Kasmari, Seniman Pahat di DPR

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Suhu politik di kompleks Dewan Perwakilan rakyat (DPR) Senayan, ternyata tidak mengganggu aktivitas seni Kasmari dalam mencipta karya pahat. Sebagai karyawan di Sekretariat Jenderal (Setjen) DPR, memang bukan tugas utamanya membuat pahatan dari kayu bekas kursi atau meja rusak. “Ini hanya memanfaatkan waktu sambil istirahat dan memanfaatkan limbah kayu, Mas,” kata pria berblankon itu kepada tubasmedia.com ketika ditemui di Senayan, baru-baru ini.

Dengan serius, jari-jarinya menari sambil memegang alat pahat dan palu yang ditempa di kayu jati. Pria berusia setengah abad itu mengakui, bahwa dirinya otodidak belajar memahat, sejak sekolah di kelas lima Sekolah Dasar (SD). “Di kampung saya Jepara, kebanyakan orang belajar sendiri,” katanya.

Kasmari bernostalgia, saat bekerja di toko meubel, awalnya tidak diberi gaji, tapi diberi makan saja. Dari situlah dia mulai mengambil ilmunya. “Baru pada bulan keenam dikasih gaji atau upah. Lantas kita-kita baru bisa mandiri, bikin lemari, pintu. Yang mau ukir, pegang pahat ukir. Yang nggak bisa ukir, tapi ingin cepat mandiri, bisa bikin kusen,” ujarnya mengenang.

Sebagai karyawan di Setjen DPR bagian pemeliharaan gedung (Lihardung), memang dialah yang memegang kunci seluruh gedung yang ada di DPR. “Saya yang pegang kuncinya,” ungkap Kasmari bangga sambil menunjuk ke lemari yang penuh dengan anak kunci. Ia hafal kunci yang ada, karena Kasmari sudah menjadi tenaga honorer dari tahun 1977 dan diangkat PNS mulai tahun 1983.

Jadi saat waktu senggang, dia manfaatkan waktu dengan ketrek-ketrek memahat kayu jati. “Ini saya lakukan dari dulu. Karya saya sudah banyak sekali, nggak terhitung,” ucapnya. Bahkan, sebahagian karyanya telah dikoleksi oleh para anggota Dewan, tanpa mematok harga.

Menurutnya, proses berkarya yang pertama adalah membuat sketsa di atas limbah kertas HVS yang kemudian ditempel di kayu yang akan dipahat. Seusai kertas dilem, proses pemahatan pun dimulai. Setelah itu nanti diplitur atau ada juga yang dicat warna kuning emas. “Kita tidak bisa menentukan waktu selesainya sebuah karya. Kadangkala waktu senggang kita baru ketrek-ketrek, tiba-tiba dipanggil pimpinan, ada kerjaan lain,” cerita Kasmari sambil tertawa.

Pria yang dulu berambut gondrong ini, selalu komitmen dengan karya pahatnya. Contohnya dia selalu mem-planning dahulu tema apa yang akan dibuat. Menurut Kasmari, membuat karya itu bisa memanfaatkan keahlian yang dimiliki, daripada mubazir, dan juga memanfaatkan bahan barang bekas yang nutur-nutur. “Untuk membuat gambar sketsa saja, kita butuh tiga hari. Jadi total kalau karya ukuran 40 cm lebarnya dan 60 cm panjangnya lebih kurang satu minggu selesai,” ujar karyawan seniman berputra empat yang humoris ini. “Rumah saya di Indonesia hahaha, tepatnya di DKI hehehe,” ungkapnya terkekeh saat ditanya alamat tinggalnya. (rudi kosasih)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.