Kalah Terhormat

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

GARUDA Muda, tim kesebelasan nasional (timnas) Indonesia gagal merebut medali emas pada laga Sea Games pekan silam. Lewat drama penalti, setelah perpanjangan waktu 2×15 menit, timnas Malaysia menjebol gawang Indonesia dengan skor 4:3. Namun secara umum, Indonesia berhasil keluar menjadi Juara Umum.

Judulnya memang kesebelasan Indonesia dikalahkan Malaysia. Tapi tidak perlu berkecil hati. Kekalahan kali ini, adalah kekalahan terhormat. Kekalahan yang fair tanpa rekayasa. Karena pada sebuah pertandingan harus ada yang kalah. Indonesia kalah, tapi kalah terhormat. Sekali lagi terhormat karena kali ini tidak unsur judi di dalamnya.

Anak-anak Indonesia yang masih muda belia itu jelas terlihat berlaga sekuat tenaga. Tujuannya hanya satu mengharumkan nama ibu pertiwa NKRI. Mereka belum terkontaminasi dengan kepentingan lain, politik atau duit misalnya.

Perjuangan mereka murni seperti perjuangan para pahlawan kita terdahulu yang telah menghantar negeri ini ke pintu gerbang kemerdekaan. Anak-anak bangsa itu tidak peduli dengan keselamatan dirinya. Perjuangannya jelas dan nyata, ingin menang. Bukan ingin dapat proyek atau bukan ingin korupsi.

Nah, cukupkah kita hanya memuja atau mencimir anak-anak bangsa yang masih seumur jagung itu ? Jawabnya tidak cukup. Kita harus belajar dari perjuangan demi perjuangan anak-anak tersebut. Usia boleh saja masih muda tapi perilakunya lebih-lebih dari orang tua.

Pertanyaannya, adakah koruptor yang menonton pertandingan sepak bola saat itu ? Dan jika ada bagaimana perasaan mereka melihat anak-anaknya atau adek-adeknya yang berjuang mati-matian membela dan mengharumkan nama bangsa.

Teramat beda dengan sikap para koruptor yang hanya memikirkan kantong pribadi dan kantong koleganya. Tim kesebelasan yang mengharumkan bangsa itu terus terang tidak akan pernah ngerepotin negeri ini dan mereka-pun tidak butuh Panja, KPK, Jaksa, Hakim dan Satgas.

Tidak seperti koruptor. Yang membuat resah seluruh bumi pertiwa. Belum lagi ada sejumlah pejabat tinggi yang ikut-ikut membela koruptor karena kepentingan mereka tidak beda.

Sayangnya, anak-anak bangsa pejuang pengharum nama bangsa itu sering luput dari perhatian pengelola negeri ini, sementara kepada koruptor seluruh daya dan upaya dikerahkan.

Bahkan menjemput koruptor ke luar negeri-pun pemerintah rela mengeluarkan uang miliaran rupiah sementara lapangan bola di dalam negeri untuk digunakan melatih para pahlawan, tidak pernah dipersiapkan. Ironis….

Belum lagi kita dengar perdebatan para ahli baik itu bergelar doktor, profesor dan lainnya untuk membahas koruptor, sangat melelahkan rakyat. Tidak satu-pun diantara orang-orang pintar itu yang tidak mengerti hukum. Tapi nyatanya, seperti yang kita lihat sekarang, amburadul.

Beda sekali dengan tim nasional kita. Selain tampil menjadi tontotan yang sangat mengenakkan, mereka membawa nama harus bangsa ke seluruh dunia. Bukan seperti koruptor tadi. Malah masih ada yang status buronan.

Untunglah para atletik nasional kita yang berlaga selama Sea Games tidak terpengaruh oleh kasus pembangunan lapangan Sea Games di Palembang yang kasusnya hingga kini belum jelas dan belum nyata siapa sebenarnya dalang koruptor tersebut. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar