Kapitalisme Politik

Oleh: Edi Siswoyo

ilustrasi

ilustrasi

HANYA satu kata yang ada di dalam hati rakyat pemilih saat ini. Bingung! Mengapa? Ya, soalnya mulai awal pekan ini kampanye Pemilu Legislagtif (Pileg) sudah digelar. Dalam pagelaran itu, calon pemilih disuguhi lambang partai politik (Parpol) dan banyak gambar calon legislatif (Caleg). Meski sudah kenyang dengan alat peragan kampanye tersebut, calon pemilih musti “makan” dan “menelan” slogan kampanye yang ditawarkan.

Berbagai medium promosi itu banyak bertebaran di pinggir jalan, menempel di pagar dan tembok rumah, bertengger di batang dan di atas pohon serta menelusup–melalui televisi–ke dalam kamar tidur.

Banjir alat peraga kampanye dan janji-janji retorik membuat calon pemilih menjadi bingung mau pilih yang mana. Sebab, dalam banjir itu umumnya calon pemilih hanya bisa melihat tapi belum bisa merasakan. hanya tahu tapi tidak mengenal Parpol dan Caleg.

Visi, misi, program Parpol dan Caleg yang ditawarkan pun hamper sama. Tidak jauh berbeda, kalau ada perbedaan–biasanya–sebagai bagian dari budaya “wani piro” (berani berapa). Tentu, semua itu menambah kebingungan yang menyertai langkah penggunaan hak politik dalam pelsakasanaan Pileg 9 April 2014.

Bingung tidak hanya dirasakan calon pemilih namun juga dirasakan oleh Parpol dan Caleg yang akan dipilih. Kebingungan yang terjadi berkakitan dengan sistem Pileg yang digelar dengan semangat liberalisme dan kapitalisme politik. Dalam semangat itu parpol menjadi bingung dan caleg dibuat “linglung”. Caleg-caleg yang gagal menjadi legislator sudah disediakan ruang perawatan di Rumah Sakit Jiwa.

Tampaknya, kebingungan Parpol berkaitan dengan masalah kecenderungan terus meningkatnya jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput (golongan putih) dalam setiap Pemilu di Indonesia. Sedang kebingungan yang membuat “linglung” Caleg karena kebutuhan biaya politik yang besar dan diberlakukanya hukum rimba “siapa kuat dia yang dapat” . Maka, hanya Parpol dan Caleg berkantong tebal yang bisa menjadi pemenang.

Kapitalisme politik telah membuat Parpol bingung, Caleg linglung dan Golput melambung. Budaya “wani piro” menjadi terobosan dan jalan pintas bagi calon pemilih mendapat manfaat, Parpol dan Caleg mengejar kemenangan di tengah krissis kepercayaan rakyat terhadap Popol dan Lembaga Legislatif yang selama ini dikenal masyarakat sebagai produsen koruptor! ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar