Jurnalisme Hati Nurani

Oleh: S Eka Ardhana

Ilustrasi

SETIAP pekerja pers, khususnya wartawan, tentu paham betul apa itu jurnalisme. Tidak hanya sebatas itu, setiap wartawan pun wajib mengerti dan memahami jenis-jenis atau bentuk-bentuk jurnalisme yang ada. Seperti jurnalisme baru, jurnalisme sastra, jurnalisme pembangunan, jurnalisme khas, jurnalisme dramatik, jurnalisme investigative, jurnalisme ‘kuning’ dan yang lainnya.

Alangkah naïf dan ironisnya jika wartawan yang tidak mengerti apa itu jurnalisme dan jenis-jenisnya, (meski tanpa menutup mata hal itu masih ada hingga hari ini). Wartawan yang tidak paham beragam jenis jurnalisme itu, sebaiknya jangan segan-segan untuk mundur saja dari pekerjaannya dan memilih profesi lainnya yang mungkin lebih pas.

Tiap koran atau media pers lainnya punya pilihan sendiri terhadap jenis-jenis jurnalisme itu. Artinya, masing-masing media pers harus memilih jenis jurnalisme mana yang akan digunakannya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat atau dalam kaitan melaksanakan fungsi-fungsi persnya.

Sejumlah media pers ada yang tergoda memilih jurnalisme ‘kuning’. Dan, sejak era Orde Baru dulu hingga kini, banyak media cetak cenderung memilih jurnalisme pembangunan sebagai bentuk jurnalisme pilihannya. Sebagian kecil lainnya memilih jurnalisme khas.

Lalu, apa yang dimaksud dengan jurnalisme hati nurani? Jurnalisme hati nurani adalah jurnalisme yang mengedepankan hati nurani. Artinya, hati nurani sangat berperan besar dalam menentukan kebijakan atau pilihan apakah suatu peristiwa itu layak diberitakan atau tidak.

Jurnalisme hati nurani, jurnalisme yang tidak memihak kepada siapapun. Jurnalisme jenis ini bukanlah jurnalisme partisan, melainkan jurnalisme yang hanya berpihak kepada suara hati nurani, berpihak kepada mereka yang teraniaya, mereka yang tertindas, berpihak kepada korban kesewenang-wenangan serta berpihak pada keadilan dan kebenaran.

Jurnalisme hati nurani adalah jurnalisme yang membenci kesewenang-wenangan, membenci ketidakadilan, membenci kebrutalan dan membenci perilaku yang arogan, anarkis dan vandalisme. Jurnalisme hati nurani bukanlah jurnalisme yang menghujat, bukanlah jurnalisme yang memfitnah, bukan jurnalisme mencerca, mencaci-maki dan bukanlah jurnalisme yang mencemooh.

Jurnalisme hati nurani adalah jurnalisme yang ingin menyingkirkan jurnalisme ragu. Dalam sejarah perjalanan pers nasional, sejumlah media pers cetak di negeri ini sempat dihinggapi jurnalisme ragu. Sebelum era reformasi, penyakit ‘jurnalisme ragu’ memang sudah bertahun-tahun dihidap pers nasional.

Kini, setelah duabelas tahun lebih ‘era kebebasan pers’ berlangsung, sangatlah tepat bila media pers mengembangkan jurnalisme hati nurani dan melupakan jurnalisme kasak-kusuk, jurnalisme desas-desus, jurnalisme gosip, jurnalisme menghujat, jurnalisme fitnah dan semacamnya.

Mari kembali ke hati nurani. Dengan hati nurani, pers akan dapat melihat suatu peristiwa dengan kebeningan jiwa dan kejernihan pikiran. Dirgahayu Pers Nasional!***

Berita Terkait

Komentar

Komentar