Jujur-Ajur

Oleh : Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

AWAM pada umumnya sangat mengerti tentang makna jujur, tapi ajur belum tentu semua faham artinya. Ajur itu bahasa jawa yang maknanya kira-kira hancur. Jujur-ajur adalah judul sebuah puisi para koruptor.

Dibacakannya tidak bersuara tapi hanya dibatin, apalagi sang arsitek, aktor ataupun hanya sekedar disuruh-suruh bilamana sudah mulai dipanggil oleh aparat penegak hukum untuk dimintai keterangan atau saksi. Liriknya yang dinyanyikan dengan suara. keras, yakni hanya tidak tahu, lupa dan tidak ingat.

Yang lain-lain hanya mesem dan dibatin saja. Mbodo Tegal, pura-pura tidak tahu. Lantas kenapa kalau jujur-jujur bukan malah mujur. Kalau mengaku tanpa tedeng aling-aling, pastilah yang bersangkutan akan kena pasal macam-macam dari soal suap, sogok, cuci uang, korupsi dan sebagainya.

Itulah makanya kalau para koruptor berkata jujur maka akibatnya akan ajur, akan hancur, baik bagi dirinya maupun keluarganya. Itu yang ditakuti. Jadi terpaksa dengan berbagai daya dan upaya dia tidak pernah akan berkata apa adanya, apalagi jujur. Bagi orang beriman kepada Tuhan, orang-orang seperti itu pasti akan mengalami perang batin yang maha dahsyat, karena apa yang dikatakan berbeda dengan yang dikerjakan.

Ada unsur kemunafikan di dalamnya dan hal yang demikian yang tahu hanya yang bersangkutan dengan Tuhan. Lain halnya kalau hidup seseorang dipandu oleh hawa nafsunya, maka berperilaku korup biasanya hanya mengejar harta, tahta dan wanita. At all cost. Tapi percalah bagi seseorang yang sedang mendapatkan ujian hidup yang seperti itu siapa pun pasti akan mengalami kegalauan, kecemasan dan kekhawatiran.

Batinnya yakin tertekan berat. Mau jujur mengakui kesalahannya pasti penjara tempatnya (inilah awal petaka yang dihadapi oleh para koruptor, Jujur-ancur). Tidak mengakui kesalahannya akan mengalami perang batin yang berkepenjangan dan berujung terjadinya kegundahan dan pada akhirnya gula darahnya naik, tensinya naik, kolestoral naik, jantungnya ngadat dan sebagainya.

Bagi koruptor barangkali semua bisa dibayar untuk kesembuhannya. Tapi reputasi, nama baik keluarga akan sirna begitu saja dan tanpa disadari semua yang dimiliki terkuras habis. Anak-anaknya ada yang terkena narkoba dan lain-lain yang pada ujungnya juga memerlukan biaya untuk penyembuhannya.

Maka dari itu lebih baik jujur mengakui kalau memang terlibat dalam perbuatan tidak terpuji. Tidak usah sesumbar. Mungkir nggak mau mengakui perbuatannya. Biasakanlah bicara yang sebenarnya bukan sebaliknya. Para penegak hukum kita berikan support moral sebanyak banyaknya agar mereka tegar dan tegas menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Sekarang saat yang tepat untuk memberantasan kezaliman dan menegakkan kebenaran dan keadiIlan. Yang benar adalah yang berperilaku jujur, maka dia akan mujur dan yang tidak jujur merekalah yang akan hancur.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar