Investor Asing Enggan ke Indonesia

Laporan: Redaksi

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat

BANDUNG, (TubasMedia.Com) – Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, mengatakan investasi baru di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) tahun ini mencapai US$50 juta (Rp 485 miliar). Hampir semua investasi baru di sektor tekstil itu berasal dari pemodal dalam negeri dan siap beroperasi tahun ini.

“Investor asing enggan datang ke sini karena kenaikan biaya-biaya. Jadi semua pemain lokal,” kata Ade di Bandung.

Para investor baru lebih memilih Jawa Tengah sebagai lokasi pembangunan pabrik karena besaran upah minimum provinsi (UMP) di daerah itu masih bisa ditoleransi pengusaha. Beberapa daerah yang menjadi lokasi pembangunan pabrik antara lain Semarang, Pekalongan, Tegal, dan Solo.

Investasi dalam negeri muncul yang tetap tumbuh di tengah pertumbuhan industri dalam negeri yang flat dinilai API luar biasa. Meski demikian, pengusaha tidak berani mematok target pertumbuhan tinggi. “Paling-paling sama dengan tahun lalu, lima persen saja,” kata Ade.

Pada 2010, industri TPT tumbuh 1,8 persen sementara tahun 2011, pertumbuhan industri TPT mencapai 7,5 persen.

Di tengah masuknya kucuran investasi di sektor industri tekstil, API memprediksi nilai ekspor tekstil akan turun lima persen. Sebelumnya, API memperkirakan nilai ekspor tekstil pada 2012 mencapai US$12,6 miliar (Rp 122 triliun). Pada 2010, ekspor TPT mencapai US$11,22 miliar (Rp 108, 834 triliun) sementara 2011 ekspor mencapai US$13,23 miliar (Rp 128,331 triliun).

Penurunan, kata Ade, disebabkan oleh banyaknya proses produksi yang tidak berjalan penuh karena pelaku usaha harus melakukan relokasi demi menyesuaikan dengan kenaikan biaya-biaya.

“Produksi tidak berjalan penuh karena relokasi ke Jawa Tengah. Kenaikan biaya-biaya seperti UMP, listrik mengganggu proses produksi,” katanya dilansir tempo.

Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan tetap menjadi pasar ekspor tekstil andalan Indonesia. Krisis yang tak kunjung selesai di dua kawasan tersebut, kata Ade, tidak mengganggu ekspor tekstil Indonesia. “Walaupun negaranya krisis tapi kan rakyatnya tetap membutuhkan baju,” katanya dilansir tempo. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar