Kebutuhan Gula Industri Makanan Naik

Laporan: Sabar Hutasoit

JAKARTA, (Tubas) – Industri makanan dan minuman dalam negeri tahun ini membutuhkan 2,2 juta ton sampai 2,3 juta ton gula rafinasi untuk keperluan produksi. “Kebutuhan gula rafinasi naik menjadi 2,2 juta ton-2,3 juta ton seiring dengan pertumbuhan industri makanan dan minuman yang tahun ini diperkirakan 10 persen,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Franky Sibarani di Jakarta, Senin.

Di sela acara peringatan ulang tahun ke-59 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Franky menjelaskan selama ini sebagian besar pasokan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman berasal dari produsen gula rafinasi nasional.

“Yang diimpor hanya sekitar 200 ribu ton sampai 300 ribu ton, itu untuk gula rafinasi dengan spesifikasi khusus, misalnya untuk makanan bayi,” kata dia serta menambahkan kebanyakan gula dengan spesifikasi khusus diimpor dari Thailand.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam mengatakan setiap tahun produsen gula rafinasi rata-rata memroduksi antara 2,1 juta ton sampai 2,2 juta ton gula rafinasi dan sebagian besar disalurkan ke industri makanan dan minuman dalam negeri.

Ia mengatakan, untuk menghasilkan gula rafinasi sebanyak itu produsen gula rafinasi butuh mengimpor kurang lebih 2,4 juta ton gula mentah. “Biasanya pemerintah memberikan izin impor sesuai dengan kebutuhan industri. Mungkin tahun ini hampir sama dengan tahun kemarin, kurang lebih 2,4 juta ton juga,” katanya.

Sebelumnya Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Deddy Saleh mengatakan pemerintah telah menetapkan alokasi impor gula mentah bagi delapan produsen gula rafinasi yang terdaftar sebagai importir produsen (IP) gula mentah.

Kedelapan produsen tersebut yakni PT Jawa Manis, PT Sentra Usahatama Jaya (SUJ) PT Permata Dunia, PT Darmala Usaha Sukses, PT Angel Produk, PT Makasar Tene, PT Duta Sugar, dan PT Sugar Ladinda.***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar