Karakter Bangsa telah Bergeser dari Nilai Pancasila

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

PURWOREJO, (Tubas) – Karakter bangsa Indonesia saat ini telah bergeser dari nilai-nilai Pancasila. Hal itu ditandai dengan melemahnya akhlak dan moral, kurang toleransi dalam kehidupan beragama. Rasa kedaerahan sempit, kurangnya rasa kegotong-royongan, dan kurangnya rasa keadilan sosial di masyarakat, kata Femmy Eka Kartika Putri, Assisten Deputi Dikdas, PAUD dan Dikmas, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama pada Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Pernyataan tersebut disampaikan Femmy saat menjadi nara sumber dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Lustrum ke 13 SMPN 2 Purworejo. Seminar digelar dengan tema “Meningkatkan mutu pendidikan melalui pemenuhan standar nasional dan internasional, serta implementasi pendidikan karakter bangsa” dan dibuka Assisten Sekda bidang Administrasi, Umum dan Kesra, Abdurahman. Seminar diikuti guru dan  kepala SD, SMP, SMA/SMK/ Kepala SMP RSBI se-eks Karesidenan Kedu.

Menurut Femmy perlu dilakukan revitalisasi pembangunan karakter bangsa. Dengan pembangunan karakter bangsa diharapkan bangsa Indonesia punya disiplin tinggi, bangsa yang cepat maju, gerakan budaya bersih di ligkungan pemerintah dan masyarakat sampai ke tingkat desa, sehingga akan menjadi gerakan Indonesia bersih.

Femmy dalam makalahnya yang berjudul “Menyiapkan generasi tahun 2045 melalui pembangunan karakter bangsa” menyatakan ada banyak permasalahan bangsa dan negara saat ini. Antara lain disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, serta ancaman disintegrasi bangsa dan melemahnya kemandirian bangsa.

Permasalahan tersebut dapat dilihat dengan semakin lemahnya akhlak dan moral. Hal ini dapat diketahui dengan semakin meningkatknya pornografi dan peredaran vcd porno, pelacuran usia muda, maraknya pengguna narkoba. Masih banyaknya tawuran antar pelajar, mahasiswa, aksi beringas tindak anarkis. Masih merajalelanya hasrat untuk berkorupsi. Rasa kedaerahan yang sempit, kurangnya rasa nasionalisme dan ketergantungan tehadap produk luar negeri. (jhon)

Berita Terkait

Komentar

Komentar