Jembatan Peyeberangan Jadi Sarang Penjahat

Oleh: Anthon P. Sinaga

Jembatan Peyeberangan

Jembatan Peyeberangan

AKHIR-AKHIR ini tingkat kriminalitas semakin tinggi di Jakarta. Banyak jembatan penyeberangan dijadikan sarang penjahat. Tidak sedikit orang yang hendak menyeberang jalan, menjadi korban penodongan atau perampokan, bahkan korban pembunuhan. Padahal, fungsi utama jembatan tersebut adalah untuk menyelamatkan para penyeberang jalan dari kecelakaan lalu lintas. Rupanya, para pelaku kriminalitas merasa aman beroperasi di atas jembatan yang letaknya tinggi dan dianggap jauh dari pengamatan itu.

Anehnya, pengawasan jembatan penyeberangan ini saling lempar tanggung jawab, padahal biaya pembangunannya cukup mahal. Dinas Perhubungan merasa hanya bertanggung jawab untuk membangun proyek jembatan penyeberangan. Dinas Kebersihan mungkin turut pula untuk menjaga kebersihannya, bila ada sampah berceceran. Tetapi untuk mengawasi keamanan penggunaannya, inilah yang menjadi tidak jelas. Makanya, tidak heran apabila di jembatan penyeberangan banyak pengemis, tukang jualan barang kelontong, tukang jualan obat dengan alat propagandanya, dan bahkan pelaku kejahatan pun menjadikannya sebagai tempat mencari mangsa.

Hari Senin (12/3) dini hari pekan lalu, seorang penyeberang jalan, Aldi Pratama Yara, menjadi korban penodongan di jembatan penyeberangan ke arah pusat perbelanjaan Central Park, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Yara kehilangan tas, dompet berisi uang Rp 200.000, kartu ATM, dan telepon seluler. Jembatan penyeberangan dari halte bus transjakarta di depan pusat perbelanjaaan Central Park itu pada siang hari, memang ramai. Namun pada malam hari, kondisinya sepi.

Ratusan jembatan penyeberangan serupa, dibangun dengan biaya cukup mahal dari APBD DKI. Tujuan mulianya untuk menyelamatkan orang dari korban lalu lintas. Ternyata, menjadi perangkap kejahatan. Hal itulah yang menyebabkan, banyak orang enggan naik jembatan penyeberangan, karena tidak ada jaminan keamanan. Khususnya bagi wanita, tidak hanya khawatir menjadi korban kejahatan, tetapi juga bisa jadi korban pelecehan seksual oleh tangan-tangan jahil.

Selain korban penodongan dan perampokan harta benda, para pemakai jembatan penyeberangan juga tidak jarang menjadi korban nyawa akibat kejahatan penusukan atau pembunuhan. Dikhawatirkan jembatan penyeberangan dijadikan target tempat pembunuhan yang aman, apalagi sekarang ini marak iklan yang menawarkan diri menjadi pembunuh bayaran.

Menurut catatan polisi, tahun lalu seorang pekerja di Plaza Indonesia ditemukan tewas di jembatan penyeberangan Tosari, Jalan M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelumnya, seorang karyawati luka parah diserang dua lelaki saat menyeberang jembatan penyeberangan di depan Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Jembatan penyeberangan di depan Mal Ciputra, Grogol, Jakarta Barat, maupun jembatan penyeberangan di daerah Slipi, juga rawan kejahatan, baik pada pagi hari, siang, mau pun malam hari.

Tampaknya, Polisi hanya menerima laporan korban kejahatan. Untuk itulah masyarakat harus waspada menjaga diri dan berhati-hati menggunakan jembatan penyeberangan di berbagai tempat di Jakarta, terutama pada kondisi sepi dan malam hari. Apalagi, rencana Pemerintah SBY menaikkan harga BBM mulai April nanti, pasti berpengaruh pada peningkatan angka kriminalitas.

Efektifkan Satpol PP

Sesungguhnya, pengamanan jembatan penyeberangan ini adalah tugas Satuan Polisi Pamongpraja (Satpol PP). Selain mengamankan pelaksanaan berbagai Peraturan Daerah, Satpol PP juga harus diefektifkan untuk mengamankan semua proyek-proyek pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebagai petugas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang punya anggaran dari APBD DKI, Satpol PP bisa bertindak untuk menangkap para penjahat tersebut untuk diserahkan kepada polisi, tidak hanya menertibkan pedagang kaki lima atau menggusur bangunan liar. Tampaknya polisi negara sudah terlalu banyak tugasnya, sehingga tak bisa lagi diharapkan mengamankan semua jembatan penyeberangan.

Ada usul, agar ada pemasangan kamera pengawas di jembatan penyeberangan. Akan tetapi, penempatan alat pengintai saja tidak bisa menjadi jaminan, sementara ribuan petugas Satpol PP yang digaji dari APBD bisa dimanfaatkan untuk itu. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono juga mengakui usul pemasangan kamera pengawas itu merupakan ide bagus, tetapi sepertinya tidak semua jembatan penyeberangan bisa dipasangi kamera pengawas, karena jumlahnya cukup banyak.

Memang, pemasangan kamera pengawas di jembatan penyeberangan yang cukup banyak dan terbuka, kelak bisa menjadi sasaran pencurian, yang akhirnya sangat membebani APBD DKI untuk penggantian dan pemeliharaan. Lagipula, setiap proyek pengadaan peralatan, apalagi kamera pengawas yang tergolong canggih, cenderung dijadikan sumber korupsi atau penggelembungan harga (mark-up). Usul yang terbaik, efektifkan saja Satpol PP, agar tugasnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar