draw. Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II di bawah kepemimpinan SBY dan tim kerjanya saat ini sudah memasuki masa injury time untuk segera mengakhiri masa tugasnya pada 2014.

Selama dua periode kepemimpinan SBY sebagai presiden RI telah menakhodai negeri ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dibuat repot menjadi nakhoda atau sebagai kapten kesebelasan, karena anggota timnya susah diatur dan adakalanya merasa lebih mengerti tentang pola permainan atau pola kerja yang harus dilakukan. Sang kapten sudah mengambil keputusan bahwa kita harus menaikkan BBM bulan Juni depan, tapi ada anggota timnya malah tidak setuju.

Padahal menaikkan harga BBM dan memberikan BLSM adalah tindakan pada masa injury time yang dianggap tepat. Tapi, karena kapten kesebelasan sudah tidak mau pusing lagi dan tidak mau disebut lagi kapten peragu, maka 3 anggota timnya, yang seharusnya menurut etika harus diganti, pak kapten membiarkannya tetap ikut terus bermain.

Kata para penonton, permainan tim KIB II ini biasa-biasa saja dan membosankan.Tidak produktif mencetak gol, karena tidak memiliki gelandang menyerang yang andal dan goal getter yang brilian. Permainannya monoton yang penting aman-aman saja. Bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% saja sudah bagus. Dapat menjalankan kebijakan fiskal dengan hati-hati saja sudah cukup menjaga turbulensi atau riak gelombang ekonomi di dalam negeri.

Tim ini menjadi bersifat defensif dan tidak berani bersikap ekspansif agar negerinya bisa membangun infrastruktur.Tim yang sekarang secara mati-matian hanya bertahan agar APBN tidak jebol dan senantiasa beralasan demi keberlanjutan fiskal.Tak peduli bahwa pada sisi lain banyak anggaran yang dikorupsi.

Tidak bisa ekspansif karena re-alokasi tidak pernah diupayakan dan korupsinya dibiarkan berkecambah. APBN aman karena defisitnya ditutup terus dengan utang. Padahal, kalau keborosan dan kebocorannya bisa ditambal dan alokasi anggarannya tepat guna dan tepat sasaran, potensi untuk membangun infrastruktur terbuka luas tanpa harus berutang. Sektor riilnya mau tumbuh atau tidak emangnya gue pikirin. Kan masih bisa dipenuhi dari impor. Masuknya resmi atau menyelundup tidak penting.Yang penting adalah pasokannya di dalam negeri tercukupi untuk bisa mengendalikan inflasi.

Akibatnya, posisi neraca pembayaran terancam, karena neraca perdagangan defisit dan neraca transaksi berjalan juga defisit. Inilah karya agung yang dibanggakan oleh KIB II. Ekonominya bisa tumbuh, meskipun harus dibayar dengan mahal, karena berbiaya tinggi. Impor dibiarkan terus mengalir nyaris tanpa ada upaya pengendalian yang berarti, takut dikenakan retaliasi oleh mitra dagangnya di luar negeri. Ekspor tidak tumbuh, karena ekonominya high cost. Kohesi sosial masyarakatnya rusak hanya dikatakan bahwa ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memperbaiki dan memeliharanya. Law and order amburadul hanya dikatakan bahwa ini menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum dan pemda.

Pada injury time, para penonton hanya bisa tebak-tebak manggis mudah-mudahan masih ada gol yang bisa dihasilkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat yang selama ini hanya bisa menjadi penonton. Atau, malahan sebaliknya bahwa selama injury time hanya sibuk menunggu undangan untuk menerima penghargaan dari komunitas internasional.Yang sudah ketahuan dua, yakni piala ACF dan FAO, barangkali sebentar lagi akan datang dari IMF, World Bank atau WTO, karena Indonesia dinilai paling loyal menjalankan kebijakan ekonomi yang digariskan oleh ketiga lembaga internasional itu.

Karena menjadi pengikut yang loyal terhadap ajaran Konsensus Washington. Lepas dari itu, kita sebagai penonton harus bersifat objektif, karena bagaimanapun apa yang dikerjakan pemerintah selama ini ada hal-hal yang sudah baik, meskipun masih ada hal-hal yang masih harus diperbaiki untuk membawa Indonesia menjadi lebih maju. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar