Kedigdayaan itu Tidak Permanen

Oleh: Fauzi Azis

Fauzi Azis

Fauzi Azis

CATATAN ini adalah sebuah logika sederhana yang barangkali kita lupa bahwa pertumbuhan itu ada batasnya. Bahkan pertumbuhan bisa silih berganti karena yang bersifat permanen dalam kehidupan di dunia ini tidak pernah ada. Bertumbuh dalam kurun waktu yang panjang bisa saja terjadi asal pilar penopangnya kuat,dan asal perawatannya dapat dilakukan dengan baik dan kontinyu.

Sering melakukan check and re-check apakah seluruh sistem dan sub sistem yang bekerja menopang terjadinya proses pertumbuhan dalam kondisi semuanya baik. Tidak lupa diri ketika kedigdayaan itu ada digenggamannya dan menjadi sombong dan arogan bahwa yang lain tidak boleh menjadi digdaya dan sebagainya.

Ilustrasi tersebut adalah hasil dari sebuah penggambaran suatu keadaan kehidupan yang bisa terjadi dimana saja dan menimpa siapa saja. Mahluk hidup saja bisa mati setelah mencapai usia tertentu karena hampir sebagian besar organ tubuhnya sudah tidak berfungsi karena proses penuaan.

Ini yang alamiah. Ada lagi karena pisik dan mentalnya tidak pernah dirawat, maka mahluk hidup tersebut bisa mati dalam usia muda. Dalam konteks bernegara, masa kejayaanpun bisa saja berakhir. Kedigdayaan tidak akan pernah secara permanen akan menjadi miliknya karena ada negara lain yang muncul sebagai adidaya baru.

Raja bisa jatuh, presiden juga bisa jatuh. Peradaban bisa juga runtuh karena ketamakan dan kesombongan. Tanaman bisa tumbuh dan bisa pula tumbang kalau lingkungannya menjadi tidak seimbang lagi menopangnya. Kini kita bisa melihat bahwa AS dan Eropa selama ini dengan kedigdayaannya menjadi acuan dan sekaligus tempat bergantung bagi sekian banyak negara di dunia menjual barangnya. Ketika ekonominya sekarang sakit, maka efek dominonya ternyata bisa membuat negara lain linglung dan akhirnya ekonominya ikut sakit.

Pertumbuhannya ikut melambat dengan akibat menimbulkan problem sosial yang ditandai dengan meningkatnya kemiskinan dan bertambahnya pengangguran. Tapi anehnya hampir semua negara masih tidak percaya dan berharap ekonomi AS dan Eropa bangkit kembali. Padahal barangkali memang sudah tidak waktunya lagi mereka menjadi tempat bergantung lagi karena mereka sudah papa.

Dan banyak ahli mengatakan kedigdayaan sekarang sudah bergeser dari barat ke timur, yaitu yang selama ini menjadi miliknya AS dan Eropa bergeser menjadi miliknya. Asia. Orang Jawa bilang inilah wolak walike zaman. Kehidupan itu seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Tidak perlu disesali ketika ouput ekonominya sekarang mengecil asal sehat daripada output ekonomi membesar tapi buble dan kemudian meletus door karena ternyata sistem penopangnya sudah keropos.

Out of control, tidak pernah dirawat, salah kelola dan akhirnya balonnya meletus. Bukan hanya ini penyebabnya, ada faktor lain yang menyebabkan ekonomi AS dan Eropa decline, yaitu arogansi dan kesombongan yang membuat mereka lupa diri. Lupa bahwa pertumbuhan ada batasnya. Bahwa yang bersifat permanen itu di muka bumi tidak pernah ada.

Hari ini kita baca di berbagai pemberitaan bahwa meskipun ada tanda-tanda pemulihan ekonomi global setelah krisis ekonomi tahun 2008 ternyata masih ada hal yang patut diwaspadai. AS dan Eropa belum bisa sembuh dari sakitnya. Struktur ekonomi Eropa belum terlalu solid untuk menopang proses recovery.

AS masih terjebak pada kesulitan yang dibangunnya sendiri, yaitu terlilit hutang yang menumpuk dan terbelenggu oleh defisit anggaran yang besar. Salah kelolahkan atau terlalu percaya diri sehingga menjadi lebih besar pasak daripada tiang. Tiba-tiba hutangnya banyak, anggarannya diawur-awur untuk membiaya kepentingan militernya dan demi mempertahankan hegemoninya agar tetap menjadi polisi dunia yang dihormati. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar