Insiden Berdarah Jangan Terjadi di Yogyakarta

Laporan : S Eka Ardhana

Sri Sultan

YOGYAKARTA, (Tubas) – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X), mengingatkan agar insiden kekerasan berdarah yang menewaskan tiga anggota Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, tidak boleh terjadi di DIY. Untuk itu ia meminta semua pihak berusaha tetap menjaga ketenteraman dan kedamaian yang selama ini dimiliki Yogyakarta.

Berbicara kepada wartawan di Komplek Kepatihan Yogyakarta, Senin (7/2), Sri Sultan menyatakan penyesalannya yang mendalam atas terjadinya insiden kekerasan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, pada Minggu (6/2) lalu. Insiden itu selain mengakibatkan tiga korban tewas, enam lainnya terluka, dan rusaknya bangunan rumah.

“Peristiwa semacam itu tidak boleh sampai terjadi di Yogyakarta,” pinta Sri Sultan seraya menyatakan di Yogyakarta selama ini tidak ada masalah dengan Jamaah Ahmadiyah.
Sri Sultan juga berharap agar semua pihak bisa saling menghargai satu sama lain. Karena bila semua pihak dapat saling menghargai, maka dapat dipastikan kasus aksi kekerasan seperti yang terjadi di Cikeusik, Pandeglang itu, tidak akan terjadi

Aksi Keprihatinan

Sementara itu sekitar seratus warga dari berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta, Senin malam (7/2) melaksanakan aksi keprihatinan dengan berkumpul di Tugu Yogyakarta. Aksi keprihatinan itu sebagai wujud dan rasa solidaritas terhadap Jemaah Ahmadiyah yang menjadi korban kekerasan di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Dalam aksi yang diikuti elemen-elemen dari kaum muda NU, kaum muda Muhammadiyah, AJI Damai, LSIP, KSIP dan elemen lainnya itu para peserta menyalakan lilin serta membawa bendera setengah tiang. Di antara para peserta tampak pula putri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid. Aksi keprihatinan itu diakhiri dengan shalat gaib bersama bagi peserta aksi yang beragama Islam. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar