Jika yang Muncul Badut Politik ?

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERUBAHAN waktu adalah hal yang alamiah dalam satu siklus kehidupan dan kini kita sudah berada di tahun 2017. Tidak ada hal yang luar biasa di setiap pergantian waktu. Namun kita harus bersyukur kepada Sang Pengatur waktu itu sendiri.

Kita bisa beristirihat sejenak. Sesudah itu, kita kembali beraktifitas dalam suasana baru yang notabene akan membawa pikiran-pikiran baru dan amalan-amalan baru yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Kita di Indonesia diramaikan soal keberagaman sehingga menjadi aneh mengapa soal keberagaman ini m eski diramaikan. Yang menjadi soal sebenarnya adalah bagaimana negara dengan seluruh sistemnya dapat menjamin dan menjaga keberagaman itu.

Indonesia sejatinya dihadapkan pada realita bahwa selain kita harus menerima keberagaman,  juga diingatkan agar tidak lupa mengelolanya. Kalau sampai salah urus, keberagaman menjadi sumber konflik. Hal ini menjadi penting disadari oleh para pemimpin bahwa tugas dan tanggungjawab mereka pada dasarnya mengelola keberagaman agar jangan sampai menjadi konflik.

Kalau konteksnya mengelola konflik, ini sama saja menjadi sebuah pengakuan bahwa di Indonesia sedang terjadi banyak konflik dan konflik ini berlangsung akibat keberagaman yang gagal dikelola sebagai sumber kekuatan bangsa.

Penalaran ini yang perlu diluruskan karena selama ini kita banyak dihadapkan pada fenomena yang salah kaprah, percaya pada  manajemen konflik. Padahal sesungguhnya yang tepat adalah manajemen keberagaman dengan tujuan dan misi utamanya adalah untuk mencegah terjadinya konflik.

Memasuki tahun 2017, para pemimpin di Indonesia diharapkan tidak salah kaprah lagi bahwa mewujudkan persatuan dan kesatuan hakekatnya adalah jika para pemimpin berhasil memimpin keberagaman.

NKRI akan tetap utuh bila para pemimpin menjalankan kepemimpinnya berlandaskan pada fatsun bahwa mengelola keberagaman jauh lebih penting daripada mengelola konflik.

Memasuki tahun 2017 kita jadikan momen pelurusan model pendekatan manajemen NKRI dengan penalaran yang lebih pas, mengelola keberagaman, bukan memanajemeni konflik. Sebagai bangsa, Indonesia  tidak pantas untuk saling berkonflik karena alasan keberagaman.

Keberagaman adalah indah dan sebagai anugrah Tuhan, patut disyukuri bersama. Keberagaman jangan pernah mau diubah menjadi keseragaman karena melawan fitrah. Sesuatu yang indah patut kita rawat dengan penuh tanggungjawab supaya tidak rusak sehingga kita tidak bisa lagi menikmati keindahan itu.

Kita berdemokrasi untuk mengindahkan keberagaman dan perbedaan.

Berdemokrasi bukan untuk saling berkonflik dan dikapitalisa si dengan latar belakang perbedaan kepentingan. Para pemimpin Indonesia kita doakan semoga dapat memimpin rakyatnya dengan penuh tanggungjawab karena ada yang mengatakan demokrasi kita sedang goyah.

Mengapa goyah? Karena salah urus. Demokrasi dikapitalisasi untuk membangun oligarki politik, tidak diorientasikan sepenuhnya untuk membangun kemakmuran seluruh rakyat. Kegoyahan terjadi akibat demokrasi dan keberagaman dijadikan “mainan” politik “murahan” yang omong besarnya adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, namun sambil menyelam minum air dipakai untuk membangun trah keluarga atau dinasti polilitik.

Anak istri sampai cucu cucunya divermaak menjadi politisi. Padahal tidak memiliki bakat politik sama sekali, sehingga akhirnya hanya menjadi pekerja politik, bukan politisi kebangsaan yang berkualitas.

Akibatnya gagal menjadi pemimpin politik yang brilian dan bijaksana mengelola keberagaman. Yang muncul adalah “tukang” politik, atau “badut” politik sehingga keberagaman yang dijamin konstitusi dan sistem demokrasi tidak terkelola dengan baik.

Masa depan Indonesia yang majemuk pada akhirnya sangat tergantung pada tokoh pemimpin nasional dan daerah dan kepemimpinannya dalam mengelola keberagaman yang menjadi ciri original bangsa Indonesia.

Kegagalan dalam pengelolaan pasti akan menjadi ancaman keutuhan NKRI. Namun bila berhasil, Indonesia akan memiliki kekuatan inti  membangun masa depan dengan banyak potensi dan talenta. Pun pada masanya akan menjadi banc-mark bagi pengelolaan sistem demokrasi karena dinilai berhasil membangun demokrasi di negeri ini.

Masa-masa indah berdemokrasi tidak boleh terlewatkan begitu saja karena negeri ini gagal mengelola keberagaman, sehingga konflik terjadi dimana-mana.(penulis  adalah  pemerhati masalah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar