Jaring Pengaman Sektor Riil, Seberapa Pentingkah?

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

KALAU kita mencoba ikut-ikutan mencermati dengan seksama perkembangan ekonomi nasional, regional dan global, maka kita akan menemukan sebuah paradigma saling ketergantungan antarnegara yang begitu kuat.

Perkembangan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat, di zona Eropa dalam posisi baik atau buruk, bisa menimbulkan sentimen positif dan juga sentimen negatif bagi perekonomian negara lain. Artinya selalu melahirkan efek domino di setiap terjadi gejolak atau krisis ekonomi seperti yang kini terjadi di AS dan Zona Eropa.

Otoritas moneter dan fiskal di setiap negara selalu dibuat tidak bisa tidur karena harus terus mengikuti perkembangan yang terjadi selama 24 jam di saat krisis ekonomi terjadi. Ekspektasi politik dan publik selalu diupayakan untuk bisa diyakinkan bahwa kedua otoritas tersebut sedang bekerja keras untuk merumuskan remedy yang tepat guna menekan resiko injury yang bisa terjadi.

Kalau gagal, dampaknya akan terjadi dis-trust dan ini yang ditakutkan. Amerika Serikat melalui The Fed dengan progam Quantitative Easing-3, mengeluarkan dana senilai US$40 miliar tiap bulan untuk membeli surat utang negara. Progam ini dimaksudkan untuk menekan pengangguran di AS yang saat ini mencapai 8,1 persen agar turun secara berlanjut pada posisi 7 persen.

Begitu pula di Jerman. Atas persetujuan Mahkamah Konstitusi-nya Jerman dibolehkan mendukung The European Stability Mechanism untuk melakukan bailout permanen dengan maksimum limit 190 miliar euro. Semuanya ini dilakukan untuk merecovery pertumbuhan ekonominya di masing-masing negara di AS maupun zona Eropa yang sedang krisis.

Tanpa adanya dukungan kebijakan moneter dan fiskal yang seperti itu, sulit mengharapkan proses recovery-nya dapat mulus berjalan meskipun tidak sepenuhnya dijamin bahwa recovery-nya dapat terjadi sebagaimana yang diharapkan. Negara-negara tersebut memang sudah mempunyai mekanisme untuk mitigasi resiko akibat tsunami ekonomi yang setiap saat dapat menimpa setiap negara di dunia.

Indonesia belum sepenuhnya memiliki mekanisme yang seperti itu karena RUU tentang Jaring Pengaman Sektor Keuangan masih gantung di DPR. Lepas dari itu, apa yang kita bisa cermati bersama bahwa perkembangan ekonomi dunia yang pada suatu waktu tumbuh mencengangkan, tapi di waktu yang berbeda bisa terjadi kondisi yang sebaliknya.

Tata Kelola Yang Buruk

Faktornya adalah tidak terkelolanya sistem finansial yang bisa di-engineer untuk berbagai kebutuhan, termasuk menjadi alat spekulasi seperti layaknya bermain judi. Karena tata kelola yang buruk dari berbagai lembaga keuangan, maka tatkala terjadi gagal bayar (default), kalah kliring dan lain-lain, yang kemudian oleh otoritas moneter dinyatakan bisa berdampak sistemik terhadap sistem perekonomian yang lebih luas di negaranya, maka dilakukanlah kebijakan bailout untuk tindakan penyelamatan.

Kita-kita yang awam terhadap cara kerja lembaga keuangan, pasti paling tidak punya perasaan penasaran kenapa mesti diselamatkan? Tidak adil, wong tata kelola lembaga keuangan yang buruk dan menimbulkan gagal bayar, otoritas moneter dan fiskal di negara bersangkutan dibikin pusing untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Bagaimana kalau impak dari peristiwa tsunami keuangan menghantam dan ikut memporak-porandakan ekonomi di sektor riil seperti sektor pertanian, industri pengolahan menjadi korban dan dengan peristiwa itu menimbulkan kerugian besar dibarengi tindakan PHK sampai kepada kebangkrutan, perlukah mendapatkan perlakuan yang sama dengan lembaga keuangan?

Demi keadilan, harusnya bisa diperlakukan sama. Toh dia melakukan tindakan seperti itu adalah akibat bukan karena masalah internal perusahaan. Oleh sebab itu, pemerintah dan DPR juga perlu memikirkan apakah secara hukum juga dipandang perlu dibuat RUU tentang Jaring Pengaman Sektor Riil yang perannya dalam pembangunan ekonomi suatu negara sama penting dengan peran sektor keuangan.

Pengamanan dari sistem perdagangan sudah ada remedy dan mekanismenya, yang dikenal dengan tindakan dumping, countervailing duty dan safeguard. Tapi pengamanan dari sisi investasi dan produksi rasanya belum ada penangkalnya. Padahal pasar saham dan obligasi swasta yang menyemarakkan adalah para emiten di sektor riil.

Indeks Harga Saham menjadi baik karena kinerja yang baik dari para emitennya yang sebagian berasal dari sektor riil. Inilah yang menyemangati lahirnya opini ini yang oleh SKM Tunas Bangsa (Tubas) dan tubasmedia.com diberi judul “Jaring Pengaman Sektor Riil Seberapa Penting”.

Andaikata mekanisme itu bisa dipertimbangkan, maka hal tersebut bisa menjadi faktor daya tarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya di sektor pertanian, industri pengolahan karena adanya jaminan “proteksi” atas investasi yang sudah dilakukannya.

Para investor di sektor riil juga mendapatkan jaminan keamanan atas investasi yang sudah dibenamkannya seperti halnya investasi yang sudah dilakukan oleh institusi keuangan. Semoga bermanfaat. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar