Jadilah Manusia Indonesia Seutuhnya

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

SATU nusa satu bangsa, berbangsa satu bangsa Indonesia. Bagimu negeri jiwa raga kami. Spirit ini maha penting bagi pembangunan karakter bangsa yang majemuk dan hidup di 6.000 pulau besar dan pulau kecil yang tersebar dari Sabang sampai Mearuke. Jangan sampai semangat itu sirna dan musnah ditelan zaman dalam kondisi apapun.

Globalisasi yang digerakkan oleh kemajuan pesat di bidang teknologi informasi tidak boleh menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan jati dirinya. Branding sebagai manusia Indonesia jangan tergantikan oleh brand yang lain sehingga muncul brand baru yang nilai keindonesiaan menjadi hilang.

Rukun agawe sentoso. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh dan banyak lagi yang kita miliki sebagai falsafah dan pandangan hidup yang Indonesia banget. Hari-hari ini kita dihadapkan kondisi sosial yang penuh konflik dan mungkin mereka yang berkonflik sedang dalam persimpangan jalan hidupnya antara memilih tetap tinggal hidup di 6000 pulau atau nyempal dan hidup di pulau lain yang masuk teritorinya bangsa lain.

Barangkali mereka ada perasaan kecewa berat, buat apa hidup di lembah kehidupan yang tidak membuat bisa hidup sentosa karena hak-hak sipilnya sebagai manusia Indonesia tidak mendapat perhatian penuh dari negara dan cenderung dikorbankan agar mereka rela melepaskan hak ulayatnya kepada penguasa untuk kepentingan pembangunan.

Pendidikan dan kesehatannya kurang tercukupi. Rakyat kebanyakan hanya merasa disayang dan dimanjakan tatkala jelang pilpres, pemilu legislatif dan pemilukada saja. Sesudah itu prek (kata orang semarang). Habis manis sepah dibuang.

Satu nusa satu bangsa dan bagimu negeri jiwa raga kami hanya slogan kosong yang tidak punya makna apa-apa. Karena itu yang mencuat secara emosional adalah soal pilihan hidup. Menjadi manusia Indonesia seutuhnya atau hanya sebagian menjadi manusia Indonesia atau secara keseluruhan tidak lagi berminat menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya.

Isu jual pulau, keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI adalah contoh betapa eksistensi sebagai manusia Indonesia terkoyak. Hidup sebagai manusia Indonesia seutuhnya secara mudahnya dapat difahami sebagaimana ungkapan hidup dan matiku adalah Indonesia. Tumpah darahku adalah Indonesia. Tanah airku adalah Indonesia dalam keadaan suka dan duka.

Tugas para pemimpin nasional dan daerah, para politisi, para tokoh masyarakat harus mampu mewujudkan seluruh rakyat menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang berkepribadian unggul dan berperilaku sebagai manusia Indonesia. Manusia Indonesia yang utuh hakekatnya adalah modalitas untuk membangun peradaban.

Manusia Indonesia seutuhnya pada dasarnya yang jiwa raganya selalu mengedapankan kesetiakawanan dan solidaritas sosial yang tinggi tanpa harus mematikan hak-hak individu sesuai semangat demokrasi.

Manusia Indonesia seutuhnya pada hakekatnya adalah manusia yang sangat mengerti bobot, bebet dan bibit sebagai orang Indonesia. Sebab kalau tidak tahu asal-usulnya memang bisa berabe. Bobot, bebet, bibit sebagai orang Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, NAD, Sumatera, Bali dan Nusatenggara.

Pemahamannya adalah mereka itu semua adalah saudara hanya saja berbeda ras, suku dan adat istiadatnya. Dengan demikian secara bibit, bobot dan bebet meskipun berbeda-beda tapi tetap satu sebagai keluarga besar bangsa Indonesia. Manusia Indonesia seutuhnya dapat pula diilustrasikan ibarat kita sakit semua ikut merasakannya dan begitu pula dalam keadaan suka semuanya harus bisa ikut merasakannya. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Tugas yang berat dewasa ini sejatinya adalah bagaimana kita dapat menjadikan manusia Indonesia ketika kita sedang menghadapi masalah krisis identitas, krisis kepercayaan, krisis kepribadian dan krisis moral. Tanggungjawab yang berat tersebut harus dapat direspon dengan penuh kearifan dan menempatkan peran pendidikan di atas segala-galanya.

Pendikan dalam arti yang luas yang fokusnya bukan hanya sekedar membuat manusia pintar dan cerdas, tetapi juga menyiapkan manusia Indonesia agar menjadi insan kamil yang beriman, bermoral, beradab dan menjiwai kehidupannya sebagai manusia Indonesia yang lahir, mencari rezki dan mati terhormat dan chusnul chotimah sebagai manusia Indonesia.

Rasa ikut memiliki dan rasa senasib sepenanggungan adalah ciri lain sebagai bagian tak terpisahkan sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Kalau sekarang bangsa ini katakan sedang sakit kita wajib mengobatinya agar menjadi bangsa yang sehat kembali dan kalau sudah sehat maka berbuatlah kebajikan dan jauhkanlah ketidak bajikan agar hidup kita tidak terperosok kedua kali mengidap penyakit yang bisa lebih parah karena kita inkar atas sumpah dan janji kepada Tuhan dan manusia.

Semoga kita semua bisa menjadi manusia Indonesia seutuhnya untuk menyongsong fajar tanah air yang lebih bisa memuliakan kita semua dari Sabang sampai Merauke, dalam kesetiakawanan dan solidaritas sosial yang tinggi dan saling meninggikan satu sama lain, tanpa harus menebar rasa permusuhan sebagaimana kita warga keluarga besar tanah air Indonesia.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar