Jika Risiko Ekonomi Datang Bertubi-tubi

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, kita berada dalam sirkuit ekonomi yang medannya berat. Pemulihan ekonomi baru saja start, sudah harus injak rem lagi. Tantangan terbaru adalah pelambatan ekonomi China, rencana tappering off AS, dan inflasi global. Episode terakhir tentang pandemi covid 19 nampaknya masih berlanjut. Cuaca ekstrim makin merata terjadi di berbagai belahan dunia.

KEDUA, berbagai risiko yang sudah menjadi berita dunia sebelumnya adalah risiko asset bubbles,price instability, commodity shocks, debt crises, dan risiko geopolitik ( Menteri Keuangan RI, 14/3/2021). Berita terbaru yang ditulis CNBC-Indonesia 17/11/2021, mengabarkan bahwa Menteri Keuangan AS, Janet Yellen memperkirakan AS terancam default dan resesi, jika kongres tidak menyetujui kebijakan menaikkan batas pinjaman pemerintah federal sebelum15/12/2021.Ini sinyal sekaligus ancaman dari pemerintah bagi Kongres.

KETIGA, risiko ekonomi datang bertubi-tubi dan membuat para pemangku kebijakan di pemerintahan dan kebijakan bisnis di tingkat korporasi tidak bisa tidur pulas. Risikonya berat semua dan pilihannya hanya ada dua yakni berenang atau tenggelam.

Dunia dalam berita telah menyampaikan lanskap besarnya. Dan manakala membahas rencana mitigasinya di setiap negara, langsung muncul berapa ongkos penyelamatan yang harus disediakan, serta kecepatan dan ketepatan respon kebijakan sebagai bentuk tindakan mitigasi.

Karena itu, dalam jangka pendek ini para policy makers sesungguhnya hanya punya waktu sempit untuk menyiapkan sejumlah instrumen mitigasi jika risiko itu datang . Berbagai dana cadangan untuk berbagai keperluan tentu harus tersedia di setiap negara. Yang paling makro bisa berupa cadangan fiskal dan moneter.

Trade off bagi Indonesia jelas, yakni di seputar, pendapatan, belanja dan pembiayaan.APBN 2022 Arahnya masih difokuskan untuk mendukung  pemulihan ekonomi maupun kelanjutan penanganan covid 19.

Pendapatan negara ada di kisaran Rp 1840,7 triliun. Belanja negara sekitar Rp 2708,7 triliun. Defisit anggaran sekitar 4,85% atau setara Rp 868 triliun. Pertumbuhan PDB antara 5-5,5% sebagai target tahun 2022.

KEEMPAT, situasi di ruang global tidak sepenuhnya kondusif karena penuh ketidakpastian. Kewajiban keuangan pemerintah pasti berat. Utang belum bisa ditekan dengan melihat angka defisit tahun depan sekitar 4,85%. Harapanya tentu kaidah good governance tidak ditabrak. Demi transparansi dan akuntabilitas , pemerintah dapat menjelaskan tentang semua sumber risiko yang ada, dan rencana mitigasinya agar masyarakat tenang menghadapi kondisi perekonomian di dalam negeri yang saat ini menghadapi ancaman gagal panen, gagal bayar, dan kenaikan harga-harga pada umumnya.

Konflik

KELIMA, risiko lain adalah konflik bilateral antara AS dan China. Istilah yang dipakai oleh Menteri Keuangan RI adalah risiko geopolitik. Isu besarnya persaingan ekonomi, politik/militer dan/atau teknologi, utamanya konflik atau ketegangan yang makin meningkat antara dua negara superpower ekonomi saat ini di dunia.

Ini bukan barang baru. Hal yang menjadi perhatian adalah soal “kepemimpinan global”. Ada lagi yang berpendapat tentang “pergantian penjaga”. Inti soalnya adalah sama seperti ketika dunia mengakomodasi peremajaan Eropa pasca perang, dunia sekarang ini pun harus juga mengakomodasi kekuatan-kekuatan ekonomi Asia  baru yang dimotori China dan India (Kishore Mahbubani).

Mengakomodasi realitas baru itu adalah bahwa dunia memerlukan lembaga-lembaga global dan aturan main baru yang dapat memfasilitasi kebangkitan secara damai negara-negara baru di Asia. Termasuk upaya untuk mereformasi dan merevitalisasi PBB, manajemen sistem perdagangan multilateral, proteksi lingkungan global dan keamanan suplai energi global. Naluri superpower selalu cenderung untuk menjadi pemimpin global yang berpengaruh pada ranah geoekonomi maupun geopolitik.

KEENAM, dari perspektif AS juga sudah terlalu banyak yang kita catat, di antaranya adalah : 1) sesudah perang dunia kedua, AS adalah penggerak utama pembentukan berbagai lembaga multilateral dan global, seperti PBB, IMF, dan NATO yang menjadi saksi bagi kekuasaan dan otoritas global barunya. 2) AS tentu berupaya mencegah munculnya pesaing-pesaing potensialnya seperti China yang sekarang sudah menjadi kenyataan. 3) Hal yang nyata untuk dipertahankan adalah agar dolar AS tetap menjadi mata uang utama dunia dalam transaksi perdagangan global, dan cadangan devisa sebagian besar disimpan dalam USD. 4) Padahal fakta lain mencatat bahwa ketika sektor manufaktur AS mengalami kemunduran dan China tampil menjadi konsumen AS, maka beban ekonomi negeri paman sam tersebut menjadi berat.

Apalagi narasi yang dibangun adalah bahwa China telah membuat fondasi ekonomi AS rapuh karena mengalami defisit perdagangan, defisit neraca pembayaran, dan defisit anggaran yang cenderung berkelanjutan. Belum lagi ada narasi yang juga nylekit, yaitu China sekaligus tampil sebagai investor dan banker untuk konsumen AS.

Jadi jika gambar besarnya seperti itu, maka ketegangan hubungan ekonomi  politik dan militer antar kedua adidaya tersebut sangat mudah difahami konten dan konteksnya, yaitu bersaing dalam perebutan pengaruh. Hubungannya memicu terjadinya perang dingin yang memanas antara kedua negara yang dalam laporan WEF disebut sebagai,risiko ancaman konflik bilateral.

KETUJUH, karena itu, “berdamailah” dengan resiko ekonomi yang cenderung telah menjadi fenomena global yang bersifat permanen. Hikmah di balik itu adalah stabilitas dan pertumbuhan menjadi barang mahal.

Diskursus

Kecakapan, kecekatan dan ketepatan langkah mitigasi menjadi semacam diskursus baru dalam proses policy making. Siapapun terpilih sebagai pemimpin negara atau kepala pemerintahan di negara manapun di dunia , secara nyata mereka akan selalu menghadapi risiko ekonomi.

Ketika risiko itu bergerak tanpa bisa dikendalikan maka pasti akan berubah menjadi ancaman . Dalam cerita Jalen Yellen, maka AS menghadapi ancaman default dan resesi. Dalam case yang lebih umum sifatnya, ekonomi global menghadapi risiko ancaman pelambatan ekonomi China, tappering off, inflasi global, dan cuaca extrim yang dapat menimbulkan gangguan pada rantai pasok global.

Isu lain hampir pasti akan terus datang dan pergi dalam setiap siklus ekonomi/bisnis. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan 3-2021 3,51%.China 4,9%, AS 4,9%, dan UE 3,9%. Di luar itu,Singapura 6,5%, Korsel 4,0%, Vietnam (-6,2%), dan Hongkong 5,4% ( sumber BPS). Triwulan 4-2021 boleh jadi tidak sebagus triwulan 3- 2021 karena berbagai situasi tadi. APBN 2022 , aman , tapi belum tentu sehat karena defisitnya tetap tinggi yang berarti utangnya masih besar. APBN yang sehat adalah yang tidak terbebani utang dalam jumlah yang besar. Utang luar negeri yang tinggi adalah menjadi faktor kritis dalam pemulihan ekonomi. Salam sehat. (penulis adalah pemerhati ikonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar