Kecap

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

ORANG yang suka omong gede, membual, omong kosong, yang ucapannya tidak sesuai dengan isinya alias menipu disebut ngecap. Mungkin, istilah itu ada hubungannya dengan kecap yang selalu disebut nomor satu. Meski isi tidak selalu sama dengan kulitnya, tidak ada iklan kecap nomor dua atau nomor tiga. Bisa jadi sebutan itu yang menyelinap di kepala para petinggi Partai Demokrat (PD) yang sedang risau oleh ulah M. Nazaruddin sedang “ngecap” dari tempat persembunyiannya.

Lho, koq begitu? Ya, soalnya pesan singkat Short Message Service (SMS) dan Black Berry Message (BBM) mantan Bendahara Umum PD M. Nazaruddin menyebutkan ada sejumlah aliran dana “siluman” kepada sejumlah petinggi PD, banyak diberitakan pers dan ditayangkan televisi. Lantaran itu Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai pers dan televisi telah memojokkan PD. Alasannya, SMS dan BBM dari orang yang menyebut dirinya M. Nazaruddin itu belum dikonfirmasi kebenarannya. Pers juga televisi langsung memberitakannya dan sebagian di antaranya menempatkannya sebagai head line (berita utama). Padahal tersangka penyuapan M. Nazaruddin masih menjadi buronan aparat penegak hukum.

Apa isi SMS dan BBM itu sebagai fakta yang layak diberitakan oleh pers? Jawabannya, bisa ya bisa juga tidak. Masih debatable, tergantung dari sudut mana dan di atas pijak teori apa pers memandangnya. Ketua Dewan Pers Bagir Manan telah menyatakan SMS dan BBM dari M. Nazaruddin itu sebagai fakta yang layak diberitakan dan tidak bertentangan dengan Kode Etik Jurnalitik. “Berita SMS dan BBM dari M. Nazaruddin tidak ada yang bersifat karangan atau bohong. Fakta jurnalistik berbeda dengan fakta hukum,” tegasnya.

Sebuah kenyataan ada pers (surat kabar, majalah dan tabloid) dan televisi di Indonesia yang suka memberitakan fakta yang menyakiti, mendebarkan dan sadistis termasuk kejahatan korupsi. Fakta peristiwa yang aman dan tenang tidak mendapat tempat di halaman pers dan di layar kaca. Fakta juga bahwa pers di Indonesia menjual beritanya sebagai barang dagangan! Pilihan itu salah? Tidak salah juga tidak sepenuhnya benar, tergantung dari sudut mana pers melihat dan pijakan teori yang digunakannya. Kini, pers dan televisi di Indonesia hidup dalam kubangan semangat liberalisme dan kapitalisme.

Suka tidak suka, mau tidak mau, semangat itu mendorong pers memilih kekejaman, sadisme juga kesialan dan keonaran sebagai berita untuk memenuhi selera pembacanya. Memang menarik berita manusia yang suka “makan” sesamanya. Ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu), di pundak pers nasional masih ada fungsi mendidik–juga memberi solusi–terhadap masalah dihadapi masyarakat pembacanya, lho! ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar