Kadar Kalsium Garam Industri Produk Lokal Terlalu Tinggi

JAKARTA, (tubasmedia.com) –  Indonesia disebut masih harus impor garam industri mengingat kadar kalsium dan magnisium garam industri produksi dalam negeri, tidak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan mesin-mesin pengolah makanan dan minuman.

Hal itu dikatakan Dirjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim kepada wartawan di Jakarta, kemarin. Kadar kalsium dan magnisium garam Indonesia kata Rochim berada di atas kadar garam industri impor.

Karenanya, lanjut dirjen, jika garam industri produk dalam negeri digunakan industri makanan dan minuman, mesin pengolah makanan dan minuman tersebut tidak bisa dioperasikan, bahkan mesinnya terhenti tidak mampu menggiling garam yang berkadar kaslium dan magnesium tinggi.

‘’Bahkan jika dipaksakan memakai garam produksi dalam negeri itu, garam berkadar kalsium dan magnesium tinggi tersebut, bisa-bisa akan merusak mesin produksi,’’ katanya.

Menjawab pertanyaan disebut, kadar zat kimia yang berada pada posisi tinggi itu, terjadi karena proses pembuatan garam industri di Indonesia belum memenuhi standar garam industri sehingga masih perlu disempurnakan.

Hingga kini kata Rochim, ada tiga industri pengguna garam industri di Indonesia butuh garam industri sebanyak 270.000 ton setiap tahun dan secara nasional, Indonesia butuh sebanyak 500.000-an ton garam industri setiap tahun.

Terus Mendorong

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto beberapa waktu silam mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan garam industri, pemerintah terus mendorong adanya investasi di sektor produksi garam di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa kita memerlukan investasi yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas garam lokal,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Dengan adanya investasi masuk, akan terjalin sinergi antara sektor industri dengan para petani garam. Di lahan garam yang ada di Desa Nunkurus, NTT sudah masuk investasi sebesar Rp110 miliar. Tahun depan ditargetkan bisa tergarap hingga 600 ha.

“Langkah sinergi tersebut, tentunya akan meningkatkan kesejahteraan para petani garam dalam negeri, sekaligus guna menjamin ketersediaan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi sektor industri,” tuturnya.

Secara keseluruhan, potensi lahan tambang garam di NTT mencapai 60.000 ha dan paling sedikit 21.000 ha dapat direalisasikan dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Dari lahan seluas 21.000 ha tersebut, produksi garam akan mencapai 2,6 juta ton per tahun. Airlangga optimistis, NTT berpotensi untuk menjadi produsen garam industri nasional dan dapat menjadi substitusi impor. “Dengan mengganti garam industri impor, pemerintah akan menghemat devisa,” jelasnya.(sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar