Jangan Alergi Terhadap Program LCGC

Laporan: Redaksi

Lili Asdjudiredja

Lili Asdjudiredja

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Sudah saatnya Indonesia tampil menjadi produsen mobil kelas dunia dan sudah saatnya pula Indonesia menyatakan stop menggunakan produk impor, termasuk mobil. Kita harus buktikan bahwa kalimat di atas bukan hanya slogan tapi menjadi kenyataan.

Demikian politikus gaek, Lili Asdjudiredja yang kini sebagai anggota DPR Komisi VI kepada tubasmedia.com saat berkunjung ke ruang kerjanya di Senayan, Jakarta, kemarin.

‘Ya, benar. Ini harus terwujud dan tidak lagi hanya jargon-jargon politik. Maka itu harus semua mendukungnya,’’ tegas Lili yang sudah puluhan tahun menjadi politisi ini.

Di awal obrolan, Lili menyataklan masyarakat perlu mendukung program low cost green car (LCGC). Alasannya, mobil yang harganya murah dan irit bensin ini bisa menjadi cikal bakal tumbuhnya perusahaan mobil nasional (mobnas) di Indonesia.

‘’Yakinlah, kalau program ini jalan, lima tahun ke depan semua komponennya dibuat di Indonesia termasuk mesin dan transmisi,’’ tegasnya.

Oleh karena itu, disebut kita tak boleh alergi terhadap program LCGC, malah sebaliknya harus mendukungnya karena mobil tersebut merupakan mobil masa depan. ‘’Selain murah dan irit, mobil ini juga ramah lingkungan,’’ kata Lili.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan dengan naiknya pendapatan per kapita kata Lili membawa dampak meningkatnya kebutuhan energi akibat bertambahnya kegiatan komersial, industri serta mobilitas orang dan barang. Mobilitas orang dan barang akan menimbulkan kebutuhan untuk penyediaan alat transportasi publik maupun pribadi yang aman dan nyaman serta ekonomis. Selain itu sebanyak 60 juta pemilik kendaraan roda dua mengidamkan kepemilikan kendaraan roda empat dengan harga terjangkau serta hemat bahan bakar minyak sebagai alat transportasi untuk keperluan produktif dan keluarga.

Menjawab kebutuhan itu dan untuk menyikapi persaingan pada pasar tunggal ASEAN (PTA) yang akan berlaku awal 2015, industri otomotif Indonesia dituntut selalu berinovasi menciptakan kendaraan hemat energi dan harga terjangkau untuk keperluan pasar domestik dan ekspor ujarnya

Saat ini negara lain dalam regional PTA seperti Thailand, Malaysia, China, Jepang dan Korea telah memproduksi mobil sejenis LCGC sehingga apa bila kita tidak memenuhi permintaan masyarakatdengan produk sejenis dari dalam negeri, Indonesia akan dibanjiri impor kendaraan jenis tersebut.

Demikian sebaliknya peluang pasar internasional harus kita manfaatkan pula sehingga produk otomotif yang dibuat di dalam negeri mampu menembus pasar ekspor. Karena itu pula, mutu minimun tertentu dari mobil LCGC harus dipenuhi.

Lili menjelaskan pada produk LCGC tersebut, industri otomotif disyaratkan membuat kendaraan yang lebih ramah lingkungan dengan menaikkan efisiensi penggunaan bahan bakar per kilomemetr jarak tempuh. Saat ini rata-rata mobil berbahan bakar minyak mengkonsumi 12 km per liter BBM sedangkan LCGC hanya mengkonsumsi 20 km per liter BBM sehingga penghematan yang dicapai dalam konsumsi bahan bakar 66 persen per unit mobil. Selain itu dengan berkurangnya BBM yang dibakar per km, emisi karbon yang ditimbulkan juga akan sedikit.

Program ini tidak berlaku untuk semua kategori kendaraantapi hanya bagi kapasitas mesin kelas 1.000 sampai 1.200 cc untuk bensin dan 1.500 cc untuk diesel. Program mobil hemat energi dan harga terjangkau ini terbuka dan berlaku untuk semua merek otomotif. Baik merek internasional maupun merek original Indonesia (mobnas).

Wajib

Peserta program ini diwajibkan menggunakan komponen otomotif buatan dalam negeri sehingga merek otomotif yang mengikuti program LCGC tidak semata-mata diarahakan untuk membuat mobil dengan harga murah dan irit. Tapi terfokus pada program membangun komponen industri otomotif di dalam negeri dan meningkatkan kemandirina nasional di bidang teknologi otomotif, terutama teknologi transmisi engine, aksel (power train).

Dengan tetap mengedepankan kualitas dan keamanan produk, harga mobil ni dibatasi di tingkat produsen. Dalam usaha untuk membangun kemandirian teknologi nasional, masing-masing pabrik mobil diharuskan menggunakan komponen otomotif buatan dalam negeri. Untuk itu, semua peserta prophtram LCGC wajib membuat jadwal lokalisasi pembuatan komponen dalam negeri bagi lebih kirang 105 grup komponen atau setara dengan lebih kurang 10.000 komponen.

Dalam lima tahun disimpulkan sekitar 80 persen komponen adalah buatan dalam negeri. Itu artinya, struktur industri komponen otomotif nasional lebih lengkap dan semakin besar peluang untuk mendukung dan menumbuhkembangkan industri perakitan mobil di dalam negeri, termasuk mobil merek original Indonsia.

Untuk mendukung program tersebut pemerintah memberikan insentif untuk mengurangi beban konsumen dengan menghilngkan kewajiban membayar PPN-BM, namum tetap membayar PPN 10 persen dan pajak kendaraan bernotor di daertah 10 persen.

Dalam PP No 41/2013 disebutkan, LCGC akan memperoleh potongan PPN-BM yaitu dari semula 10 persen menjadi nol persen bila memenuhi persyaratan konsumsi BBM dan pembuatan mobil serta komponen di dalam negeri etrsebut.

Lili memperkirakan program LCG ini mendatangkan komitmem investasi senilai US$3 miliar dari industri otomotif dan US$3,5 miliar dari sekitar 100 industri komponen otomotif baru.

Saat ini sebagian besar komitmen tersebut sudah terealisasi dengan telah dibangunnya lima pabrik mobil baru dan sekitar 70 pabrik komponen otomotif baru. (sabar)

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar