Jangan Lembek Menghadapi Tiongkok

Bendera-Indon

Oleh: Fauzi Aziz

KITA tahu Tiongkok kini telah menjadi negara yang ekonominya besar di dunia se-kawasan Asia. Kalau sudah besar pasti tidak bakal ingin menjadi kecil kembali. Ji ka pertumbuhan ekonomi Tiongkok di awal kebangkitannya tahun 1980 bisa mencapai sekitar 10% dan kini berada di sekitar 6-7%, adalah hal biasa karena sistemnya sudah terintegrasi dengan ekonomi global.

Negara yang sudah merasa kuat pasti tak mau kehilangan pamornya. Tiongkok telah menjadi negara yang berpengaruh bukan hanya di kawasan, teta pi juga di tingkat global. Politik luar negerinya menjadi bersifat ekspansif karena tidak mau kehilangan pengaruhnya. Kita  diperkenalkan dengan strategi One Belt One Road (OBOR).

Di Laut Tiongkok Selatan (LTS), ia akan menjadi penguasa tunggal. Soal sengketa diacuhkannya karena LTS hakekatnya adalah wilayahnya. Asia Investment Infrastructure Bank(AIIB) dibentuk untuk membiayai proyek infrastruktur Asia dengan mega proyek infrastruktur darat dan maritim sebagai pelaksanaan strategi OBOR.

Inilah sekilas ketika Tiongkok mengusai dunia,yang oleh Martin Jacques ditulis dalam bukunya berjudul When China Rules The World. Menurut proyeksi Goldman Sachs, tiga perekonomian terbesar dunia tahun 2050 adalah Tiongkok disusul AS yang menempel ketat dan India agak jauh di belakang, lalu Brasil, Meksiko, Rusia dan Indonesia.

Berdasarkan nilai kesejarahan di masa lalu, Indonesia dengan RRT pernah bersahabat mesra, sehingga sampai ada istilah “Poros Jakarta Peking”. Hubungan ini kini mesra kembali dengan poros baru, yakni Asean Tiongkok dan Indonesia nampaknya juga mempunyai hubungan spesial dengan Tiongkok sejak pemerintahan Jokowi-JK. Tidak ada yang salah dengan berseminya kembali hubungan kedua negara tersebut. Penulis menyebut hubungan ini sebagai “Poros Jakarta Beijing”. Apakah Tiongkok akan menjelma sebagai kekuatan hegemonik. Secara geopolitik Asia nampaknya Tiongkok akan menempatkan dirinya sebagai kekuatan hegemonik. Tanda-tandanya paling tidak sudah nampak,seperti dengan membangun strategi OBOR dan membentuk AIIB.

Martin Jacquues mengatakan prasyarat untuk menjadi sebuah kekuatan hegemonik, baik di Asia maupun dunia, termasuk kemampuan memimpin imperium formal maupun informal adalah kekuatan ekonomi.

Dalam jangka panjang, setidak-tidaknya begitulah hukum besinya. Kita berharap hubungan Indonesia-Tiongkok berjalan setara.Tidak boleh kita “mengorbankan” kedaulatan NKRI. Tidak boleh pula Indonesia terjebak ke dalam pola hubungan yang bersifat sub-ordinasi karena Indonesia masuk dalam jaringan OBOR.

Hubungan yang terjalin harus mutual recoqnize dan mutual benefit. Indonesia adalah negara besar dan berdaulat penuh. Kita tidak boleh bersifat lembek menghadapi Tiongkok dan ini harus tercermin dalam kebijakan politik luar negeri yang publik wajib mengetahuinya.

Asia bangkit bukan milik Tiongkok, tapi miliknya bangsa-bangsa Asia yang rata-rata adalah sebagai emerging economy, kecuali Jepang dan Korsel yang lebih dulu menjadi negara maju. Indonesia yang mandiri adalah negeri yang tidak menjadi sub-ordinasi dari negara lain yang ekonominya maju.

Indonesia adalah negara yang pantang dijajah dan diintervensi oleh kekuatan asing secara dominan. Indonesia memang tidak bisa sendirian karena Indonesia menjadi bagian masyarakat dunia. Kerjasama politik, ekonomi dan budaya adalah keniscayaan.

Namun tidak mengorbankan kedaulatan¬† dan kepentingan nasional seluruh bangsa. Indo nesia tidak bisa mengambil posisi menjadi “benalu” dengan alasan pragmatis karena kita tidak cukup punya dana dan teknologi untuk membesarkan ekonominya. Pesan ini perlu disampaikan karena Tiongkok nampaknya ingin membangun kekuatan hegemonik.

Pertumbuhan dan dinamisme Tiongkok meluber keluar perbatasannya, menulari banyak negara dan luas cakupannya, dari Laos dan Kamboja hingga Korea dan Jepang. Dari Indonesia dan Malaysia hingga Filipina dan bahkan Australia.

Asia Timur sedang ditata ulang oleh kebangkitan Tiongkok. Agenda kawasan tersebut sedang disusun di Beijing. Selanjutnya disampaikan bahwa cara Tiongkok mengelola kebangkitan dan menggunakan kekuasaannya yang menanjak di kawasan Asia Timur akan menjadi indikator yang sangat penting untuk memperkirakan perilakunya sebagai sebuah kekuatan global.

Dari pandangan tersebut, Indonesia termasuk negara penting di Asia Timur yang penataannya termasuk dalam agenda Beijing. Kita harus menyadari hal ini. Catatan akhir yang disampaikan adalah hingga dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke-19 dalam buku When China Rules the World, dikatakan Tiongkok memegang dominasi regional sangat kokoh.

Kepada Kerajaan Tengah semua kerajaan lain, dalam derajat berbeda-beda tergantung jarak mereka dari Beijing memberikan penghormatan, mengakui status sebagai bawahan Kerajaan Langit. Saat itu yang merentang di sebagian besar kawasan Asia Timur adalah sistem hubungan hirarkis dengan China sebagai pusatnya.(penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar