Inovasi Balai Riset Kemenperin Dukung Ekonomi Berkelanjutan

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan ekosistem inovasi di sektor industri sebagai upaya percepatan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Penerapan industri 4.0 diyakini dapat mendukung pembangunan ekonomi berlanjutan.

“Pembangunan berkelanjutan memprioritaskan pola penggunaan sumber daya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia sambil melestarikan lingkungan. Tidak hanya memenuhi kebutuhan di masa kini, tetapi juga untuk masa depan yang tidak terbatas,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi di Jakarta, Jumat (14/8).

Kepala BPPI menjelaskan, guna mencapai sasaran dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tersebut, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian mengamanatkan adanya program pengembangan industri hijau.

“Artinya, industri harus menerapkan efisiensi dan efektivitas dalam upaya penggunaan sumber daya yang berkelanjutan,” tuturnya.

Menurut Doddy, kriteria penilaian yang dibutuhkan untuk memenuhi prinsip industri hijau berfokus pada tiga aspek utama. Pertama, proses produksi yang terdiri dari efisiensi produksi. Kedua, penggunaan material input, energi, air, teknologi dan sumber daya manusia. Sedangkan aspek ketiga adalah lingkungan kerja di ruang proses produksi.

“Industri hijau merupakan prinsip yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh pelaku usaha,” ujarnya.

Doddy melanjutkan, penggunaan teknologi modern menjadi kunci untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber daya di era revolusi industri 4.0.

“Teknologi industri 4.0 memiliki kemampuan memberikan solusi digital yang lebih baik untuk kehidupan kita sehari-hari, terutama selama pandemi saat ini,” imbuhnya.

Dalam hal ini, BPPI Kemenperin melalui berbagai balai litbang yang dimiliki siap membantu sektor industri untuk mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Sebagai contoh, Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand Industri) Banjarbaru telah melakukan berbagai terobosan yang berbasis sumber daya berkelanjutan dengan menggunakan bahan baku lokal.

Inovasi litbangyasa tersebut, di antaranya pemanfaatan clay lokal sebagai pengganti clay impor pada pembuatan papan semen, kemudian modifikasi tepung pati sagu dari pohon rumbia (Metroxylon sagu Rottb) sebagai bahan baku cangkang kapsul, serta pengembangan ekstrak kulit kayu bangkal (Nauclea sp) dan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) untuk sediaan bahan baku farmasi dan kosmetika. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar